Tentang Arrigo Sacchi dan Milan-nya yang Hebat itu

"Untuk menjadi joki yang hebat, Anda tidak perlu lebih dulu merasakan bagaimana menjadi kuda."
Arrigo Sacchi muda tumbuh dengan banyak menghabiskan waktu untuk menonton sepak bola. Tapi, tak sembarang pertandingan yang ia tonton. Di tempat tinggalnya, di Fusigiano, sebuah daerah di timur Italia, Sacchi banyak menghabiskan waktu di televisi menonton klub-klub dengan nadi sepak bola menyerang.
Sacchi menyaksikan bagaimana briliannya klub Hungaria, Budapest Honved, bermain dan memiliki pemain depan hebat macam Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, hingga Jozsef Bozsik. Sacchi juga mengagumi Real Madrid era Alfredo di Stefano, Brasil-nya Pele, hingga tentu yang paling artistik, Belanda-nya Johan Cruyff.
Sacchi tumbuh menonton sepak bola menyerang dan itu memengaruhi pola pikirnya.
***
Sacchi muda tak terlalu pandai bermain sepak bola. Bayangkan saja, untuk menembus tim inti klub amatir bernama Baracca Lugo --yang bermarkas di dekat tempat tinggalnya-- Sacchi tak bisa. Ia memang sebegitu buruknya menjadi pemain. Sampai pada akhirnya, di usia sekitar 20 tahunan, ia memutuskan gantung sepatu.
Tapi Sacchi enggan berhenti mengarungi karier di dunia sepak bola. Setelah luntang-lantung tak jelas, dan sempat menghabiskan waktu sebagai seorang sales sepatu, Sacchi mendapat tawaran menjadi pelatih di klub tadi, Baracca lugo. Sacchi menerimanya. Di usia 26 tahun, ketika para pemain yang diasuhnya berusia jauh di atasnya, Sacchi berhasil mengatasi tekanan menjadi pelatih muda.
Berkat modal "menonton sepak bola menyerang" itu tadi, karier kepelatihan Sacchi terus berlanjut. Ia dipercaya menjadi pelatih klub kecil lain, Bellaria, serta menjadi pelatih tim muda Cesena --yang tim seniornya kala itu bermain di Serie B. Menjadi pelatih muda di klub-klub kecil, Sacchi sudah idealis kala itu.
Tim-tim yang dilatihnya, tentu saja, menerapkan sepak bola menyerang dan menerapkan pressing tinggi dalam formasi 4-4-2. Timnya juga mengandalkan overload di sisi-sisi lapangan dan area sentral dengan mengandalkan kedua bek sayapnya untuk bisa menguasai jalannya pertandingan. Sebagai pelatih yang tinggal di negeri penggiat catenaccio, Sacchi terhitung amat berani.
Karier kepelatihannya terus berlanjut ke Rimini --di mana ia hampir mengantarkan klub tersebut meraih gelar Serie C1 (level tiga dalam piramida liga Italia)-- dan kemudian ia sempat menangani tim muda Fiorentina. Di sinilah namanya mulai dikenal hingga kemudian pada tahun 1985 klub Serie C1 lainnya, Parma, memutuskan untuk menggunakan jasanya. Bersama Parma, Sachi menemukan jalan keberhasilannya.

