1.711 Siswi Berebut Juara di MilkLife Soccer Challenge Bandung

MilkLife Soccer Challenge (MLSC) hadir lagi di Bandung. "Kota Kembang" jadi kota ketujuh yang menggelar turnamen sepak bola putri besutan Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife di tahun ini.
MLSC Bandung 2025 ini berlangsung mulai 28 Mei hingga 1 Juni esok di Lapangan Pusenif serta Lapangan Sidolig, Bandung. Di gelaran kali ini, sebanyak 1.711 siswi dari 71 SD/MI di Kota Bandung. Jumlah peserta ini jadi yang terbanyak dari tujuh kota yang sudah menggelar MLSC di tahun ini.
Peserta MLSC Bandung 2025 ini terbagi dalam dua kelompok usia: U-10 diikuti 37 tim sedangkan U-12 diikuti oleh 121 tim.
Sama seperti beberapa kota lain dan seri sebelumnya, MLSC Bandung ini menghadirkan beragam challenge yang seru bagi peserta. Namun, yang utama tetaplah turnamen sepak bola 7 vs 7 di kelompok umur U-10 dan U-12.
Tak hanya itu, ada juga Skill Challenge guna menguji kemampuan dasar sepak bola pemain. Di Skill Challenge, ada lima tantangan yang disajikan mulai dari Shoot on Target, 1 on 1, Penalty Shoot, Dribbling, dan Passing & Control.
Tak ketinggalan, ada juga Festival SenengSoccer yang diperuntukkan bagi siswi U-8. Festival ini dihadirkan guna memperkenalkan sepak bola terhadap siswi usia dini dengan cara yang menyenangkan.
Di SenengSoccer, ada tiga tantangan seru yang harus diselesaikan peserta. Pertama, lari zigzag dan melakukan throw-in. Kedua, menggiring bola melewati rintangan cone lalu menendangnya ke gawang. Ketiga, melompat dengan dua kaki melewati rintangan sebelum melakukan tembakan ke gawang.
Setelah menyelesaikan semua tantangan, peserta harus berlari ke depan untuk menekan tombol timer. Pemain dengan catatan waktu tercepat akan menjadi pemenang Festival SenengSoccer.
Gelaran MilkLife Soccer Challenge 2025 ini mendapat sambutan baik dari Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung. Dirinya senang karena di seri ini banyak sekali siswi U-8 hingga U-12 yang turut serta dari sekolah-sekolah di Bandung.
"Saya menyambut baik ya karena memang kita memerlukan banyak sekali turnamen dan kompetisi di awal tentunya sebagai bagian dari pembinaan dan saya lebih surprise lagi karena ternyata pesertanya adalah siswi putri dari seluruh SD usia 8, 10, 12 tahun. Ini merupakan titik awal bagaimana pembinaan kita lakukan sejak dini,” kata Farhan.
“Tapi memang berikutnya adalah mesti ada konsistensi, saya dengar malah di Malang sedang ada Piala Pertiwi U-14 dan U-16 nah itu salah satu bentuk sustainability atau keberlanjutan supaya 3-4 tahun ke depan punya timnas wanita yang hebat banget. Keren ini,” sambungnya.
