Kumparan Logo

Dari Kiper PSIS Putri Jadi Wasit, Novitasari Kejar Mimpi Lewat Peran Berbeda

kumparanBOLANITA

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wasit wanita, Novitasari Mulat Ratri, saat menjadi wasit. Foto: Dok. Pribadi Novitasari Mulat Ratri
zoom-in-whitePerbesar
Wasit wanita, Novitasari Mulat Ratri, saat menjadi wasit. Foto: Dok. Pribadi Novitasari Mulat Ratri

Ada pemandangan menarik di MilkLife Soccer Challenge (MSLC) Semarang, 2-6 September 2026 kemarin. Di antara ratusan atlet perempuan usia 10-12 yang bermain di Stadion Undip itu, berdiri seorang wasit perempuan yang cekatan ke segala penjuru lapangan.

Wasit perempuan itu itu bernama Novitasari Mulat Ratri. Jika orang tua peserta MLSC mengenalnya hanya sebagai wasit, orang-orang terdekat dan pemerhati sepak bola wanita di Semarang pasti tahu kalau Novita adalah kiper PSIS Putri saat mereka berlaga di Liga 1 Putri 2019.

Ia andalan di bawah mistar gawang, bermain bersama pemain-pemain macam Rosdillah Siti di bawah panji kesayangan Mahesa Jenar. Tapi setelah Liga 1 Putri, yang ternyata belakangan kita tahu tak kembali sampai tujuh tahun kemudian, Novitasari memutuskan banting setir jadi wasit.

“Saya terjun di dunia wasit itu 2019. Setelah saya selesai dengan Liga 1, saya memutuskan mengambil lisensi wasit,” ujar Novitasari kepada kumparanBOLANITA, Sabtu (5/9) di Stadion Undip, Semarang.

“Jadi wasit itu ada tantangannya sendiri. Kayak menariklah seorang wanita menjadi wasit. Untuk menjadi pemain pro atlet sepak bola, semakin ke sini atlet sepak bola yang dicari yang umur-umur muda. Kalau seperti saya yang udah enggak muda lagi, bisa mencoba di wasit,” kata perempuan yang baru berusia 28 tahun itu.

instagram embed

Novita bercerita, keputusan ini justru membawa banyak pengalaman baru. Walaupun ia mengaku, tak semuanya positif.

“Di pertandingan laki-laki, ada aja yang bilang, ‘Ih, wasitnya perempuan nih’. Padahal nggak semua keputusan kita salah. Kadang juga diragukan para pelatih, ‘Emang bisa wasit perempuan mimpin pertandingan laki-laki?’,” kata Novitasari menirukan cemoohan terhadapnya.

“Padahal, di Piala Dunia ada wasit perempuannya juga,” lanjutnya.

Pesepak bola wanita yang sudah pensiun menjadi atlet sebenarnya punya banyak pilihan, tapi wasit bukanlah satu pilihan yang klise. Kebanyakan, para mantan pemain memilih jadi pelatih.

“Saya sendiri kalau melatih itu kurang sabar. Kadang pemain diaturnya susah, sudah saya coba buat jadi pelatih, tapi passion saya nggak di situ,” ujar Novitasari.

Wasit wanita, Novitasari Mulat Ratri, saat menjadi wasit. Foto: Dok. Pribadi Novitasari Mulat Ratri

Kini, ia berstatus Wasit Kota Semarang. Di MLSC kemarin, Novitasari tak cuma menjadi pengadil, tapi bertugas mengajari anak-anak kecil soal Laws of the Game.

“Karena MLSC ada tiap tahun, pemainnya sudah mulai berkembang. Kalau dulu ngrunthel (mengerubung) jadi satu, sekarang sudah tahu taktik. Passing, lemparan pun sudah benar,” sambungnya.

Buat para perempuan, Novitasari mendorong agar mereka tak ragu mencoba jalan karier yang sebelumnya terlihat tak umum buat perempuan. Salah satunya adalah wasit.

“Menarik seorang wanita memimpin laga laki-laki, wibawa kita di tengah lapangan itu kelihatan. Ayo kita kembangkan sumber daya perempuan, itu jadi tantangan tersendiri,” katanya.

instagram embed