Kumparan Logo

Swedia Cuma Punya Emil Forsberg? Tentu Saja Tidak

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tiga bintang Swedia di Piala Dunia 2018, Andreas Granqvist (kiri), Victor Claesson (tengah), dan Albin Ekdal. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
zoom-in-whitePerbesar
Tiga bintang Swedia di Piala Dunia 2018, Andreas Granqvist (kiri), Victor Claesson (tengah), dan Albin Ekdal. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)

Selama hampir 15 tahun lamanya Swedia terbelenggu oleh nama besar Zlatan Ibrahimovic. Dari pemain muda potensial, Ibrahimovic menjelma jadi larger-than-life persona yang seringkali membuat nama Swedia, sebagai tim nasional yang dibelanya, tenggelam.

Tak ada pesepak bola Swedia, setidaknya di era modern, yang bisa menyamai kehebatan Ibrahimovic. Memang, mereka sempat punya sosok Henrik Larsson di era 1990-an dan awal 2000-an. Namun, Larsson adalah ikan besar di kolam kecil. Sebagian besar masa keemasannya dia habiskan di Celtic yang bermain di Liga Skotlandia. Sementara, Ibrahimovic adalah ikan besar di kolam yang besar pula.

Bukan tanpa alasan jika Ibrahimovic begitu diandalkan oleh Swedia. Pada Euro 2004, misalnya, pemain yang kini merumput untuk Los Angeles Galaxy tersebut mencetak gol kemenangan atas Italia yang memastikan langkah Swedia lolos ke fase gugur. Sebelas tahun kemudian, Ibrahimovic jadi penentu langkah Swedia lolos ke Euro 2016 lewat tiga golnya dari dua pertandingan play-off menghadapi Denmark.

Di Euro 2016 sendiri, Swedia gagal berbuat banyak. Tergabung di Grup E bersama Italia, Belgia, dan Republik Irlandia, Swedia hanya mampu merengkuh satu poin hingga akhirnya mengakhiri turnamen sebagai juru kunci grup. Setelah itu, Ibrahimovic pun pensiun.

Selepas Ibrahimovic pensiun, Swedia tak punya pilihan lain. Mereka tak punya lagi sosok talisman yang bisa diandalkan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Maka dari itu, mereka pun menjadikan kolektivitas sebagai cara untuk melewati berbagai adangan yang ada.

Di skuat Swedia saat ini, tak ada pemain yang benar-benar berlabel bintang. Kalaupun ada, paling-paling sosok yang bisa dikedepankan hanyalah Emil Forsberg. Wajar jika Forsberg kini dianggap sebagai bintang. Pasalnya, dia punya kemampuan yang mumpuni. Selain itu, dia pun sudah tertempa dengan baik di RasenBallsport Leipzig yang merupakan salah satu klub papan atas Bundesliga Jerman.

Pada Piala Dunia 2018 kali ini, Forsberg turun dengan kostum nomor sepuluh. Beroperasi dari sayap kiri, pemain 26 tahun ini diberi kebebasan untuk memimpin serangan Swedia. Ini terbukti dari tingginya rata-rata dribel (1,3 per laga) dan tembakan (3,7 per laga) yang dia hasilkan. Selain itu, Forsberg juga didaulat sebagai salah satu eksekutor bola mati timnya.

Emil Forsberg (depan) masih melempem di Piala Dunia 2018. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
zoom-in-whitePerbesar
Emil Forsberg (depan) masih melempem di Piala Dunia 2018. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Akan tetapi, seperti masih terbawa dengan performa buruknya bersama Leipzig musim lalu, Forsberg belum benar-benar bersinar di Piala Dunia 2018. Pada musim 2016/17, Forsberg mampu menghasilkan 8 gol dan 22 assist untuk Die Roten Bullen. Namun, pada musim lalu, kemampuan apiknya menguap dan dia hanya mampu membukukan 2 gol serta 2 assist. Di Piala Dunia ini, Forsberg juga belum menghasilkan gol dan assist sama sekali.

Nah, Swedia beruntung karena mereka tidak lagi memilih untuk mengandalkan individu dalam upaya meraih kemenangan. Kolektivitas anak-anak asuh Janne Andersson ini akhirnya berbuah pada mencuatnya pemain-pemain lain. Jelang laga antara Swedia dan Swiss, Selasa (3/7/2018) malam pukul 21:00 WIB, kumparanBOLA berniat menjabarkan siapa-siapa saja pemain Blågult yang berkilau di tengah redupnya sinar Forsberg.

1) Andreas Granqvist

Bagi para penggemar Premier League, Andreas Granqvist dikenal sebagai bek semenjana yang gagal di Wigan Athletic. Namun, bagi Timnas Swedia, Granqvist jauh lebih punya arti daripada itu. Dia adalah kapten tim, pemimpin, karang yang kokoh di lini belakang, dan eksekutor penalti utama.

Eksekusi penalti Andreas Granqvist, kapten Timnas Swedia di Piala Dunia 2018. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
zoom-in-whitePerbesar
Eksekusi penalti Andreas Granqvist, kapten Timnas Swedia di Piala Dunia 2018. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Pada Piala Dunia kali ini, Granqvist selalu turun sebagai starter. Dia adalah pencetak gol pertama Swedia di turnamen lewat eksekusi penaltinya ke gawang Korea Selatan. Lalu, pada laga menghadapi Meksiko, Granqvist menambah koleksi golnya, juga lewat titik putih. Dengan raihan dua gol, pemain 33 tahun ini sekarang menjadi topskorer sementara Swedia.

