Kumparan Logo

Cerita Ayu Lidya eks-Persis: dari Idolakan Shafira Ika, Berakhir Jadi Roommate

kumparanBOLANITA

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Perjalanan Ayu Lidya Agustin Meok bersama Persis Solo Women memang berakhir sedih. Persis Women dibubarkan manajemen sebelum sekalipun mengikuti turnamen atau liga resmi di level nasional. Beberapa turnamen lokal memang sempat mereka ikuti, dan menang, tapi semua rasanya belum lengkap sebab gelar Liga 1 Putri belum mereka raih.

Bukannya tak mampu, tapi memang Liga 1 Putri itu sendiri belum jadi bergulir lagi sejak edisi pertama (dan sampai saat ini, terakhirnya) di 2019. Janji-janji dari PSSI memang manis, tapi cuma di mulut saja.

Karena ketiadaan liga itu pulalah, manajemen Persis akhirnya membubarkan tim wanita mereka. Tim yang, di atas kertas, berisi pesepak bola wanita terbaik negeri ini.

Usai dibubarkan September lalu, para pemain mencar masing-masing. Ada yang aktif tarkam, ada yang bergabung dengan tim PON provinsi, ada yang ke luar negeri—macam-macam. Namun bagi pemain, memori soal Persis Women yang tanpa tanding itu meninggalkan semacam rasa pahit di mulut. Sebuah janji kejayaan yang dimaling ketidakseriusan pemangku kebijakan dalam mengembangkan sepak bola wanita Indonesia.

Ayu Lidya Agustin Meok, pesepak bola wanita asal Bali. Foto: Antika Fahira/kumparan

Tapi tidak semua berakhir pahit, memang. Di taraf individu, menjadi pemain Persis Women memberikan banyak pengalaman, pemusatan latihan yang profesional, juga hubungan baik ke banyak orang. Yang terakhir dirasakan Ayu Lidya Agustin Meok saat berseragam Persis Women.

Sebelum fokus di sepak bola, Ayu Lidya fokus di olahraga lain, yakni karate. Di rumahnya bahkan ada dojo khusus untuk karate. Namun, ekstrakurikuler sepak bola membawanya ke arah baru. Pelan-pelan, tumbuh kecintaannya pada sepak bola.

Salah satu orang yang turut andil dalam keseriusannya dalam sepak bola adalah Shafira Ika. Ayu Lidya mengatakan, bahwa Shafira jadi sosok pertama yang ia lihat dalam sepak bola wanita Indonesia.

“Jujur, pertama kali lihat sepak bola wanita Indonesia itu lihat Shafira Ika, sih. Cuma aku ngeliat kayak, ‘Oh, dia cantik, tapi dia jago main bola’,” ujarnya kepada kumparanBOLANITA di Bintaro, (13/12/2023).

instagram embed

Shafira yang awalnya dia lihat dari kejauhan itu kemudian menjadi rekan setimnya di Persis Women. Bahkan, keduanya jadi teman sekamar. Roommate. Sosok yang menginspirasi, kini jadi karibnya.

“Aku awalnya kayak, ‘Wah, Shafira Ika, nih. Aku bisa satu tim’. Awalnya kita ya canggunglah,” kata Lidya.

Tapi lama kelamaan, keduanya makin klop. Menurut Ayu Lidya, Shafira tak cuma cantik dan jago main bola, tapi juga rendah hati ke pemain lainnya. Ban kapten Persis yang melingkar di lengannya terasa pas dan pantas dikenakan.

“Iya, ketika kenal dia kayak, ‘Wah, humble orangnya.’ Jadi aku bener-bener kayak, wah, seneng banget, nih. Enggak salah ngidolain dia,” pungkasnya.

instagram embed