Thoriq Alkatiri Jelaskan Perbedaan Jadi Wasit di RI & ACL 2: Lebih Enjoy di Asia

8 Desember 2025 11:59 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Thoriq Alkatiri Jelaskan Perbedaan Jadi Wasit di RI & ACL 2: Lebih Enjoy di Asia
Thoriq Alkatiri mengaku lebih menikmati jadi wasit pertandingan internasional seperti AFC Champions League 2 (ACL 2).
kumparanBOLA
Thoriq Munir Alkatiri sebagai wasit utama di pertandingan AFC Champions League Two 2024. Foto: Dok. Website PSSI
zoom-in-whitePerbesar
Thoriq Munir Alkatiri sebagai wasit utama di pertandingan AFC Champions League Two 2024. Foto: Dok. Website PSSI
ADVERTISEMENT
Thoriq Alkatiri mengaku lebih menikmati jadi wasit pertandingan internasional seperti AFC Champions League 2 (ACL 2). Sebab menurutnya, para pemain-pemain luar negeri lebih mengerti tentang teknis peraturan dalam sepak bola dan miliki segi respek yang lebih tinggi ke wasit dibanding pemain di kompetisi lokal.
ADVERTISEMENT
Tercatat, sepanjang musim 2025/26, Thoriq sudah 4 kali memimpin pertandingan AFC Champions League 2 di fase grup. Ia menerangkan bagaimana perbandingan karakteristik pemain di kompetisi tersebut dengan Super League.
"Sebetulnya tidak ada perbedaan dari segi perwasitan. Cuma mungkin lebih enjoy di Asia dibandingkan kompetisi lokal," kata Thoriq kepada wartawan saat Indonesia Sports Summit 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, pada Minggu (7/12).
"Karena mungkin pemainnya lebih sadar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang gak perlu. Walaupun kadang intensitasnya tinggi tapi mereka fokus kepada permainannya," tambahnya.
Thoriq Munir Alkatiri sebagai wasit utama, Bangbang Syamsudar sebagai asisten wasit 1, Nurhadi sebagai asisten wasit 2 dan Yudi Nurcahya sebagai wasit cadangan di pertandingan AFC Champions League Two 2024. Foto: Dok. Website PSSI
Kendati demikian, menurut Thoriq Alkatiri, menjadi wasit pada laga-laga internasional lebih menguras tenaga. Karena, tensi permainannya yang cepat membuat wasit dituntut untuk punya fisik yang prima.
"Kalau untuk di dunia perwasitan saya merasa ya masih tetap harus belajar setiap hari. Setiap pertandingan saya anggap itu sebagai final. Karena harus memberikan sesuatu yang terbaik di pikirkan terhadap prestasi ke depannya. Saya tidak berpikiran seperti itu. Hanya membuat yang terbaik di lapangan," ungkap Thoriq.
ADVERTISEMENT
"Kalau di luar negeri mungkin pertandingannya lebih cepat. Dan lebih, apa namanya, dia lebih fokus terhadap taktikal. Jadi kita harus fisik dituntut lebih prima," tambahnya.