Dari segi bertahan, Granqvist merupakan pencatat rata-rata sapuan terbanyak (5,7 per laga) setelah Mikael Lustig (6). Selain itu, rataan tekel (1,3) dan intersepnya (1,3) juga menjadi alasan di balik kekokohan pertahanan Swedia yang baru kemasukan dua kali.

2) Viktor Claesson

Ketika keran kreativitas Forsberg mampet, Swedia punya jawaban dalam diri Viktor Claesson. Pemain yang memperkuat Krasnodar di level klub ini sekarang merupakan pencatat assist terbanyak sementara di Swedia (2).

Gelandang Swedia, Victor Claesson, berduel dengan bek Jerman, Jonas Hector. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
zoom-in-whitePerbesar
Gelandang Swedia, Victor Claesson, berduel dengan bek Jerman, Jonas Hector. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)

Di Timnas, Claesson dimainkan sebagai gelandang kanan. Meskipun begitu, pemain 26 tahun ini sebenarnya merupakan sosok sebabisa yang mampu bermain di semua peran dan posisi di tengah. Wajar, karena kemampuan menyerang dan bertahan Claesson memang sama bagusnya.

Selain assist, kontribusi ofensif Claesson yang kentara adalah 2 umpan kunci per laga yang dia bukukan dari tiga laga. Kemudian, dari segi bertahan, dia mampu mencatatkan 2 tekel, 2 intersep, dan 1 sapuan per laganya. Dengan catatan seperti ini, Claesson pun jadi sosok tak tergantikan di sisi kanan lini tengah Swedia.

3) Albin Ekdal

Jika di sisi kanan ada Claesson, di area tengah Swedia punya Albin Ekdal. Sebagai gelandang box-to-box, pemain yang pernah berkostum Juventus ini menjadi motor lini tengah Swedia dengan aksi bertahan dan menyerang yang sama baiknya.

Gelandang Swedia, Albin Ekdal, selepas laga menghadapi Jerman. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
zoom-in-whitePerbesar
Gelandang Swedia, Albin Ekdal, selepas laga menghadapi Jerman. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)

Sampai saat ini, Ekdal adalah pemain Swedia yang paling sering melakukan tekel di tiap laganya dengan catatan 2,3. Ketika menyerang, pria 28 tahun ini mengandalkan kemampuan dribelnya untuk melakukan membawa bola dengan cepat ke area pertahanan lawan. Seperti halnya Forsberg, Ekdal adalah penggiring bola terbaik di tim Swedia saat ini dengan catatan 1,3 per laga.

4) Ludwig Augustinsson

Satu hal menarik dari Timnas Swedia pada Piala Dunia 2018 ini adalah bagaimana produktivitas mereka justru 'bergantung' pada pemain belakang. Saat ini Granqvist jadi topskorer sementara dengan dua gol penaltinya. Nah, selain Granqvist, satu pemain belakang Swedia lain yang sudah mencetak gol adalah Ludwig Augustinsson.

Gol Augustinsson ini dia cetak pada laga menghadapi Meksiko. Pada gol tersebut, pemain Werder Bremen ini menunjukkan agresivitasnya sebagai full-back dengan merangsek sampai kotak penalti El Tri. Dengan penempatan posisi dan timing yang pas, Augustinsson sukses menaklukkan kiper Meksiko, Memo Ochoa.

Selebrasi bek kiri Swedia, Ludwig Augustinsson, usai mencetak gol ke gawang Meksiko. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi bek kiri Swedia, Ludwig Augustinsson, usai mencetak gol ke gawang Meksiko. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)

Tak seperti Lustig yang lebih defensif, Augustinsson adalah pembantu serangan yang terhitung cukup aktif. Dalam satu laga, pemain 24 tahun ini mampu menghasilkan 1 umpan kunci dan melepas 1,7 umpan panjang. Kendati begitu, catatan 1,3 tekel dan 3 sapuan per laga menunjukkan bahwa Augustinsson tetap tidak melupakan tugas utamanya sebagai seorang bek.

5) Robin Olsen

Terakhir, ada sosok Robin Olsen. Ketika semua sistem sudah berhasil ditembus, sosok terakhir yang diandalkan Swedia untuk menghalau bola serangan lawan adalah Olsen, sang penjaga gawang.

Nama Olsen memang tidak mentereng karena di level klub, dia 'hanya' bermain untuk FC Kobenhavn. Namun, bersama tim nasional, Olsen menunjukkan bahwa sebenarnya dia punya kualitas yang mumpuni.

Kiper Swedia, Robin Olsen, usai Ola Toivonen membawa Swedia unggul atas Jerman. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
zoom-in-whitePerbesar
Kiper Swedia, Robin Olsen, usai Ola Toivonen membawa Swedia unggul atas Jerman. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)

Secara kuantitas, jumlah penyelamatan yang dibuat Olsen memang tidak sebanyak Ochoa yang sudah membuat 25 penyelamatan. Dalam tiga pertandingan fase grup, Olsen baru menciptakan 7 penyelamatan. Namun, minimnya jumlah penyelamatan itu lebih disebabkan karena Swedia punya pertahanan kokoh.

Kualitas Olsen sebagai kiper tampak pada laga menghadapi Jerman. Meski kebobolan dua gol, pemain 28 tahun ini mampu membuat sejumlah penyelamatan gemilang dan hampir saja membawa timnya mengimbangi sang juara bertahan.