Kumparan Logo

Samuel Eto'o: Gol Pertama dan Tahun-tahun Indah di Mallorca

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Samuel Eto'o membela Real Mallorca pada 2003. Foto: AFP/Oscar Pipkin
zoom-in-whitePerbesar
Samuel Eto'o membela Real Mallorca pada 2003. Foto: AFP/Oscar Pipkin

Samuel Eto'o tidak mengakhiri kariernya dengan cara yang impresif. Setelah sempat berkelana di Turki selama tiga tahun, Eto'o hijrah ke Qatar pada 2018 dan gantung sepatu setahun sesudahnya. Pada musim terakhirnya sebagai pemain profesional, dia hanya mampu mencetak 6 gol dari 17 partai untuk Qatar SC.

Ketika Eto'o pensiun, publik sepak bola seperti sudah melupakan namanya. Bahkan, tak mengherankan jika ada yang tidak tahu dia masih bermain sampai musim 2018/19 lalu karena memang masa kejayaan Eto'o praktis berakhir pada 2014 silam di Chelsea.

Dari 2015 sampai 2018, Eto'o memang sempat menemukan ketajaman ketika memperkuat Antalyaspor di SuperLig. Namun, harus diakui bahwa pamor liga sepak bola Turki berada di bawah kompetisi-kompetisi yang sebelumnya pernah dijajalnya.

Itulah mengapa, Eto'o jadi seperti sosok terlupakan di pengujung kariernya. Meski begitu, mustahil untuk melupakan kehebatan sang penyerang di masa jayanya dulu. Bersama Barcelona dan Internazionale, Eto'o pernah berada di puncak dunia.

Pesepak bola legendaris Kamerun, Samuel Eto'o. Foto: Josep LAGO / AFP

Tujuh musim lamanya Eto'o membela dua klub tersebut dan 14 trofi berhasil diraupnya. Di Inter, pria kelahiran Douala itu bahkan sukses mempersembahkan trigelar pada 2010. Sampai sekarang belum ada lagi tim Italia yang bisa menyamai prestasi tersebut.

Puncak karier Eto'o memang diraih bersama Barcelona dan Internazionale tetapi kehebatannya sudah tampak jauh sebelum itu, tepatnya saat dia bermain untuk Real Mallorca pada peralihan milenium.

Eto'o pertama kali memperkuat Mallorca sebagai pemain pinjaman dari Real Madrid pada 2000. Ya, Real Madrid adalah klub yang menemukan Eto'o. Namun, mereka sama sekali tidak pernah memetik manfaat dari keberadaan sang penyerang.

Eto'o bergabung ke La Fabrica pada 1997 dan langsung ikut berlatih bersama Real Madrid B yang kala itu berlaga di Divisi Dua. Akan tetapi, karena Real Madrid B terdegradasi ke Divisi Tiga pada akhir musim 1996/97, Eto'o kemudian dipinjamkan ke Leganes.

Praktis, sejak saat itu Eto'o hampir tak pernah lagi bermain untuk Real Madrid kecuali pada tiga kesempatan di paruh pertama musim 1999/2000. Pada awal 2000, Eto'o dipinjamkan ke Real Mallorca yang saat itu masuk golongan elite sepak bola Spanyol.

Samuel Eto'o saat bermain di Real Mallorca pada 2003. Foto: Getty Images/Ben Radford

Hector Cuper ketika itu sudah hengkang dari kursi kepelatihan. Akan tetapi, spirit yang dibawanya masih bertahan. Bersama Cuper, klub asal Pulau Balearic itu berhasil menjadi juara Copa del Rey 1997/98 dan lolos ke final Piala Winners terakhir tahun 1999.

Setelah itu Cuper pindah ke Valencia dan Vazquez menjadi suksesornya di Mallorca. Namun, para aktor kunci keberhasilan di era Cuper seperti kapten Javier Olaizola, kiper Carlos Roa, gelandang bertahan Vicente Engonga, dan pengatur serangan Ariel Ibagaza masih bertahan.

Selain itu, pada musim 1999/2000 juga, Mallorca mendatangkan sejumlah pemain berkualitas lain, mulai dari Miguel Angel Nadal sampai Bisan Lauren. Kekokohan skuat Mallorca pun terjaga.

Ekosistem seperti itulah yang didatangi oleh Eto'o. Sebagai kuda hitam, Mallorca adalah tim yang tepat untuk mengasah ketajaman seorang striker muda berbakat seperti dirinya. Persaingan dalam tim tidak terlalu berat tetapi pemain-pemain yang jadi pesaing pun punya cukup kualitas.

