Kumparan Logo

Reaksi Apik yang Membuahkan Kemenangan bagi Prancis

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beda ekspresi pemain Prancis dan Argentina. (Foto: REUTERS/Pilar Olivares)
zoom-in-whitePerbesar
Beda ekspresi pemain Prancis dan Argentina. (Foto: REUTERS/Pilar Olivares)

Dalam sebuah pertandingan, reaksi sebuah tim terhadap sebuah situasi lazimnya menentukan hasil akhir. Hal ini tercermin dalam laga babak 16 besar yang mempertemukan Timnas Prancis dan Timnas Argentina.

Bertempat di Kazan Arena, Sabtu (30/6/2018) malam WIB, Prancis dan Argentina saling beradu untuk memperebutkan satu tiket lolos ke babak perempat final. Dalam pertandingan tersebut, Prancis keluar sebagai pemenang usai mengandaskan perlawanan Argentina dengan skor akhir 4-3. Kylian Mbappe jadi bintang lewat 2 gol.

Memang secara permainan, Argentina lebih menguasai jalannya laga dibandingkan Prancis. Secara persentase penguasaan bola, mereka unggul dengan persentase 60% (berbanding 40% milik Prancis). Dari segi tembakan yang diciptakan, mereka juga unggul dengan total 10 tembakan (berbanding 9 tembakan milik Prancis).

Meski unggul secara permainan, Argentina pada akhirnya gagal meraih kemenangan. Ada satu sebab yang membuat Argentina gagal meraih kemenangan: reaksi mereka yang kurang apik. Reaksi mereka acap tidak tepat, terutama ketika sudah unggul 2-1 atas Prancis di babak kedua.

Pada pertandingan ini, ada satu titik ketika Argentina mampu unggul skor atas Prancis. Itu terjadi ketika Gabriel Mercado mampu mencetak gol kedua untuk Argentina pada menit ke-48. Argentina unggul dan kesempatan mereka untuk menang terbuka lebar lewat keunggulan tersebut.

Dalam sisa laga, Prancis menunjnukkan respons apik. Mereka mengubah mode dari bertahan menjadi menekan Argentina. Hasilnya, Les Bleus langsung menyamakan kedudukan via Benjamin Parvard pada menit ke-57.

X post embed

Kurun delapan menit dari gol kedua Argentina sampai skor kembali imbang, Prancis mampu menguasai laga dan menebar ancaman. Kuasa permainan diambil alih pasukan Didier Deschamps dengan catatan 78% berbanding 22% milik Argentina. Umpan-umpan juga lebih banyak dilakukan Prancis, dengan total persentase keberhasilan mencapai 84%.

Berkat tekanan apik yang mereka lakukan dalam rentang waktu 9 menit tersebut, Prancis mampu menyamakan kedudukan. Usai menyamakan kedudukan, Prancis kembali melakukan reaksi yang apik. Mereka melihat situasi. Menyesuaikan diri dengan Argentina yang tersulut, Prancis kembali bermain defensif, seperti halnya di babak pertama, dan mencetak dua gol lewat sepakan Mbappe hasil dari serangan balik.

Meski pada akhirnya Argentina mampu mencetak satu gol yang memperkecil ketertinggalan lewat Sergio Aguero, semua sudah terlambat. Argentina kalah. Prancis melaju ke babak selanjutnya.

***

Sekilas, tampak bahwa kekalahan Argentina atas Prancis ini adalah buah dari mudaratnya penguasaan bola Argentina. Hal itu tidak salah karena pada akhirnya penguasaan bola Argentina yang dominan ini membuat garis pertahanan mereka meninggi. Celah yang ada akhirnya dapat dieksploitasi oleh lawan.

Namun, pilihan untuk menunggu dan menginisiasi dalam sebuah permainan merupakan pilihan tim itu sendiri. Sejak awal laga, Prancis memang sudah memilih untuk bermain defensif. Hal ini mereka pilih karena tertekan oleh penguasaan bola Argentina. Atau, jangan-jangan Deschamps memang sengaja karena mengincar ruang kosong di belakang garis pertahanan tinggi Argentina.

Aspek lain yang patut disorot adalah reaksi kedua tim dalam beberapa situasi yang terjadi di pertandingan. Prancis sudah melakukan reaksi yang tepat ketika tertinggal oleh gol Mercado. Mereka menekan sekuat mungkin, mendahului inisiatif Argentina yang mungkin juga ingin menguasai laga kembali usai unggul via gol Mercado. Reaksi tepat inilah yang akhirnya menentukan hasil laga.