Kumparan Logo

Tony Pulis Merasa Dicurangi Manchester City di Final FA Cup 2011

kumparanBOLAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pulis: Bursa transfer bikin penyakit!
zoom-in-whitePerbesar
Pulis: Bursa transfer bikin penyakit!

Mantan manajer Stoke City Tony Pulis mengecam tindakan Manchester City yang terbukti melanggar aturan keuangan Liga Primer Inggris setelah keputusan bersalah dirilis pekan ini. Kemarahan ini mencuat setelah klub papan atas tersebut dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial. Pulis merasa ketidakadilan ini sangat mencederai integritas sepak bola profesional Inggris yang selama ini dijaga ketat.

Pulis merasa kemenangan bersejarah Manchester City atas Stoke City pada partai puncak final FA Cup tahun 2011 silam kini menyisakan luka mendalam. Bagi dirinya dan segenap pendukung setia Stoke City, pencapaian bersejarah yang dinodai oleh manipulasi keuangan pihak lawan terasa seperti sebuah pencurian momentum emas. Kejadian tersebut dinilai merampas kesempatan sekali seumur hidup bagi klub kecil untuk mengukir sejarah legendaris secara bersih.

Luka Lama Final FA Cup 2011 yang Kembali Terbuka

Pertandingan final di Stadion Wembley pada Mei 2011 seharusnya menjadi momen paling indah dalam sejarah panjang Stoke City. Klub semenjana tersebut berhasil menembus partai puncak kompetisi tertua di dunia, memicu ribuan pendukung setia mereka untuk datang dari berbagai belahan dunia guna menyaksikan laga impian tersebut secara langsung. Pulis mengingat bagaimana para suporter rela berkorban demi laga tersebut dengan menyatakan, “Banyak dari penggemar tersebut datang dari berbagai penjuru dunia, menghabiskan atau meminjam uang dalam jumlah besar demi bisa hadir di Wembley, hanya untuk bisa mengatakan: saya ada di sana.”

Namun, mimpi indah itu harus kandas lewat gol tunggal Yaya Toure yang memastikan kemenangan tipis 1-0 untuk Manchester City. Pulis mengenang bagaimana ketimpangan finansial kala itu sangat terasa, di mana gaji mingguan sang pencetak gol dilaporkan mencapai sepuluh kali lipat dari pemain dengan bayaran tertinggi di skuad Stoke City. Bahkan, nilai transfer gelandang asal Pantai Gading itu saat diboyong dari Barcelona jauh melampaui total harga seluruh skuad utama starting eleven Stoke City yang tampil hari itu.

Rasa Frustrasi Atas Dominasi yang Dianggap Curang

Pada saat laga usai, kekalahan Stoke City awalnya diterima dengan lapang dada karena mereka merasa kalah bersaing dengan barisan superstars di bawah asuhan pelatih elite Roberto Mancini. Namun, setelah investigasi membuktikan adanya pelanggaran regulasi finansial yang sistematis antara tahun 2009 dan 2018, sudut pandang Pulis berubah drastis menjadi rasa kecewa yang mendalam. Kebenaran yang terungkap belakangan ini mengubah rasa hormat menjadi kekecewaan besar atas rusaknya prinsip financial fair play di kancah domestik.

Pelanggaran aturan keuangan tersebut terbukti menjadi fondasi utama bagi dominasi panjang Manchester City yang sukses menyapu bersih berbagai gelar domestik selama lebih dari satu dekade. Tindakan ilegal tersebut tidak hanya merugikan Stoke City dalam satu pertandingan final, melainkan juga merusak persaingan yang sehat bagi klub-klub kecil lainnya. Mereka dipaksa bertarung dengan anggaran yang jujur melawan kekuatan finansial tanpa batas yang didirikan di atas pelanggaran hukum.

Tuntutan Keadilan dan Sanksi yang Dinilai Terlambat

Kini, meskipun seluruh suporter Stoke City mendesak agar trofi diserahkan kepada mereka, Pulis bersikap realistis bahwa gelar juara tersebut tidak akan pernah berpindah tangan secara resmi. Ia memperkirakan sanksi yang akan dijatuhkan kepada klub milik miliarder tersebut kemungkinan besar hanya berupa pengurangan poin masif atau denda finansial yang sangat besar. Ia tidak percaya bahwa gelar atau piala yang telah dibawa pulang oleh lawan akan dikembalikan secara sukarela.

Terlepas dari apa pun sanksi yang dijatuhkan nantinya, Pulis menegaskan bahwa sejarah tidak akan pernah bisa diubah kembali bagi masyarakat Stoke-on-Trent. Pulis mengekspresikan kekecewaannya secara mendalam dengan mengakui, “Saya tetap merasa dicurangi. Apa pun yang terjadi selanjutnya, kami tidak akan pernah mendapatkan hari itu kembali beserta kesempatan untuk merayakan kemenangan di sekitar kota dengan piala dan medali yang kami perjuangkan secara jujur.”