Kumparan Logo

Spurs adalah Ramones, Chelsea adalah Radiohead

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

- (Foto: Clive Rose/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
- (Foto: Clive Rose/Getty Images)

Tottenham Hotspur bermain ofensif tanpa basa-basi, sedangkan Chelsea lebih tertata dan menyesuaikan diri dengan lawan yang dihadapi.

Maka, dengan sedikit penggambaran di atas, kami di kumparan menganalogikan bahwa, seandainya kedua kesebelasan di atas adalah grup band, Spurs cocok untuk menjadi Ramones —pionir punk rock itu— dan Chelsea adalah Radiohead —raksasa alternatif rock yang bentuk musiknya terus berubah.

Banyak yang berkata bahwa Thom Yorke, vokalis Radiohead, jarang menciptakan lagu yang ceria. Sebaliknya, lagu-lagi dari band asal dari Abingdon, Oxfordshire, ini lebih banyak merenung. Tergantung pada apa yang sedang dirasakan Yorke. Nuansanya kadang mengentak, kadang retrospektif.

Musik Radiohead pun berkembang seiring perjalanan zaman. Dari menyentuh grunge dan punk di awal 90-an, progresif di pertengahan 90-an, lalu menjadi elektronik di periode awal 2000-an.

Mirip-mirip dengan Chelsea-nya Antonio Conte musim ini. Conte bisa memainkan 3-4-3 pada lawan yang mudah dibongkar, tapi sedikit mengubah bentuk timnya ketika menghadapi tim-tim yang bermain defensif seperti West Bromwich Albion dan Crystal Palace —di mana Chelsea hanya menang tipis 1-0.

Musik Radiohead dan permainan Chelsea sama-sama tertata. Conte persis Yorke: perfeksionis. Jika Yorke memperhatikan detail untuk mendapatkan musik yang menawan, Conte mengotak-atik taktiknya untuk mendapatkan tujuan akhir dari sepak bola itu sendiri: kemenangan.

video youtube embed

Berbeda dengan Ramones dengan beat cepat yang cenderung liar. Jaket kulit, celana jeans serta sneakers yang identik dengan para "Ramone" merupakan lambang dari keliaran itu sendiri.

Maklum saja, mereka lebih menonjolkan kegembiraan dan kebebasan. Dee Dee Ramone sendiri pernah mengatakan mengenai seni yang mereka miliki tidak beradab seperti pada umumnya.

Mirip seperti Spurs-nya Mauricio Pochettino yang ofensif, senang melakukan pressing, dan diisi oleh anak-anak muda bergairah. Ada kebebasan dalam nuansa permainan Spurs tersebut.

***

Kamis (5/1/2017) dini hari WIB, Spurs akan berhadapan dengan Chelsea di White Hart Lane. Chelsea, yang sudah menorehkan 13 kemenangan beruntun, kini menjadi musuh bersama di Premier League. Wajar jika ada lelucon yang menyebut, seluruh tim Premier League mendukung Spurs tengah pekan ini.

Format 3-4-3 yang diterapkan Chelsea mewajibkan semua pemain untuk lebih disiplin. Selain bertumpu pada kedua wing-back, dua gelandang bertahan juga memiliki peran penting untuk melindungi tiga bek sejajar. Serangan diawali melalui penguasaan bola yang rapi dari lini belakang serta umpan satu dua yang serasa mengalir kerap membuat lawan frustasi.

Lain dengan cara bermain Spurs yang memainkan tempo cepat. Dua full-back mereka, Kyle Walker serta Danny Rose, merupakan pemain yang unggul dalam hal kecepatan dan juga relatif agresif dalam membantu penyerangan. Ditambah lagi dengan Son Heung-Min yang gemar melakukan cutting inside dari sisi kiri.

video youtube embed

Tentu, pertemuan kedua kesebelasan ini bakal menarik. Apalagi kedua tim bisa bermain dengan kekuatan penuh.

Pochettino kini bisa menurunkan Jan Vertonghen serta Walker yang di laga sebelumnya absen. Sementara Conte bisa memainkan Pedro Rodriguez, Eden Hazard, dan Diego Costa —nama yang disebut terakhir sempat absen lantaran akumulasi kartu kuning.

Selain itu kedua kesebelasan juga memiliki catatan mentereng sejauh ini. Chelsea masih belum terkalahkan sejak Oktober lalu di ajang Premier League. Sementara Spurs juga cukup oke: setelah takluk dari Manchester United 11 Desember lalu, mereka bangkit dan melibas empat laga selanjutnya dengan kemenangan.

Format tiga bek Conte membuat tim-tim Premier League lainnya yang menghadapi mereka jadi tampak menyedihkan. Saking putus asa-nya beberapa klub justru menerapkan formasi yang jarang mereka gunakan.

Klub-klub seperti Bournemoth, Sunderland, Crystal Palace, bahkan Manchester City, juga menerapkan skema yang sama untuk mengimbangi Chelsea —meski akhirnya gagal. Kebanyakan dari mereka “sedikit” memaksakan untuk memainkan format tiga bek. Padahal skuat yang mereka miliki tak cukup mumpuni untuk menggunakan format seperti milik Conte.

Namun, lain ceritanya untuk Spurs. Mereka memiliki syarat untuk memakai pakem tiga bek, baik itu dari materi pemain serta kedalaman skuat.The Lilywhites memiliki bek sayap yang kuat dan cukup disiplin, serta bek tengah yang mumpuni pada diri Vertonghen, Alderweireld serta Eric Dier.

Terlebih lagi penampilan oke Kieran Trippier juga menjadi opsi alternatif di pos full-back kanan. Pemain yang didatangkan dari Burnley itu dua kali sukses menyumbangkan assist bagi Hary Kane kala menang atas Watford.

Spurs sendiri pernah menerapkan metode tiga bek saat berhadapan dengan Arsenal. Alhasil mereka sukses menahan imbang “Meriam London” dengan skor 1-1. Bahkan Theo Walcott sendiri pernah memuji skema yang diterapkan oleh Pochettino tersebut.

Meski demikian, Chelsea memiliki catatan lebih baik ketimbang Spurs berdasarkan rekor pertemuan. Dari total 15 laga terakhir, Spurs hanya berhasil menang sekali dan tujuh kali imbang, sementara sisanya dimenangi Chelsea.

Pertarungan antara permainan artistik dengan tempo cepat bak perbandingan Radiohead dengan Ramones. Kesabaran serta permainan mengalir dari Chelsea yang kerap membuat para lawan terhanyut akan diuji dengan “Blitzkrieg Bop” dari Spurs.