Transformasi Liverpool di Mata Klopp: Dari Cewek Desa ke Supermodel

Pernah mendengar kisah 'Si Itik Buruk Rupa' karya pendongeng legendaris Hans Christian Andersen? Itu, loh, kisah seekor itik yang terus menjadi korban perundungan karena rupanya yang jelek. Namun, ketika dewasa, sang itik berubah menjadi angsa cantik yang membuat semua orang yang melihatnya pangling.
Nah, Juergen Klopp memiliki cara pandang tak jauh beda ketika melihat transformasi Liverpool dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi, Klopp enggan menyebut Liverpool sebagai 'Si Itik Buruk Rupa'. Alih-alih, manajer berkebangsaan Jerman itu punya pengibaratannya sendiri yang terasa lebih segar dan seksi.
"Liverpool telah berubah dari cewek desa yang tak menarik menjadi supermodel. Sekarang kami menjadi satu dari lima atau enam tim terbaik di Eropa lagi. Saya tak tahu kapan tepatnya terakhir kali kami diperhitungkan, tetapi saya yakin itu sudah terjadi lama sekali," ucap Klopp, sebagaimana dilansir Goal International.
"Makanya sekarang saya begitu bahagia dengan orang-orang Liverpool. Ketika mereka melihat tim mereka, mereka bilang dengan bangga, 'Lihat ini, lihat warna merah itu, inilah Liverpool'. Begitulah yang saya rasakan," imbuh manajer berusia 46 tahun itu.
2010 adalah tahun ketika Liverpool sempat berada di bayang-bayang kebangkrutan, sebelum pada akhirnya diselamatkan Fenway Sports Group (FSG). Meski begitu, kedatangan FSG tak langsung membuat Liverpool kembali menjadi salah satu tim yang disegani di jagat sepak bola Eropa.
Di lima musim awal, FSG terus bersikeras untuk menerapkan pendekatan moneyball dalam aktivitas transfer Liverpool. Moneyball merupakan nama metode yang digunakan Red Sox -- tim bisbol yang juga dimiliki FSG -- untuk merekrut pemain-pemain berdasarkan statistik. Dan sebenarnya, sah-sah saja untuk menerapkan gaya ini.
Masalahnya, ketika itu Liverpool tak memiliki figur-figur yang pas. Direktur Teknik Liverpool kala itu, Damien Commoli, terus mendatangkan pemain-pemain yang telah melewati masa jayanya atau tak cocok dengan sistem. Pembelian terbaik Commoli hanya tiga: Luis Suarez, Philippe Coutinho, dan Daniel Sturridge.
Masalah bertambah ketika manajer Liverpool, mulai dari Kenny Dalglish hingga Brendan Rodgers, juga tak memiliki selera bagus menyoal pemain dan kaya dalam unsur taktikal demi menghadapi sepak bola modern. Maka, setiap bursa transfer dibuka, Liverpool terus saja menghambur-hamburkan uang tanpa hasil yang jelas.
Situasi ini kemudian berubah drastis saat Liverpool mendatangkan Juergen Klopp pada Oktober 2015. Untuk mendukung visi Klopp, Liverpool merekrut Michael Edwards untuk mengisi posisi Direktur Olahraga. Kemudian Peter Moore juga didatangkan untuk mengisi posisi CEO dan mengurus sponsorship.
Baik Edwards dan Moore memiliki reputasi baik dan pengalaman segudang. Sebelum ke Liverpool, Edwards merupakan Direktur Teknik Borussia Dortmund. Dialah sosok yang bertanggung jawab di balik kedatangan pemain-pemain macam Robert Lewandowski, Mats Hummels, Marco Reus ke tim berjuluk Die Borussen itu.
Sementara, Moore memiliki pengalaman lebih dari satu dekade menjadi petinggi di berbagai perusahaan teknologi di Amerika Serikat. Perlu dicatat pula bahwa Moore adalah seorang scouser. Dengan begitu, Moore tahu bagaimana sudut pandang lokal dan bagaimana menjual jenama Liverpool kepada pihak sponsor.
Impak kerja keras ketiga pihak ini begitu terasa di Liverpool. Liverpool mendapatkan suntikan dana besar setiap musimnya dari sponsor juga penjualan pemain. Uang itu kemudian digunakan untuk membeli pemain yang hendak menuju masa keemasannya. Sisanya tinggal Klopp saja memoles para pemain Liverpool di atas lapangan.
Setelah beberapa musim, akhirnya skuat Liverpool komplet. Ada Alisson Becker menjaga gawang, Virgil van Dijk sebagai komando di lini belakang, Fabinho Tavares sebagai pemutus sekaligus pemercepat aliran bola di middle-third, hingga ragam opsi penyerang yang tak melulu Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino.
Sehingga, jangan kaget jika Liverpool memiliki laju impresif musim ini. Ya, 'Si Merah' memang gagal menjuarai Premier League, tetapi mengakhiri musim dengan 97 poin tetap saja eksepsional. Dan.. Liverpool bisa mengakhiri musim ini dengan trofi Liga Champions, andai menang atas Tottenham Hotspur di laga final yang dihelat di Wanda Metropolitano, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB.
