Kumparan Logo

Presiden FIFA Dituding Langgar Statuta karena Puji Donald Trump

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FIFA, Gianni Infantino; dan Presiden AS, Donald Trump, bawa trofi Piala Dunia Antarklub 2025 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (14/7) dini hari WIB. Foto: Reuters/Hannah Mckay
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FIFA, Gianni Infantino; dan Presiden AS, Donald Trump, bawa trofi Piala Dunia Antarklub 2025 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (14/7) dini hari WIB. Foto: Reuters/Hannah Mckay

Presiden FIFA, Gianni Infantino, dituduh melakukan pelanggaran terhadap statuta FIFA terkait netralitas. Tuduhan ini muncul setelah Infantino memuji Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, saat berbicara di American Business Forum di Miami beberapa waktu lalu.

Waktu itu, Infantino memberikan pujian kepada Trump, yang juga menghadiri acara tersebut. Salah satunya, Infantino memuji gaya kepemimpinan Trump. Infantino juga menekankan bahwa Trump terpilih sebagai Presiden AS berdasarkan program dan janji-janji yang diucapkannya.

"Pada akhirnya, Trump terpilih berdasarkan programnya, berdasarkan apa yang dia katakan. Jadi, saya pikir kita semua harus mendukung apa yang dia lakukan karena menurut saya itu terlihat cukup bagus," ujar Infantino waktu itu, dikutip dari The Athletic.

Ucapan Infantino tersebut dinilai terlalu berbau politis. Tuduhan pelanggaran aturan netralitas ini dilontarkan oleh Ketua Komite Tata Kelola FIFA rentang tahun 2016-2017, Miguel Maduro.

Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau lokasi KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Statuta FIFA secara eksplisit menyatakan bahwa FIFA harus tetap netral dalam masalah politik dan agama. Menurut Miguel Maduro, pernyataan ini jelas dibuat dalam kapasitas Infantino sebagai presiden FIFA. Maduro berpendapat bahwa Infantino melampaui batas.

"Perdebatan dapat terjadi mengenai sejauh mana kewajiban tersebut harus diperluas ke posisi politik yang diambil ketika pejabat FIFA bertindak dalam kapasitas pribadi. Namun, itu jelas bukan kasus pernyataan yang dimaksud. Itu dibuat dalam kapasitasnya sebagai Presiden FIFA dalam suatu acara yang jelas ia ikuti sebagai Presiden FIFA," tutur Maduro.

"Saya pikir seorang presiden FIFA dapat menyatakan bahwa hasil pemilu harus dihormati. Tetapi Infantino lebih dari itu. Bagian akhir dari pernyataannya melakukan lebih dari sekadar mengakui legitimasi Presiden Trump, itu mendukung program dan tindakan politiknya dan berpendapat orang lain harus mendukungnya juga."

"Dia mengambil posisi dalam apa yang merupakan perdebatan politik internal di AS Untuk melakukan hal itu tampak merupakan pelanggaran yang jelas terhadap tugas netralitas politik yang dibebankan pada setiap pejabat FIFA oleh Pasal 15 Kode Etiknya," sambungnya.

Presiden FIFA, Gianni Infantino; dan Presiden AS, Donald Trump, bawa trofi Piala Dunia Antarklub 2025 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (14/7) dini hari WIB. Foto: Reuters/Hannah Mckay

Komentar Infantino juga muncul pada hari yang sama ketika FIFA mengumumkan pembentukan ‘FIFA Peace Prize’. Infantino mengisyaratkan bahwa penghargaan ini akan diberikan kepada Trump pada drawing Piala Dunia di Washington pada 5 Desember mendatang.

Pelanggaran statuta FIFA dapat memicu penyelidikan dari Komite Etik FIFA, yang merupakan bagian yudisial dan independen FIFA yang bertugas menyelidiki dan mengadili perilaku. Sanksi atas pelanggaran aturan dan regulasi FIFA dapat mencakup peringatan, teguran, denda, pelatihan kepatuhan, dan larangan berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan sepak bola.

Meskipun ada potensi sanksi, saat ini belum ada indikasi adanya penyelidikan terhadap komentar Infantino. Ketika diminta menanggapi tuduhan pelanggaran statuta netralitas politik, FIFA menolak untuk berkomentar.