Selain itu, Mallorca juga pada musim tersebut kehilangan Dani Garcia yang hijrah ke Barcelona. Tanpa Dani, Mallorca harus bertumpu pada dua pemain yang baru saja dipromosikan dari Mallorca B: Diego Tristan Herrera dan Daniel Guiza.

video youtube embed

Di antara dua muka baru itu, Tristan-lah yang lebih berhasil. Dia berhasil mencuri hati Vazquez dan jadi andalan di lini depan. Akan tetapi, satu striker saja tak cukup buat Mallorca dan itulah mengapa pada bursa transfer musim dingin mereka mencari juru gedor anyar.

Masuklah Eto'o yang pada paruh kedua musim 1999/2000 itu dipercaya tampil 13 kali di La Liga. Dari 13 penampilan tersebut, Eto'o berhasil mencetak 6 gol. Pada 2 April 2000, gol pertama Eto'o untuk Mallorca, sekaligus gol pertamanya di ajang La Liga, lahir dalam laga melawan Espanyol.

Bertanding di Son Moix, Eto'o mencetak gol pada menit ke-7. Mallorca sendiri akhirnya kalah 1-3 dalam pertandingan tersebut. Akan tetapi, bagi Eto'o sendiri, gol perdana di La Liga itu menjadi pelecut semangat yang luar biasa sehingga bisa mengemas lima gol tambahan setelahnya.

Penampilan cemerlang Eto'o di paruh kedua musim 1999/2000 itu akhirnya membuat Mallorca yakin untuk merekrutnya secara permanen dari Real Madrid. Dengan mahar 4,4 juta poundsterling, Eto'o yang baru berusia 19 tahun, resmi menjadi pemain termahal dalam sejarah Los Bermellones.

Eto'o kemudian menghabiskan empat musim lagi di Mallorca sebelum menerima pinangan Barcelona pada 2004. Total, Eto'o bermain dalam 154 pertandingan untuk Mallorca dan berhasil mencetak 66 gol plus 7 assist.

video youtube embed

Prestasi terbaik Eto'o datang pada musim 2002/03 ketika dia mengantarkan Mallorca menjadi juara Copa del Rey. Pada tahun itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, trofi Copa del Rey terbang ke luar daratan Spanyol.

Keberhasilan Mallorca menjadi juara Copa del Rey 2003 itu tak bisa dipisahkan dari penurunan yang dialami oleh Real Madrid dan Barcelona. Bahkan, pada masa itu, klub-klub seperti Valencia serta Deportivo La Coruna bisa menjadi juara liga dan tim-tim macam Real Betis, Celta Vigo, serta Real Sociedad bisa bersaing di papan atas.

Mallorca sendiri sukses menduduki peringkat tiga klasemen La Liga pada musim 2000/01 di bawah asuhan Luis Aragones. Sepeninggal Aragones, Mallorca sedikit kewalahan di liga tetapi berhasil menguci gelar Copa del Rey bersama Gregorio Manzano.

Dalam perjalanan meraih trofi tersebut Mallorca sukses menyingkirkan dua tim tangguh di babak perempat final dan final. Real Madrid mereka hajar 5-1 dalam dua leg perempat final, kemudian Deportivo La Coruna mereka taklukkan dengan skor agregat tipis 4-3.

Di final sendiri, Mallorca mendapatkan lawan muda bernama Recreativo Huelva. Ketika itu, Recreativo terdegradasi dari La Liga tetapi secara mengejutkan bisa menyingkirkan Atletico Madrid dan Osasuna. Hanya, ketika sudah berhadapan dengan Mallorca di final, mereka betul-betul tak berdaya.

kumparan post embed

Pada musim 2002/03 itu, Eto'o mendapat tandem hebat dalam diri Walter Pandiani yang dipinjam dari Deportivo La Coruna. Duet striker ini disokong pemain-pemain seperti Ibagaza, Alvaro Novo, Albert Luque, serta Albert Riera.

Eto'o dan Pandiani sendiri menjadi topskorer bersama Mallorca pada musim tersebut, di mana mereka masing-masing mencetak 14 gol. Di final Copa del Rey pun dua striker itu sama-sama sukses membobol gawang Recreativo. Pandiani mencetak satu gol, Eto'o mengemas dua gol.

Sampai akhirnya, pada 2004, Eto'o jadi terlalu besar untuk sekadar bertahan di Mallorca. Kebetulan, Barcelona saat itu juga sedang melakukan renovasi besar-besaran di skuatnya. Patrick Kluivert, striker andalan mereka sejak 1998, dilepas ke Newcastle United.

Sebagai gantinya, Eto'o didatangkan. Menyandang status sebagai topskorer sepanjang masa Mallorca di La Liga (54 gol), harga Eto'o sudah naik empat kali lipat. Meski harus mengeluarkan dana 24 juta poundsterling untuk mendapatkan Eto'o, nyatanya Barcelona tak keberatan. Dengan begitu, berakhirlah kiprah Eto'o di Palma de Mallorca.

***

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!