Kumparan Logo

Senandung ‘Benci untuk Mencinta’ dari Sarri untuk Lini Serang Chelsea

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Manajer Chelsea, Maurizio Sarri. (Foto: Reuters/John Sibley)
zoom-in-whitePerbesar
Manajer Chelsea, Maurizio Sarri. (Foto: Reuters/John Sibley)

"Dan aku tak tahu apa yang terjadi

Antara aku dan kau

Yang ku tahu pasti

Ku benci untuk mencintaimu."

***

Andai Maurizio Sarri seorang milenial, kami bayangkan dia akan mem-posting bagian salah satu tembang terpopuler Naif, “Benci untuk Mencinta”, ini dalam Instagram Story-nya. Lengkap dengan sedikit curhatan dengan ukuran huruf yang hanya bisa dilihat semut.

Namun, Sarri tak masuk kategori usia milenial, dan marah secara malu-malu via sosial media bukan gayanya. Ya, gimana? Toh, manajer Chelsea sejak musim panas 2018 itu tak punya sosial media. Jadi, Sarri menunjukkan sikap benci-tapi-terpaksa-harus-sayang-nya terhadap lini serang The Blues selepas timnya takluk 0-2 dari Arsenal, Minggu (20/1/2019).

“Saya marah dengan pendekatan kami. Dalam hidup, memang tak mungkin selalu di atas, tapi harusnya kami bisa bereaksi di masa-masa sukar lebih baik daripada saat ini. Saya tak masalah kalau kami kalah, tapi jangan gini, dong, caranya,” ucap Sarri, sebagaimana dilansir ESPN.

Lini serang Chelsea pada laga tersebut memang bikin Sarri pening. Dari total 13 tembakan yang mereka lancarkan, 7 di antaranya disumbangkan para penyerang. Eden Hazard dan Pedro Rodriguez melancarkan dua tembakan, sementara Willian Borges melesakkan tiga tembakan.

Namun, satu-satunya upaya mengancam Chelsea pada laga ini justru datang dari tembakan membentur tiang dari Marcos Alonso di akhir babak pertama. Kegagalan lini serang Chelsea membuat 64% penguasaan bola terasa seperti omong kosong.

Para pemain Arsenal dan Chelsea berduel. (Foto: Reuters/John Sibley)
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Arsenal dan Chelsea berduel. (Foto: Reuters/John Sibley)

Kondisi sebaliknya justru menimpa Arsenal. Dengan penguasaan bola lebih sedikit, skuat besutan Unai Emery itu tak hanya mampu melancarkan total tembakan dengan jumlah yang sama dengan Chelsea, tetapi juga lebih baik dalam urusan melesakkan tembakan tepat sasaran.

Detailnya, The Gunners melancarkan 5 tembakan tepat sasaran dengan tiga di antaranya disumbangkan dua peyerang dan satu gelandang ‘nomor 10’ mereka. Pada menit ke-14 Alexandre Lacazette mencetak gol, begitu juga dengan Laurent Koscielny pada menit ke-39.

Sarri mungkin takkan marah, andaikata situasi ini baru sekali-dua menimpa timnya. Masalahnya, kenyataannya berseberangan. Untuk urusan gol, sudah menjadi rahasia umum bahwa Chelsea sangat bergantung dengan kegemilangan Eden Hazard.

Hazard telah menciptakan 10 gol Premier League musim ini, karena telah melesakkan total 58 tembakan dengan 25 di antaranya tepat sasaran. Itu berarti, eks pemain LOSC Lille itu merupakan pemain dengan jumlah tembakan tepat sasaran terbayak kelima terbanyak di liga sejauh ini.

Sementara, Willian telah melancarkan 43 tembakan, namun hanya 17 yang tepat sasaran. Payahnya eks pemain Anzhi Makhachkala itu dalam urusan menyelesaikan peluang juga bisa dilihat dari enam peluang emas yang gagal dieksekusinya. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di Chelsea.

Perlu juga dicatat, Willian sempat puasa gol selama 17 laga liga musim ini. Kondisi Pedro lebih baik daripada Willian. Dari total 36 tembakan, 17 di antaranya yang tepat sasaran. Dari situ, Pedro bisa menciptakan 7 gol di liga.

Sementara, untuk penciptaan kans, kondisinya juga tak jauh berbeda untuk Chelsea. WhoScored mencatat, Hazard melepas umpan kunci (umpan yang menjadi kans) per laga terbanyak untuk Chelsea (2,7) di Premier League. Di bawahnya, ada Willian dengan 2,5 umpan kunci per laga.

