Dari Matildas untuk Kaptennya: Kami Akan Memenangkannya Buatmu, Sam Kerr
·waktu baca 3 menit

Sudah 15 hari Piala Dunia Wanita 2023 digelar di Australia dan Selandia Baru. Namun, Samantha Kerr sama sekali belum bermain dalam tiga laga awal Australia.
Apes sekali, sebetulnya. Saat Piala Dunia, turnamen terbesar dalam hidup pemain sepak bola, digelar di halaman rumah sendiri, Kerr yang selalu ditempatkan sebagai wajah sepak bola wanita Australia justru tak mampu mengikutinya.
Sudah begitu, lewat dua pertandingan pertama, Australia hampir tersingkir di fase grup, sama seperti yang dialami Selandia Baru sehari sebelumnya. Mereka cuma menang 1-0 dari Rep. Irlandia, tapi kalah 2-3 dari Nigeria.
Maka, ketika Australia harus menghadapi Kanada di pertandingan terakhir Grup B, pada sebuah pertandingan hidup-mati menghadapi tim yang ranking FIFA-nya berada di tiga tingkat di atas mereka, orang-orang mulai meragu: tanpa Sam Kerr, bisakah Australia menang melawan Kanada dan lolos ke 16 besar? Ataukah ini akhir perjalanan mereka, menjadi pemegang rekor sebagai tuan rumah paling tak berdaya di Piala Dunia Wanita?
“Tapi perak lebur dan murni di jilatan daun api, begitu pula manusia,” begitu tulis Helen Keller suatu masa. “Pada masa paling sulitlah karakter seseorang terbentuk dan mengemuka.”
Timnas Australia menjawab tantangan dengan berdiri lebih tegak. Mereka yakin bisa melakukan segalanya; untuk kapten mereka, untuk Australia yang jadi tuan rumah, untuk mereka sendiri.
“Menanglah tanpaku, biar aku punya waktu sepekan lagi untuk berlatih dan memulihkan diri,” kata Sam Kerr kepada kawan-kawannya, jelang laga melawan Kanada, seperti disebutkan oleh Tony Gustavsson kepada The Guardian.
“Tentu saja, kau duduk manislah di bangku cadangan dan kami akan menangkan laga ini buatmu,” ujar Gustavsson menirukan rekan Kerr sebelum pertandingan penting itu.
Apa yang terjadi di ruang ganti itu membuat yakin Gustavsson, bahwa tim yang ia pimpin akan baik-baik saja.
“Kau hampir bisa melihat keyakinan dan komitmen pemain dari wajah mereka saat itu. Dan tetap percaya, meskipun tampil tanpa striker terbaik di dunia, tetap tampil baik dan mencetak empat gol melawan juara Olimpiade (Kanada), aku rasa ini benar-benar kuar biasa,” ujar Gustavsson.
Sore itu, Australia bermain begitu dominan melawan Kanada yang punya pemain-pemain bagus. Mary Fowler bermain begitu dinamisnya, tak seperti pemain yang baru saja beranjak dari keremajaannya. Hayley Raso juga seperti tampil dengan misi khusus menggantikan sang kapten; keberadaannya di tim seperti tungku pembakaran yang mendapatkan kayu kering tak habis-habis. Maka, ketika Stephanie Catley menutup malam lewat adu penalti di menit-menit tambahan babak kedua, Australia cuma butuh berpesta.
Senin (7/8) nanti, Sabtu (5/8), The Matildas akan menjalani partai 16 besarnya. Denmark tentu bukan lawan yang mudah, namun dengan Sam Kerr yang kemungkinan telah akan kembali, sesuatu jadi terlihat mungkin bagi Australia.
