Kumparan Logo

Solskjaer: Saya Selalu Memimpikan Pekerjaan Ini

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selebrasi Ole Gunnar Solskjaer usai Manchester United menang atas Cardiff City. Foto: Reuters/Rebecca Naden
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi Ole Gunnar Solskjaer usai Manchester United menang atas Cardiff City. Foto: Reuters/Rebecca Naden

Ole Gunnar Solskjaer datang ke Manchester United sebagai pemain muda. Ia kemudian menjadi legenda dan kini resmi menjadi pelatih permanen klub tersebut.

Desember 2018, ketika United mendepak Jose Mourinho, mereka berpaling kepada orang yang sudah paham klub mereka luar-dalam: Ole Gunnar Solskjaer. Namun, pria asal Norwegia itu tidak langsung menjadi pelatih permanen, melainkan ditunjuk menjadi caretaker (alias pelatih interim) dulu.

Setelah melewati 19 laga, di mana Solskjaer memenangi 14 di antaranya, barulah United yakin. Kamis (28/3/2019), Solskjaer mereka resmikan sebagai pelatih permanen. Pria berusia 46 tahun itu diberi kontrak berdurasi 3 tahun --yang artinya, ia bisa bertahan sampai 2022.

"Sejak pertama tiba, saya merasa klub spesial ini adalah rumah saya," ujar Solskjaer di situsweb resmi klub.

"Menjadi pemain Manchester United adalah sebuah kehormatan tersendiri. Terlebih, saya juga mengawali karier kepelatihan saya di sini (Solskjaer sempat menjadi pelatih tim reserve United, red). Beberapa bulan terakhir ini terasa fantastis dan saya ingin berterima kasih kepada para pelatih, pemain, dan staf atas kerja kerasnya sejauh ini."

"Saya selalu memimpikan pekerjaan ini dan saya tidak bisa melukiskan perasaan saya ketika mendapatkan kesempatan untuk memimpin klub ini dalam jangka panjang. Saya berharap, saya bisa melanjutkan kesuksesan dan memberikan apa yang layak diterima oleh fans klub ini yang begitu luar biasa," kata Solskjaer.

embed from external kumparan

Ya, United memang rumah Solskjaer. Datang sebagai pemuda berusia 23 tahun pada 1996, Solskjaer langsung mencuri perhatian penggemar United. Awalnya, ia cuma bermaksud untuk jadi pemain cadangan dulu --sembari belajar kultur dan sepak bola Inggris. Tak dinyana, ia mengakhiri musim dengan torehan 19 gol dalam 46 laga.

Padahal, Solskjaer bukan pilihan utama Alex Ferguson, pelatih United saat itu. Sebelum musim 1996/97 bergulir, Ferguson mengincar Alan Shearer. Namun, Shearer memilih untuk bergabung dengan Newcastle United. Alhasil, ia pun mengalihkan bidikan kepada Solskjaer, yang sebelumnya bermain di Norwegia bersama Molde FK.

Selama bermain untuk United, Solskjaer tidak melulu jadi pemain utama. Ia mesti bersaing keras dengan striker-striker lain seperti Andy Cole, Dwight Yorke, Teddy Sheringham, hingga ke era Ruud van Nistelrooy dan Wayne Rooney.

Namun, kesabaran berbuah manis buat Solskjaer. Ketika menghuni bangku cadangan, ia sering mengamati pergerakan pemain lawan. Imbasnya, begitu dimainkan oleh Ferguson, ia hampir selalu bisa memberikan dampak. Dari sinilah label 'Super-Sub' sempat disematkan kepadanya.