Kumparan Logo

Presiden La Liga Desak Gianni Infantino Mundur dari FIFA

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau lokasi KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau lokasi KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Presiden LaLiga, Javier Tebas, melontarkan kritik keras terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan menyatakan bahwa masa kepemimpinannya telah berakhir. Tebas menilai manuver Infantino belakangan ini justru merusak esensi dasar sepak bola demi kepentingan segelintir elite, terutama setelah rencana kontroversial mencari investasi swasta untuk Piala Dunia batal terlaksana.

Tekanan terhadap Infantino kian memuncak setelah sejumlah asosiasi sepak bola Eropa, termasuk UEFA dan FA Inggris, mendesak pria asal Swiss tersebut untuk mundur dari jabatannya. Situasi ini diperparah oleh isu tata kelola internal serta ancaman boycott Piala Dunia oleh negara-negara Eropa yang tetap membayangi otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut.

Kritik Keras Tebas Terhadap Visi Infantino

Tebas, yang telah memimpin LaLiga sejak 2013, secara blak-blakan menyebut kepemimpinan Infantino tidak membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola global. Menurutnya, proyek-proyek yang diusung FIFA di bawah arahan Infantino justru mengancam kelangsungan liga domestik yang menjadi fondasi olahraga ini.

“Bagi saya, era Gianni Infantino sudah lama berlalu,” ujar Tebas dalam wawancaranya dengan media Prancis, Le Monde. Ia menegaskan bahwa pandangannya ini bukan sekadar reaksi sesaat atas konflik terbaru, melainkan hasil pengamatannya terhadap gaya kepemimpinan Infantino selama bertahun-tahun.

Tebas menambahkan, “Gianni Infantino bukanlah sosok yang berkontribusi pada pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyeknya menghancurkan esensi olahraga ini.”

Pusaran Skandal dan Desakan Mundur

Gelombang desakan agar Infantino mundur dipicu oleh rencana FIFA untuk menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan masif. Infantino sendiri telah menyampaikan permintaan maaf kepada asosiasi anggota terkait proses penyusunan rencana tersebut, namun hal itu tidak meredakan ketegangan politik di Eropa.

Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan saat sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Selain masalah komersialisasi, reputasi Infantino juga dihantam isu pembayaran pesangon oleh UEFA kepada seorang mantan staf perempuan yang diduga memiliki hubungan khusus dengannya saat ia masih menjabat sebagai sekretaris jenderal badan sepak bola Eropa tersebut. Meski Infantino membantah keras tuduhan itu, tekanan publik dan organisasi tetap berada di titik tertinggi.

Tuntutan Reformasi Total Sistem FIFA

Bagi Tebas, mundurnya Infantino hanyalah langkah awal dari perubahan besar yang dibutuhkan oleh sepak bola dunia. Ia menyoroti lemahnya kebijakan tata kelola di dalam tubuh FIFA yang dinilai sudah mengakar sejak lama, bahkan jauh sebelum krisis ini mencuat ke permukaan.

Tebas berharap suksesi kepemimpinan di masa depan tidak sekadar mengganti figur di pucuk pimpinan, melainkan membawa reformasi sistemik yang nyata. “Sistem lama bisa tetap bertahan bahkan ketika orang-orangnya berubah. Mari kita berharap perubahan nyata benar-benar terjadi, pemimpin baru mendarat, dan tata kelola baru ditegakkan di FIFA,” pungkasnya.