Ketiga terbanyak, N’Golo Kante dengan 1,2 umpan kunci per laga. Padahal, tugas Kante ialah merusak sistem serangan lawan plus melindungi Jorginho agar leluasa dalam melancarkan umpan. Dari situ, Hazard menciptakan 10 assist, sementara Pedro hanya 1 dan Willian tidak sama sekali.

Maurizio Sarri saat memimpin Chelsea melawan Manchester City di ajang Community Shield. (Foto: REUTERS/Toby Melville)
zoom-in-whitePerbesar
Maurizio Sarri saat memimpin Chelsea melawan Manchester City di ajang Community Shield. (Foto: REUTERS/Toby Melville)

Ironisnya, trio Willian-Hazard-Pedro sejauh ini merupakan satu-satunya opsi yang bisa diandalkan Chelsea di lini serang. Kondisinya jelas berbeda dengan Liverpool, Manchester City dan Tottenham Hotspur – yang berada di posisi pertama, kedua, ketiga di klasemen sementara Premier League.

Impak Mohamed Salah jelas masih terasa di Liverpool. Karena Salah menjadi topskor Premier League berbekal 16 gol musim ini. Namun, jika ‘Si Raja Mesir’ urung mencetak gol, Liverpool masih punya andalan lainnya. Seperti Hazard, Sadio Mane telah melancarkan 25 tembakan tepat sasaran.

Lalu, jumlah tembakan tepat sasaran Roberto Firmino hanya kurang satu dari Mane. Kemudian Mane dan Firmino mencetak 9 gol di liga musim ini. Dalam urusan penciptaan kans, Salah menciptakan 2,1 umpan kunci per laga. Disusul Firmino dan Mane dengan 1,2 umpan kunci per laga.

Sehingga, Salah membukukan 7 assist, Firmino 3, sementara Mane baru 1. Jika ketiganya mengalami kebuntuan dalam urusan mencetak dan mengkreasikan gol, masih ada Xherdan Shaqiri yang telah menciptakan 6 gol dan 2 assist di liga meski tak selalu masuk dalam susunan kesebelasan tim.

Mari berpindah ke City. Sergio Aguero memang mengalami penurunan dalam urusan menyelesaikan peluang karena baru mencetak 10 gol di liga musim ini. Namun, skuat besutan Pep Guardiola itu diuntungkan karena kombinasi Leroy Sane dan Raheem Sterling.

Sterling telah menciptakan 10 gol, dan Sane membukukan 8 gol. Untuk urusan assist, baik Aguero, Sane, dan Sterling tak menunjukkan masalah berarti. Sane mengkreasikan 9 assist, sementara Sterling 7 dan Aguero 6.

Selebrasi dari Leroy Sane usai membobol gawang Liverpool. (Foto: REUTERS/Phil Noble)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi dari Leroy Sane usai membobol gawang Liverpool. (Foto: REUTERS/Phil Noble)

Jika opsi utama lini serang City musim ini mandek, mereka masih punya opsi lainnya dalam diri Bernardo Silva, Riyad Mahrez, hingga Gabriel Jesus. Ini, tentu saja belum memperhitungkan siapa saja dari lini tengah dan lini belakang yang piawai dalam menciptakan kans.

Tottenham memang tak seberuntung City dan Liverpool. Tapi, setidaknya beban untuk menciptakan gol dan assist tak berat di punggung Harry Kane saja. Beban Kane musim ini dibagi dengan Son Heung-min, yang telah menciptakan 8 gol dan 5 assist di Premier League.

Kebetulan keduanya terpaksa absen karena alasan yang berbeda. Kane diterpa cedera, sementara Son harus memperkuat Timnas Korea Selatan di Piala Asia. Kondisi ini diperparah cedera Dele Alli – yang telah menciptakan 5 gol dan 1 assist di liga -- ketika Tottenham menang 2-0 atas Fulham, Minggu (20/1).

Tapi, belum tentu Tottenham akan kesulitan mencetak gol setelah ini. Pasukan Mauricio Pochettino itu masih memiliki Lucas Moura yang telah menciptakan 6 gol, Erik Lamela yang telah menciptakan 4 gol dan 2 assist, dan Christian Eriksen yang telah menciptakan 4 gol dan 8 assist.

Ya, inilah yang tak dimiliki Chelsea. Makanya manajemen tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu ingin mengamankan jasa Christian Pulisic untuk musim depan, dan dikabarkan pula sebentar lagi mendatangkan Gonzalo Higuain dengan status pinjaman. Semua agar Sarri tak lagi (terpaksa) mencintai meski sebenarnya benci dengan lini serang Chelsea.