kumparan
13 April 2019 8:06

Voter Dorong KLB Lebih Cepat

Kongres PSSI 2018 di ICE BSD. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Komite Eksekutif (Exco) PSSI sudah mengetuk palu pada 19 Februari lalu akan melaksanakan Kongres Luar Biasa. Hanya, kabar KLB tenggelam begitu federasi memunculkan wacana bahwa KLB mesti mendapat rekomendasi FIFA.
ADVERTISEMENT
Seiring kedatangan FIFA ke Jakarta pada 10-11 April lalu, PSSI akhirnya mengakui jika KLB tak harus meminta restu FIFA. Alhasil, Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, memunculkan pernyataan bahwa KLB ialah wewenang Exco PSSI.
Karena itu, Tisha lebih lanjut menuturkan bahwa persiapan KLB, seperti membentuk Komite Pemilihan (KP), Komite Banding Pemilihan (KBP), tanggal, dan tempat KLB ditentukan di rapat Exco PSSI. Rapat tersebut direncanakan digelar dalam sekitar minggu terakhir April.
Jalan KLB sudah mulai tampak. Pemilik suara tinggal memonitor pernyataan Sekjen PSSI itu. Pasalnya, dalam rentang hampir dua bulan sejak keputusan menggelar KLB , Exco PSSI tampak belum bergerak sedikit pun.
Jika menilik Statuta PSSI Pasal 30 Ayat 2 menyebut bahwa KLB harus diadakan dalam waktu tiga bulan setelah keputusan KLB itu. Artinya, KLB kudu bergulir pada 19 Mei mendatang.
ADVERTISEMENT
Tanggal tersebut sejatinya ideal. Toh, PSSI sempat berdalih kalau KLB tidak ingin mengganggu masa politik, khususnya pemilihan umum pada 17 April nanti. Tanggal 19 Mei sudah tentu sesuai dengan dalih federasi.
Lalu, pertanyaannya, kenapa kemudian PSSI mengembuskan kabar kalau KLB idealnya digelar Agustus? Mengingat itu tentu saja sudah tak sesuai Statuta PSSI.
Ketidaksesuaian berikutnya ialah soal pemberitahuan tempat, tanggal, dan acara KLB yang menurut Statuta PSSI Pasal 30 Ayat 3 mesti dikirim selambat-lambatnya empat minggu sebelum KLB. Dengan kata lain, tenggat pemberitahuan itu ialah tanggal 19 April.
Masalahnya, hingga kini pun tak ada tanda-tanda pembentukan KP dan KBP. Bahkan rapat Exco baru digelar sekitar tanggal 22-28 April.
Beberapa pemilik suara sudah mulai buka suara terkait fakta tersebut. Esti Puji Lestari—Presiden Persijap Jepara—tetap ingin mendorong KLB digelar sesuai Statuta PSSI.
ADVERTISEMENT
“Ini ada apa memang? Kenapa kabarnya malah Agustus? Ini ‘kan sudah tidak sesuai. Ini apa ada rencana mengulur-ngulur waktu sampe masa kepengurusan selesai atau bagaimana?” ujar Esti ketika ditemui kumparanBOLA.
Esti lebih lanjut menuturkan sudah merencanakan pertemuan dengan beberapa voter untuk mempercepat KLB sesuai amanat Statuta PSSI. Ia menyebut ada pembicaraan pada 19 April mendatang di Yogyakarta.
Presiden Persijap itu sebetulnya sudah sempat berkirim surat ke PSSI mengusulkan KLB digelar pada Maret lalu. Namun, menurut Esti, surat itu tidak mendapat balasan sama sekali.
“Saya mau ada pembicaraan dengan beberapa voter di Yogyakarta. Kami mau ada lokakarya lalu bicara soal KLB. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi mau bagaimana KLB ini. Saya mau dorong terus. Bahkan, saya pernah bersurat, tapi tidak pernah dibalas. Ya... sewajarnya saja kalau tahu etika paling tidak dibalas apa saja. Intinya dibalas, jangan didiamkan. Terdekat, saya akan minta PSSI mengeluarkan surat undangan. Harus segera keluar undangan itu, saya mau lebih gencar lagi,” kata Esti.
ADVERTISEMENT
Persiapan Kongres PSSI 2019. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.
Vokalnya Esti menyuarakan KLB sebenarnya mendapat tanggapan negatif dari federasi maupun beberapa voter. Ia disebut sebagai orang yang ambisius untuk masuk di PSSI. Namun, Presiden Persijap itu tak mengindahkan pandangan tersebut.
Esti pun menampik tanggapan tersebut. Ia mengungkapkan sejatinya tak punya ambisi yang disangkakan tadi.
“Kalau tidak ada yang mampu, ya, saya coba naik ke PSSI. Saya sebetulnya sudah males mengurus sepak bola ini. Ya, inginnya cuma di Persija saja. Akan tetapi, saya gerah melihat federasi negatif terus begini. Kalaupun ternyata jajaran petinggi PSSI berikut Exco PSSI sudah mampu, saya tak perlu naik lagi,” tuturnya.
Ia akan bersuara lantang lagi untuk mempercepat KLB. Pasalnya, perombakan di jajaran petinggi PSSI perlu dilakukan segera.
ADVERTISEMENT
“Sekarang mau apa lagi? Menunggu pemilihan umum selesai sudah dituruti. Kok mau mengulur-ngulur lagi. Saya mau teriak lagi. Ini harus segera dibenahi. Sudahlah PSSI jangan malu untuk merekrut konsultan dari luar. Mulai belajar bagaimana memanajemen organisasi, bagaiamana tata kelola sepak bola yang baik. PSSI itu tak cuma butuh orang yang mengerti sepak bola, tapi juga yang ahli manajemen atau profesional lain. Biar federasi dan liganya tertata baik. Saya, toh, juga bukan orang yang mengerti sekali sepak bola, tapi saya mau belajar dan saya mengerti manajemen organisasi,” kata Esti.
Ya, suara dari Esti selayaknya menjadi pemicu voter untuk berani bersuara mendorong KLB segera dilangsungkan. Teriakan tersebut tak sah-sah saja asal sesuai Statuta PSSI.
ADVERTISEMENT
Tak cuma pemilik suara, pecinta sepak bola Indonesia pun mesti bergerak. Sejauh ini, ketika beberapa petinggi PSSI terciduk Satuan Tugas Anti-Mafia Bola, belum ada pergerakan menuntut perombakan di tubuh federasi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan