Tentang Mercato Juventus yang Masih Jauh dari Kata "Wah"

Musim panas 2016 lalu, Juventus menjadi teladan bagi banyak klub soal bagaimana caranya beraksi di bursa transfer. Tanpa banyak ba-bi-bu, mereka sukses mendaratkan Dani Alves, Medhi Benatia, Miralem Pjanic, dan Marko Pjaca sebelum menutupnya dengan membajak Gonzalo Higuain dari Napoli. Ini belum termasuk bagaimana mereka menghasilkan profit sekitar 800% dari hasil penjualan Paul Pogba.
Para pemain yang disebut di atas adalah sosok-sosok yang memang sangat dibutuhkan Juventus untuk mengarungi musim lalu. Buktinya pun nyata. Mereka semua berhasil berkontribusi atas gelar ganda domestik dan keberhasilan Juventus melaju sampai final Liga Champions.
Akan tetapi, keriuhan yang muncul dari Kota Turin itu belum terdengar lagi musim panas di musim panas ini. Sampai saat ini, baru satu orang pemain yang resmi didatangkan, yakni Douglas Costa. Patrik Schick yang sebelumnya sudah menjalani tes medis transfernya harus tertunda karena sebab yang belum jelas.
Ada yang mengatakan bahwa ada masalah di tes medis Schick, ada pula yang menyebut bahwa Juventus dan Sampdoria belum mencapai kata sepakat ihwal nominal transfer. Alhasil, langkah Juventus untuk mencari pelapis Higuain pun tertunda pula.
Lalu, bagaimana sebenarnya transfer Juventus sejauh ini layak dinilai? Apakah sudah "wah" atau masih "meh"?
Pada dasarnya, tidak mudah untuk meningkatkan kekuatan Juventus secara signifikan pada musim ini. Terlepas dari kolapsnya mereka di Cardiff, performa Juventus sepanjang musim lalu sudah menunjukkan bahwa mereka layak disebut sebagai salah satu tim kelas satu di Eropa. Dalam daftar peringkat klub di kompetisi Eropa rilisan UEFA, Juventus ada di ranking kelima setelah Real Madrid, Atletico Madrid, Bayern Muenchen, dan Barcelona.
Di Serie A pun Juventus masih perkasa. Ya, memang ada satu-dua penampilan buruk termasuk saat dikalahkan Roma di pekan-pekan terakhir. Akan tetapi, "Si Nyonya Tua" tak lagi membutuhkan comeback sensasional seperti pada musim 2015/16 untuk bisa menjadi juara. Penampilan mereka ajeg. Selalu di atas dan nyaris tak pernah goyah.
Itulah mengapa, ketika kita bicara soal meningkatkan kekuatan secara signifikan, sulit sekali rasanya. Pasalnya, Juventus memang sudah kuat dan kalaupun ada kekurangan, paling-paling hanya ada di dua titik: bek kanan dan gelandang tengah.
Di posisi bek kanan, Juventus sedang compang-camping. Sepeninggal Dani Alves yang hijrah ke Paris Saint-Germain, praktis Juventus hanya memiliki Stephan Lichtsteiner yang sudah menua dan penampilannya sudah tak seperti dua atau tiga musim lalu. Tak heran jika banyak sekali nama bek kanan yang sudah dikait-kaitkan dengan Juventus.

Nama-nama yang dimaksud antara lain Danilo, Serge Aurier, Mattia De Sciglio, dan Joao Cancelo. Khusus Danilo dan Aurier, Juventus hampir pasti tidak akan bisa mendaratkan mereka karena slot pemain non-Uni Eropa yang mereka datangkan tahun 2017 ini sudah habis -- sebelum Douglas Costa, Juventus sudah memboyong Rodrigo Bentancur.
Opsi pun kini tinggal ada dalam sosok De Sciglio dan Cancelo. Juventus sendiri sudah lama meminati De Sciglio. Bek kanan satu ini, selain masih relatif muda, juga berkewarganegaraan Italia -- bagi Juventus, ke-Italia-an adalah hal penting -- dan bisa pula bermain sebagai bek kiri. Ditambah lagi, De Sciglio sudah paham seluk beluk Serie A dan tidak membutuhkan banyak proses adaptasi.
Sementara itu, Joao Cancelo adalah alternatif yang sebenarnya cukup apik, terlepas dari performa klubnya, Valencia, yang angin-anginan. Bek Portugal ini punya kualitas teknikal yang bagus dan baru berusia 23 tahun; lebih muda dua tahun dibanding De Sciglio.
Namun, untuk membeli bek kanan, Juventus tidak bisa tidak memikirkan masa depan bek berbakat mereka, Pol Lirola, yang musim lalu tampil lumayan bersama Sassuolo. Jika nantinya Juventus memang berminat untuk menjadikan Lirola sebagai pemain andalan di masa depan, maka bek kanan yang didatangkan sekarang harus yang tidak akan mengganggu lesatan pemain asal Spanyol itu. Tidak mudah, bukan?
Kemudian, gelandang tengah. Bukan rahasia lagi jika Juventus masih merindukan sosok pemain dinamis seperti Paul Pogba atau Arturo Vidal. Sami Khedira memang bagus. Akan tetapi, pemain berdarah Tunisia itu tidak punya kemampuan teknikal sebaik Pogba dan Vidal. Dalam diri Khedira, Juventus "hanya" memiliki sosok gelandang box-to-box yang punya determinasi dan daya jelajah saja. Tidak lebih.

