Cerita Keluarga Nabila Divany, Tempuh 3 Hari Bermobil demi Tonton Anak di Timnas
·waktu baca 2 menit

Bagaimana rasanya melihat pemain timnas berbaris, tangan mengepal memegang dada, bernyanyi keras Indonesia Raya? Tentu saja bungah dan bangga. Mungkin juga rasa haru, melihat kulminasi perjuangan atlet muda yang bersaing melawan puluhan ribu atlet lain se-Indonesia.
Apa jadinya ketika satu di antara 11 pemain itu, adalah sanak keluargamu? Atau, yang lebih menggetarkan hati lagi, kalau ia adalah buah hatimu, yang sejak bayi merengek hingga kini beranjak dewasa, kau temani sepenuh hati?
Maka perjalanan melelahkan selama empat hari tiga malam pun akan kau lalui. Begitulah yang dengan gembira dilakukan oleh Suniati dan Heru Septiono. Keduanya adalah orang tua Nabila Divany, bek Timnas Wanita Indonesia U-17 yang kini memperjuangkan nama baik bangsa di kancah Piala Asia Wanita U-17 di Bali.
Suniati dan Heru tinggal di Tanjung Gading, Lampung, Sumatera. Sementara, buah hati mereka, Nabila Divany, akan tampil di Gianyar, Bali. 1.526 kilometer memisahkan mereka. Kalau tak teringat bahwa bermain sepak bola adalah satu-satunya yang anak mereka inginkan sejak kecil, mungkin tak terbayang buat suami-istri itu berkendara jalur darat sedemikian lama.
Tapi sepak bola memang mimpi Nabila. Ia adalah atlet taekwondo yang menjanjikan, namun hatinya memilih sepak bola.
“Nabila ini (aktif) di taekwondo, juara juga. Terus disuruh pilih, mau taekwondo atau bola. Bola dia jawabnya. Padahal kita sebagai oarng tua penginnya Nabila pilih taekwondo,” ujar Suniati kepada kumparanBOLANITA, Rabu (8/5), di Abian Srama Hotel, Denpasar, Bali.
“Awalnya tidak saya izinkan. Karena perempuan, panas kan, terus lari-lari lapangannya kan luas banget. Jadi kita khawatir,” katanya.
Kehidupan Nabila kecil memang sudah lekat dengan sepak bola. Dari umur tujuh tahun, ia sudah mulai bermain setara dengan laki-laki seumurnya. Nabil seakan sudah mantap soal masa depannya, meskipun saat ia masih kecil. Ibunya bercerita, saat ditanya cita-cita, Nabila kecil selalu menjawab satu, “Pemain bola internasional.”
Bahkan, sepulang sekolah, saat teman-teman perempuannya pulang, Nabila bermain di lapangan sekolah bersama teman-temannya yang laki-laki.
“Ini yang ketiga kalinya Nabila ke Bali. Dia turnamennya gabung sama cowok-cowok, satu-satunya perempuan. Waktu itu masih usia 13 tahun,” kisah Suniati.
Kekhawatiran seorang ibu melihat anak perempuannya bermain olahraga dengan kontak fisik pastilah masih ada. Namun, dukungan untuk melihat anaknya berbahagia jauh lebih besar. Apalagi kini melihat anaknya mengenakan seragam tim nasional Indonesia, hilang segala ragu.
“Sangat bangga sekali. Apalagi itu kemauannya sejak kecil. Selama kegiatannya positif, orang tua selalu mendukung penuh apa yang dicita-citain sama anaknya,” katanya.
