Kumparan Logo

Wacana Kartu Oranye di Sepak Bola, Apa Fungsinya dalam Pertandingan?

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Nantes Dennis Appiah mendapatkan kartu merah oleh wasit Mikael Lesage di Stade de la Beaujoire-Louis Fonteneau, Nantes, Prancis, Sabtu (19/2/2022). Foto: Stephane Mahe/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Nantes Dennis Appiah mendapatkan kartu merah oleh wasit Mikael Lesage di Stade de la Beaujoire-Louis Fonteneau, Nantes, Prancis, Sabtu (19/2/2022). Foto: Stephane Mahe/REUTERS

Regulasi kartu peringatan kuning dan merah dalam dunia sepak bola memang sudah diterapkan sejak dulu. Bahkan, menurut Football Stadiums, seluruh lapisan Liga Inggris mulai memperkenalkan aturan tersebut sejak 1976.

Namun, ada pihak yang tampaknya tak puas jika sepak bola hanya punya dua kartu dalam aturannya. Muncullah wacana penggunaan kartu oranye. Ide ini pertama kali disuarakan pada 2014 oleh Jerome Champagne, salah satu kandidat presiden baru FIFA kala itu.

Apa fungsinya? Champagne mengatakan bahwa regulasi kartu oranye bisa diimplementasikan untuk menghindarkan para pemain langsung mendapatkan kartu merah, jika pemain secara tidak sengaja melanggar aturan teknis.

Wacana tersebut tidak berhenti di situ saja. Eks wasit asal Inggris yang pernah menjadi pengadil di dua perhelatan Piala Dunia, George Courtney, ikut menganggukkan kepala terkait ide ini. Terlebih, ia juga mengatakan regulasi ini nantinya bakal disambut baik.

Wasit wasit Sergei Karasev memberikan kartu merah untuk pemain Belanda Matthijs de Ligt saat babak 16 besar Euro 2020 melawan Republik Ceko. Foto: Laszlo Balogh/Reuters

"Saya rasa regulasi ini bakal disambut baik. Itu harus berada di bawah kriteria yang tepat. Tetapi saya pikir wacana tersebut sudah saatnya digunakan," ucap Courtney kepada BBC.

"Saya berharap, FIFA mau mempertimbangkannya. Kartu merah harus tetap ada, tetapi untuk pelanggaran lain, kartu oranye bisa jadi keputusan yang tepat," pungkasnya.

Mantan wasit lainnya, Roger Milford, juga mengatakan hal serupa. Tak tanggung-tanggung, ia berpendapat bahwa kartu merah dalam sepak bola merupakan keputusan yang terlalu bersifat diktator. Alhasil, regulasi kartu oranye bisa jadi jalan tengahnya.

Baru-baru ini, eks bos Crystal Palace, Simon Jordan, juga mengangkat kembali isu kartu oranye yang hampir memudar. Ia mulai menggaungkan hal ini lagi kala berada di podcast talkSPORT pada Selasa (12/4).

Pemain AS Roma Bryan Cristante diberi kartu kuning oleh wasit saat pertandingan Bodo/Glimt v AS Roma pada Jumat (8/4/2022). Foto: Mats Torbergsen/NTB via REUTERS

"Saya pikir ada kasus kartu oranye bisa digunakan pada sebuah insiden pelanggaran. Sederhananya, seorang pemain sebelumnya telah melakukan pelanggaran dan mendapatkan kartu kuning, ia bisa saja bakal diganjar kartu merah [kartu kuning kedua] hanya karena melepas baju pada saat berselebrasi gol," ujar Jordan kepada talkSPORT.

"Kejadian seperti itu pasti bakal memicu pertikaian antar pemain sehingga penggunaan kartu oranye adalah keputusan tepat. Pemain yang melanggar diharuskan meninggalkan lapangan selama 10 menit," tandasnya.

Pemaparan Jordan boleh dibilang masuk akal karena kejadian semacam itu boleh dibilang sangat disayangkan. Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir, FIFA memang menggunakan hukuman kartu bagi para pemain sepak bola yang melanggar regulasi teknis sedemikian rupa.

Meskipun begitu, tidak sedikit para penikmat sepak bola di media sosial yang sama sekali tak setuju. Mereka menyebutkan bahwa seorang pesepak bola di level tertinggi harus selalu berusaha bersikap profesional dan berhati-hati dalam pelanggaran aturan teknis.

Apakah nantinya FIFA bakal mengimplementasikan regulasi ini di sepak bola? Menarik dinantikan.

Penulis: Hamas Nurhan RT