Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Raheem Sterling dan Bob Marley: Sepak Bola Adalah Kemerdekaan
15 Agustus 2018 9:14 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:07 WIB

ADVERTISEMENT
Bila ada satu hal yang paling gencar mencoba untuk meredupkan cerlang Raheem Sterling, maka itu adalah pemberitaan media Inggris.
ADVERTISEMENT
Dalam wawancara yang tayang di The Guardian, Ian Wright bahkan menjelaskan bahwa Sterling adalah korban rasialisme dan diskriminasi. Pernyataan Wright tak berlebihan karena sejumlah media Inggris begitu gemar mencecar Sterling.
Punya tato bergambar senapan di kaki, ia dituduh sebagai pendukung gerakan kepemilikan senjata api. Malahan, orang-orang itu meminta Sterling untuk segera menghapus tato di kakinya tadi. Itu belum seberapa. Membelikan wastafel baru untuk ibunya saja, ia langsung diolok-olok sebagai orang kaya baru yang gila pamer.
“Kritik tentang sepak bola adalah hal yang harus dihadapi setiap pemain. Tapi, saya pikir, apa yang diterima Sterling tak ada kaitannya dengan sepak bola. Kritik-kritik mereka menjadi tidak masuk akal karena tidak dilakukan di dalam koridor yang benar. Mungkin, mereka mempunyai rencana untuk menjatuhkan Sterling,” tutur Wright.
ADVERTISEMENT
Media menggonggong, Sterling berlari. Ia tetap menendang bola dari satu lapangan ke lapangan lain. Tiap kali kakinya menyentuh bola, barangkali yang melonjak dalam diri Sterling adalah kesenangan yang murni. Kebahagiaan yang tak bakal dimengerti oleh mereka yang mulutnya tak bosan-bosan mengumbar sumpah-serapah.
I remember when we used to sit in the government yard in Trenchtown. Oba, observing the hypocrites as they would mingle with the good people we meet.
Kembali ke 18 tahun lampau, Sterling memang tak terbiasa berdekatan dengan kemudahan. Waktu itu, usia Sterling masih lima tahun. Bersama ibu dan kakak perempuannya, Sterling pindah ke London dan bertaruh nasib.
Sebagai anak yang ditinggal mati ayahnya saat masih berusia dua tahun, Sterling harus ikut membantu ibunya yang kala itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih hotel. Bersama kakak perempuannya, Sterling sering menolong ibunya untuk membersihkan kamar-kamar tamu. Tak jarang pula sepasang kakak-beradik ini terlibat pertengkaran. Penyebabnya sederhana, keduanya enggan membersihkan toilet tamu.
ADVERTISEMENT
Sterling terkenal sebagai anak bandel di sekolahnya. Jam istirahat menjadi waktu favoritnya karena cuma di waktu itulah ia bisa bermain sepak bola. Sterling belum punya urusan apa-apa dengan hasrat menjadi pesepak bola profesional.
Baginya, sepak bola tak lebih dari sekadar permainan. Di benak bocahnya, perkara tendang-menendang bola ini tak lebih dari sebentuk nostalgia yang menjaga ingatannya akan tanah kelahiran, Jamaika.
Namun, itu cerita lama, sebelum palu nasib menjatuhkan vonis berbeda.

Perjumpaan Sterling dengan seorang pengasuh anak yatim bernama Clive Ellington yang entah bagaimana caranya memiliki klub sepak bola untuk anak-anak, mengubah sudut pandangnya tentang si kulit bundar. Dari sepakan demi sepakan, lewat gol demi gol, Sterling menyadari bahwa sepak bola adalah kehidupan tersendiri, ranah yang lain, jagat yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Along the way, in this great future, you can't forget your past. So, dry your tears.
Sepak bola adalah kemerdekaan. Kalimat singkat itu menjadi salah satu omongan paling populer yang pernah keluar dari mulut Bob Marley yang juga berasal dari Jamaika.
Kemerdekaan adalah perkara mewah bagi orang-orang Jamaika. Sejarah dengan gamblang bercerita bahwa negara kepulauan itu tak melulu tentang keindahan alam, tapi juga kemerdekaan yang tercabik.
Jamaika pada awalnya adalah pulau yang digunakan sebagai tempat pembuangan budak-budak paling liar. Dengan pemahaman sejarah yang demikian, Marley bernyanyi dan melahirkan musik. Perhatikanlah lirik-lirik lagunya yang hampir semua bercerita tentang penolakan untuk takluk pada perbudakan.
Sterling bukan Marley. Tapi, keduanya berkawan karib dengan sepak bola yang memberi mereka sebentuk kemerdekaan paling nyata. Tidak sulit untuk menemukan video yang mempertontonkan tingkah polah Marley saat bermain sepak bola.
ADVERTISEMENT
Di sela-sela tur, ia bermain bola dengan ceria. Giringan bolanya liar. Tak ada atraksi yang dibangun oleh tubuh atletis. Permainannya kalis dari strategi rumit dan aturan yang membikin kepala pening.
Langkahnya saat melewati lawan sampai mencetak gol terlihat pendek-pendek, seolah berbicara bahwa sering kali, perjalanan seseorang untuk sampai ke tujuan bukan langkah yang lebar dan mantap.

My feet is my only carriage and so I've got to push on through.
Ketika Manchester City mendatangkan Sterling seharga 40 juta poundsterling, Liverpool untung bukan kepalang. Di Liverpool, Sterling tak lebih dari sekadar pemain muda sarat sensasi.
“Sterling memiliki kemampuan untuk melakoni laga satu lawan satu, menyerang, bersikap agresif. Saya percaya, ia bisa melakukan hal-hal yang diharapkan tim,” seperti itu Josep Guardiola menggambarkan kesan yang ditangkapnya di awal-awal kedatangan Sterling.
ADVERTISEMENT
Kaki Sterling adalah anugerah. Tapi, anugerah juga perlu dirawat agar tak melulu menjadi bakat mentah. Dengan bakatnya itu, Sterling bisa memenangi permainan sepak bola jalanan mana pun. Namun, Premier League tak sama dengan sepak bola jalanan. Bakat saja tak cukup sehingga Sterling harus bekerja keras dan mengolah bakat hingga matang.
Sebagai orang Catalunya, Guardiola tahu benar seperti apa rasanya terkungkung. Dengan taktiknya yang merupakan penyempurnaan dari pemikiran Johan Cryuff, Guardiola membawa Barcelona menjadi raja atas sepak bola Eropa.
Yang ada di hadapan Guardiola adalah bocah terpenjara. Sterling bukan tawanan perang atau politik, tapi ada belenggu yang menghambat laju kakinya untuk menjadi pesepak bola papan atas. Belenggu di kaki Sterling itu macam-macam. Salah satunya adalah ketidakefektifan menuntaskan serangan.
ADVERTISEMENT
Bila diperhatikan semasa di Liverpool dulu, menembak tidak pernah menjadi keahlian Sterling. Maka, Guardiola meminta Mikel Arteta secara khusus untuk memberikan latihan menembak kepada Sterling.
Jam-jam latihan si bocah Jamaika berjalan lebih panjang dan rumit. Tapi, penyakit akut memang butuh penanganan lebih. Sterling menurut, ia sadar bahwa menjadi manusia merdeka tak sama dengan manusia tak tahu aturan.
Ketidakefektifan Sterling menjadi salah satu pekerjaan yang harus dituntaskan oleh Guardiola. Kecenderungannya, Sterling akan ada dalam posisi membelakangi gawang saat menerima bola.
Bila sudah demikian, maka cara untuk menembak adalah menyentuh bola banyak-banyak, dan membalikkan badan sambil menghadapi risiko ditekan lawan. Alhasil, tendangannya jadi tak efektif. Itu kalau sempat menendang. Kalah cepat sedikit saja, bola akan berhasil direbut lawan.
ADVERTISEMENT
Yang diajarkan Guardiola adalah hal sederhana, tapi penting. Ia mengajari Sterling pemahaman akan ruang sehingga tahu benar bagaimana caranya mengancam lawan dalam satu atau dua sentuhan.