Kemudian, Claudio Marchisio. Dalam kondisi fit, alumnus akademi Juventus ini adalah salah satu gelandang terbaik Eropa. Kemampuannya komplet. Dia bisa berperan sebagai apa pun di lini tengah, entah itu pembagi bola, gelandang box-to-box, sampai pencetak gol dari lini kedua. Problemnya, Marchisio pun makin menua dan rentan cedera. Maka dari itu, suami Roberta Sinopoli ini jadi tak bisa (sepenuhnya) diandalkan Juventus.
Untuk mengatasi masalah ini, Juventus sejak pertengahan musim lalu sudah mengincar Steven N'Zonzi dan Blaise Matuidi. Namun, Sevilla (secara tidak mengherankan) selalu ogah-ogahan menjual N'Zonzi, sementara PSG dan Juventus tidak punya relasi yang baik akibat transfer Kingsley Coman dulu.
Nama lain yang diincar Juventus adalah Marco Verratti. Namun, setidaknya untuk saat ini, mustahil bagi klub mana pun, entah Juventus maupun Barcelona, untuk mendapatkan Verratti karena PSG sudah bersikukuh untuk mempertahankan mantan anak didik Zdenek Zeman itu di Parc des Princes.
Untuk mencari gelandang seperti Pogba dan Vidal yang layak berkostum Juventus memang sangat, sangat sulit. Seandainya pun nanti Juventus mendatangkan seorang pemain, bisa dipastikan bahwa pemain tersebut tidak (atau belum) sekelas dengan Pogba maupun Vidal.

Pada 10 Juli 2017 lalu, muncul kabar bahwa Giuseppe Marotta dan Fabio Paratici sedang memantau situasi Emre Can. Entah benar atau tidak kabar ini, yang jelas apabila Juventus berhasil mendatangkan Can, mereka akan mendapat seorang gelandang tengah potensial yang serbabisa. Namun, mantan penggawa Bayern Muenchen ini pun bukan gelandang seperti Vidal atau Pogba dan kabar itu sama sekali belum ada perkembangannya lagi.
Jika kami boleh menyarankan, ada baiknya Juventus mulai menggoda Naby Keita dari RasenBallsport Leipzig karena kemampuan dan cara bermain pemain satu ini agak mirip dengan Vidal. Oleh RB Leipzig, harga Keita dipatok di angka 70 juta euro. Tidak masuk akal, memang. Selain itu, pemuda 22 tahun itu lebih condong ke Anfield. Namun, masa sih seorang Beppe Marotta tidak bisa mengakali hal itu?
Nah, bicara soal pemain yang sudah didatangkan, Douglas Costa sendiri merupakan upgrade sempurna untuk Juan Cuadrado. Selain punya kemampuan teknis yang lebih baik, Costa, tak seperti Cuadrado, adalah pemain kidal. Artinya, jika rute yang ditempuh Cuadrado adalah menyusuri garis lapangan, Costa bakal lebih kerap menusuk masuk dari sayap kanan.
Menurut catatan Squawka, Douglas Costa adalah penggiring bola terbaik di Eropa. Sejak musim 2015/16, dia mampu melewati lawan sebanyak 148 kali di Bundesliga. Sementara itu, di kancah Liga Champions, eks-pemain Shakhtar Donetsk itu mampu melakukannya sebanyak 58 kali. Catatan Costa di dua ajang itu lebih baik daripada pemain mana pun.
Selain Costa, satu pemain sayap lain yang ingin didatangkan Juventus adalah Federico Bernardeschi dari Fiorentina. Tak seperti Costa yang "hanya" nyaman beroperasi di tepi lapangan, Bernardeschi juga nyaman ketika dipasrahi tugas sebagai pemain no. 10. Namun, meski telah dikabarkan mencapai kesepakatan personal dengan sang pemain, Juventus tampaknya belum mampu meluluhkan hati Fiorentina yang notabene merupakan rival abadinya itu.

Selain itu semua, masih ada dua hal lain yang perlu dilakukan Juventus. Pertama, meyakinkan Alex Sandro agar mau bertahan dan kedua, mencari deputi dan kalau bisa, suksesor Gianluigi Buffon. Terkait Alex Sandro, meski nantinya bakal mendapat banyak uang, mencari pengganti bek Tim Nasional Brasil itu sama sekali bukan perkara mudah. Salah-salah, situasi bek kanan mereka nantinya menular pula ke sisi seberang.
Kemudian, soal deputi dan suksesor Buffon. Neto yang selama dua musim terakhir sudah dengan sabar jadi pelapis Buffon akhirnya hengkang juga. Padahal, pemain berpaspor Brasil itu berjasa dalam mempersembahkan dua Coppa Italia bagi La Vecchia Signora. Musim panas ini, Juventus setidaknya harus mencari Neto baru jika mencari suksesor Buffon dirasa masih sulit.
Nah, begitulah. Dari sini bisa disimpulkan bahwa di bursa transfer kali ini, Juventus setidaknya harus melakukan enam hal. Namun, sampai sejauh ini Juventus baru melakukan dua di antaranya. Itu pun masih belum sempurna karena transfer Schick masih terganjal.
Dengan demikian, baru 1,5 dari enam tugas yang bisa diselesaikan Juventus. Maka dari itu, dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa aktivitas transfer Bianconeri sampai saat ini masih belum beranjak dari kata "meh".
Namun, satu hal yang perlu diingat adalah bursa transfer masih akan berlangsung satu setengah bulan lagi. Tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu singkat, dan mengingat profisiensi Marotta-Paratici dalam bermanuver di bursa transfer, Juventini seharusnya tidak perlu kelewat waswas.
