Kumparan Logo

Senandung-Senandung dari Tribun Stadion

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

- (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
- (Foto: Getty Images)

“It’s Carrick, you know. Hard to believe it's not Scholes"

Chant (nyanyian) yang disuarakan oleh pendukung Manchester United itu merupakan salah satu bentuk kerinduan mereka kepada Paul Scholes. Tapi di satu sisi itu adalah sebuah bentuk pujian bagi Michael Carrick.

Bagi seorang suporter, stadion tak hanya sekadar tempat untuk menonton sepak bola. Stadion merupakan ruang berekspresi atau meluapkan suara dan nyanyian —yang entah itu berupa pujian, atau umpatan. Maka stadion yang “hidup” tak akan pernah sepi dari teriakan para penonton.

Agar lebih menarik para suporter membalutnya melalui chant yang biasanya terinspirasi dari lagu-lagu terkenal. Chant untuk Carrick itu, misalnya, yang mengadopsi nada dari lagu “It’s Magic” milik Pilot.

Selain sebagai bentuk dukungan dan intimidasi bagi lawan, chant merupakan identitas yang membedakan pendukung klub dengan suporter-suporter lainnya.

Berikut merupakan lagu-lagu yang menginspirasi para suporter untuk melakukan chant.

Seven Nation Army

Intro "Seven Nation Army" menjadi salah satu chant yang paling banyak dipakai oleh beberapa pendukung sepak bola. Salah satunya adalah suporter Borussia Dortmund kerap malantunkan nada lagu yang dipopulerkan oleh The White Stripes itu.

Perhelatan Piala Eropa menjadi salah satu momen di mana "Seven Nation Army" kerap dilantunkan. Mulai dari Piala Eropa 2008 hingga Piala Eropa 2016, lagu itu masih bergema di stadion, baik sebelum laga dimulai atau setelah gol terjadi. Saking terkenalnya , lagu ciptaan Jack White itu tak hanya terpatok pada olahraga sepak bola, tapi juga terdengar di National Football League (NFL) —liga American football milik Amerika Serikat.

Awalnya "Seven Nation Army" didengungkan oleh pendukung Club Brugge. Mereka membawa ke Eropa setelah bentrok dengan AS Roma di Piala UEFA 2006, hingga akhirnya menjadi populer dan mulai menyebar ke klub-klub Eropa lainnya.

video youtube embed

video youtube embed

I'm Forever Blowing Bubbles

West Ham United tak hanya terkenal karena memiliki firma (suporter garis keras) yang fanatik. The Hammers juga memiliki "I’m Forever Blowing Bubbles" yang selalu dinyanyikan di setiap laga. Lagu itu sendiri dipublikasikan di tahun 1919 oleh Tin Pan Alley.

Mengenai kapan tepatnya West Ham mulai menyanyikan lagu "I’m Forever Blowing Bubbles" juga masih simpan siur karena terdapat berbagai macam versi.

Pendapat pertama mengatakan bahwa yang lebih dulu menerapkan lagu itu adalah Swansea City, tepatnya ketika klub asal Wales itu berhadapan dengan Bury di Piala FA. Tak lama kemudian mereka berhadapan dengan West Ham yang kemudian “mematenkan” lagu tersebut.

Versi yang kedua mengatakan jika West Ham mulai menyerukan chant ketika mereka berhasil memenangi League War Cup pada musim 1939/1940, tepatnya saat mengalahkan Blackburn Rovers di babak final. Dengan keberhasilan tersebut, cukup beralasan jika "I'm Forever Blowing Bubbles" selalu dinyanyikan sampai saat ini.

video youtube embed

video youtube embed

Fields of Athenry

"Fields of Athenry" awalnya adalah kidung yang didedikasikan untuk mengenang tragedi Great Famine yang merupakan periode kelam di Irlandia.

Banyak korban berjatuhan akibat mati kelaparan di rentang waktu 1845 hingga 1852. Kondisi tersebut membuat lagu itu diciptakan, yang isinya mengenai seorang pria (fiktif) bernama Michael mencuri makanan —untuk keluarganya yang kelaparan— lalu dijatuhi hukuman.

Di ranah sepak bola, Suporter Tim Nasional Irlandia dan juga Glasgow Celtic pernah menyerukan lagu tersebut. Sementara di Inggris, lagu tersebut kerap didengungkan di Anfield.

Liverpool menggubah lirik lagu itu berdasarkan sejarah dan kejayaan mereka dan mengganti judulnya menjadi “Fields of Anfield Road”. Sedangkan nama Michael menjadi (Bill) Shankly yang merupakan pelatih legendaris The Reds.

video youtube embed

Just Can't Get Enough

Liverpool memang memiliki beberapa chant yang menarik. Kali ini mereka terinspirasi dari lagu Depeche Mode berjudul "Just Can't Get Enough”.

Berbeda dengan lagu sebelumnya yang lebih mengangkat sisi historis, kali ini merupakan nyanyian penyemangat dari pendukung Liverpool kepada Luis Suarez. Hampir setiap pemain asal Uruguay itu mencetak gol mereka mengelu-elukan namanya.

Nada ceria yang terdengar di lagu ini memang cocok didengungkan saat selebrasi dilakukan. Mereka masih tidak puas meski Suarez telah mencetak gol voli atau melalui sundulan kepala. Ia mencetak gol dan membuat Liverpool semakin ganas. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh para pendukung Liverpool.

"He scores a goal and the Kop go wild and I just can't seem to get enough Suarez..."

Sebuah apresiasi yang sangat rasional dari para pendukung LIverpool. Meski tak pernah jauh dari kontroversi, Suarez memang menjadi pemain kunci bagi tim pada periode 2010/2011 hingga 2013/2014. Ia telah menyumbangkan 69 gol bagi The Reds di ajang Premier League.

video youtube embed

video youtube embed

Hey Jude

Manchester City juga memiliki chant yang diadopsi dari salah satu band terbaik yang dimiliki Inggris, The Beatles. "Hey Jude" menjadi lagu penutup di laga kandang The Citizens. Uniknya, mereka tak hanya bertepuk tangan untuk mengatur tempo seperti yang dilakukan pendukung klub lain. Stadion memfasilitasi dengan memutar iringan musik yang seolah membuat bahwa itu sebuah konser The Beatles.

Tak seperi Oasis atau The Stone Roses —band asli Manchester—, The Beatles berasal dari Liverpool. Namun bukan itu perkara kedaerahan yang mendasari keputusan fans City menyanyikan “Hey Jude”.

Usut punya usut, "Hey Jude" dirilis pada tahun 1968, hampir berbarengan dengan gelar Liga Primer kedua yang mereka raih. Tak heran pendukung City kerap menyanyikannya untuk mengingat momen indah tersebut.

video youtube embed