Upaya Guardiola berhasil. Sterling menjadi salah satu pemain kepercayaannya di sepanjang musim 2017/18. Ia bahkan menjadi salah seorang penembak jitu di City, gelar yang tak pernah direbutnya di Liverpool dulu. Sterling mencetak 18 gol di Premier League 2017/18 atau menjadi yang terbanyak kedua di timnya setelah torehan 21 gol milik Kevin De Bruyne.
Musim berganti ke 2018/19, kepercayaan Guardiola tak juga luntur. Di laga perdana melawan Arsenal di Emirates Stadium, Guardiola lebih memilih untuk memainkan Sterling ketimbang Leroy Sane yang sudah dinyatakan fit.
ADVERTISEMENT
Di laga itu, Sterling kembali membuktikan bahwa kakinya sudah merdeka dari belenggu. Satu sepakan dari luar kotak penalti membidani kelahiran gol pertama City di Premier League 2018/19.
“Kami senang dan ingin Raheem (Sterling) bertahan. Kami akan membuatnya percaya bahwa kami benar-benar mengandalkan dia. Publik hanya menilai pemain atas gol yang mereka cetak di Piala Dunia, tetapi Raheem punya hubungan khusus dengan sepak bola Inggris, dia sangat dicintai di ruang ganti.”
“Dia melakukan beberapa hal yang sangat bagus di Piala Dunia, bergerak dengan baik, dan menciptakan ruang untuk orang lain. Dia suka mencetak gol dan dia berusaha,” demikian cara Guardiola memuji anak didiknya yang satu itu.
Bersama City, Sterling bermain sebagai wide forward yang kerap mengemban tugas untuk menusuk dan berada dalam kotak penalti. Tak jarang pula ia menyisir area tepi untuk kemudian melepaskan umpan atau melakukan manuver yang diakhiri dengan tembakan.
ADVERTISEMENT
Karena itulah, dalam statistik yang dihimpun WhoScored pada musim 2017/18, Sterling punya rata-rata 2,6 tembakan per laga (tertinggi kedua di City), serta memiliki 1,9 dribel (tertinggi ketiga), dan 1,7 umpan kunci (tertinggi keempat) per laga.
Raheem tak hanya mencetak gol, tapi memberikan ruang bagi kawan-kawannya untuk mencetak gol. Di atas lapangan bola ruang adalah kemerdekaan. Tak peduli sehebat apa pun kemampuanmu, tanpa ruang kau tak akan mencetak gol. Tak mau tahu selincah apa pun pergerakanmu, tanpa ruang kau tak akan bisa mengecoh lawan.
Di sepanjang laga, Sterling tak hanya menikmati kemerdekaan sendirian, tapi membagikannya kepada tim, memberikan ruang kepada teman-temannya untuk bebas dari belenggu yang diikatkan lawan.
Lapangan bola adalah medan pertempuran antara ego dan kolektivitas. Siapa yang menang, bergantung pada isi kepala masing-masing. Dan Sterling memenangkan hal kedua.
ADVERTISEMENT

Oh, while I'm gone, everything's gonna be alright.
Nyawa Marley sudah habis sejak 1981 lalu. Ia dikuburkan bersama Alkitab, segenggam ganja, gitar Gibson Les Paul, dan sebuah bola. Barangkali, keempat benda itulah yang paling setia menemani Marley saat ia hidup dan merebut kemerdekaan sekeping demi sekeping.
Berbeda dengan Marley, karier Sterling belum menemui batas akhir. Musim 2018/19 dengan segala kompetisi yang harus dimenangi City bahkan masih ada di lembaran awal. Entah sederas apa cemooh yang bakal diterimanya di sepanjang musim.
Namun, seperti yang sudah-sudah, barangkali Sterling akan tetap baik-baik saja. Ia tetap berlari, menendang bola, mencetak gol, dan bukannya tak mungkin mengangkat trofi kemenangan.
Tak peduli segaduh apa orang-orang itu berteriak, Sterling akan tetap menyelesaikan urusannya, lantas merdeka dari segala perkara tak penting. Dan kabar baiknya, siapa pun bisa menjadi seperti Sterling.
ADVERTISEMENT
***
Catatan editorial: Kalimat bercetak miring adalah penggalan-penggalan lirik dari lagu No Woman, No Cry yang diciptakan oleh Vincent Ford dan Bob Marley.