Puncaknya ada di musim keduanya, musim 1986/1987. Kala itu di ajang Coppa Italia, Parma berada satu grup dengan salah satu raksasa Serie A, AC Milan. Bertemu dengan klub yang lebih kuat tak membuat Sacchi gentar. Pada pertemuan di fase grup itu, Sacchi berhasil membawa Parma-nya menang atas Milan dengan skor tipis 1-0. Parma menjadi juara grup tersebut dengan raihan delapan poin hasil empat kali menang dan satu kali kalah.
Pada babak berikutnya, di fase gugur pertama, Parma-nya Sacchi kembali berhadapan dengan Milan. Di sini, satu kali lagi, Sacchi berhasil membuktikan kepiawaiannya. Parma berhasil menaklukkan Milan dengan skor 1-0 ketika laga berlangsung di San Siro. Sementara ketika laga berlangsung di kandang Parma, mereka menahan Milan imbang tanpa gol. Parma pun lolos ke babak berikutnya.
Parma memang terhenti di babak perempat final Coppa Italia kala itu setelah takluk dari Atalanta. Akan tetapi, pencapaian itu sudah cukup untuk mendongkrak karier Sacchi sebagai seorang pelatih. Pasalnya, pada musim berikutnya atau musim 1987/88, Sacchi mendapat tawaran dari klub yang dua kali dikalahkannya itu. Ya, ia ditawari menangani Milan.
Bos Milan, Silvio Berlusconi, mengajak Sacchi untuk menangani klubnya karena alasan sesederhana itu, cuma karena tim Sacchi bisa mengalahkan timnya dua kali di ajang Coppa Italia itu. Setelah Sacchi menerima, sepak bola Italia pun ribut. Berlusconi dianggap melakukan perjudian besar karena memercayai klub sebesar Milan kepada pelatih yang melatih di klub Serie A lain pun ia belum pernah.
Tapi nyatanya, pilihan Berlusconi amat tidak salah. Karena setelah Sacchi menangani Milan, kita tahu bagaimana sejarah kemudian tertulis.
Pada musim perdananya saja, Sacchi sudah berhasil memberikan gelar Serie A untuk I Rossonerri. Yang paling penting, Sacchi juga tetap mempertahankan idealismenya sebagai pelatih. Di Milan sekalipun, di mana ia dianugerahi skuat dengan pemain-pemain bertahan top, pria berkepala plontos itu tetap memainkan sepak bola menyerang --yang terbilang "menyalahi" kamus sepak bola Italia.
Sacchi juga memang begitu beruntung. Selain memiliki banyak pemain bagus di lini belakang, ia juga dianugerahi pemain-pemain depan yang juga luar biasa. Tengok saja bagaimana di timnya kala itu, ia memiliki trio Belanda yang pada tahun 1988 baru berhasil meraih gelar Piala Eropa. Tiga pemain itu, tentu kita tahu, adalah Frank Rijkaard, Marco van Basten, dan Ruud Gullit.
Tak hanya itu saja, Sacchi tahu betul, untuk menangani Milan yang notabene adalah tim besar, ia harus menampung kritik, saran, serta ego dari para pemain-pemain bintang. Para pemain-pemain bintang, benar-benar diajaknya menjadi bagian penting klub. Dengan begitu, ia bisa mengatur komponen klubnya dengan baik.
Cerita luar biasa datang kemudian di musim berikutnya, Milan dibawa Sacchi berhasil menjadi juara Europa Cup --kini Liga Champions. Hebatnya, dalam partai final di musim itu, Milan berhasil membantai lawannya, Steaua Bucuresti, dengan skor 4-0. Gullit dan Basten mencetak masing-masing dua gol untuk kemenangan Milan.
Formasi 4-4-2 dengan pressing tinggi itu mampu mematikan para lawan. Pergerakan tanpa bola yang dituntut Sacchi harus dilakukan terus menerus oleh para pemainnya, yang berguna untuk membuat para pemainnya berada di posisi-posisi yang tidak terprediksi oleh lawan. Sehingga serangan-serangan yang dilancarkan, selalu menemui tujuan yang jelas.
Pemanfaatan ruang ini juga digunakan Sacchi untuk melancarkan strategi bertahan demi menutup ruang dan gerak pemain lawan, dan yang kemudian di masa kini, strategi ini dikenal dengan strategi zonal marking. Sacchi juga diuntungkan karena di dalam skuatnya, ia memiliki sosok bek tengah macam Baresi atau Costacurta yang begitu tangguh ketika tim lawan unggul dalam teknik individu.
Cerita sukses Sacchi tak berhenti sampai di situ. Pada musim berikutnya, musim 1989/90, gelar Liga Champions berhasil dibawanya ke Kota Mode. Kendati mendapat lawan yang lebih sulit dengan pelatih yang tak kala cerdik: Benfica-nya Sven-Goran Eriksson, Sacchi tetap unggul. Milan dibawanya menang tipis 1-0 lewat gol semata wayang Rijkaard.
Sacchi menunjukkan bagaimana ilmu yang dia pelajari dari menonton tim-tim hebat itu sangatlah berguna. Di partai final ini, ketika timnya kesulitan setelah Basten di man-marking oleh pemain belakang Benfica, Sacchi tak kehabisan akal. Di sini ia membuktikan jika latihan tanpa bola untuk bisa memaksimalkan ruang yang dilakukan anak asuhnya memang sangat diperlukan.
Sacchi, kala itu menginstruksikan Basten untuk bermain lebih ke dalam, sejajar dengan Gullit. Dengan itu, otomatis, penjaga Basten pun ikut-ikutan maju mengikutinya. Dan disinilah ia menginstruksikan Gullit dan Rijkaard untuk memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh pemain belakang Benfica tadi. Hasilnya, satu gol berhasil membawa pulang trofi Liga Champions kedua beruntun.

Keberhasilan itu pun membuat Milan mencatatkan sejarah. I Rossonerri berhasil menjadi tim terakhir yang berhasil meraih gelar Liga Champions secara berturut-turut. Tim itu pun juga dikenang sebagai salah satu era terbaik sepanjang sejarah Milan. Bahkan dikenang sebagai salah satu tim terbaik yang pernah ada di dunia sepak bola.
Tak hanya itu saja, Sacchi, dengan segala taktik, idealisme, dan keberaniannya itu, berhasil membuatnya dikenang sebagai pionir sepak bola modern. Sebagai orang yang menulis ulang sejarah taktik sepak bola dunia, khususnya Italia. Sebagai orang yang pada akhirnya menginspirasi sepak bola menyerang dewasa ini. Milan-nya juga menjadi sumber belajar dari banyak klub di seluruh penjuru dunia.
***
17 tahun setelah kemenangan atas Benfica itu di Wina, Austria itu, satu tim lain mencoba memecahkan rekor Milan-nya Sacchi. Rekor sebagai tim yang berhasil menjadi juara Liga Champions selama dua musim beruntun. Tim itu kini ditangani sosok pelatih yang juga jenius, Zinedine Zidane. Tim itu adalah Real Madrid dan mereka akan menghadapi partai final Liga Champions pada Minggu (4/6) dini hari WIB menghadapi rival Milan di Italia, Juventus.
Akankah Zidane dan Madrid-nya bisa memecahkan rekor itu?
