FIFPro: Sepertiga Pesepak Bola Wanita Top Masih Nyambi Kerjaan Kedua buat Hidup
·waktu baca 3 menit

Sepak bola wanita di dunia memang sudah berkembang jauh, katakanlah, sejak 10-15 tahun yang lalu. Meski begitu, perkembangan pesat, deretan investasi yang masuk, juga perhatian para fans sebagai “konsumen” masih belum cukup memberikan penghidupan yang layak bagi pesepak bola top di dunia.
Jangankan dibandingkan dengan pesepak bola pria, hampir 30 persen pesepak bola top di seluruh dunia masih perlu bekerja tambahan atau nyambi kerjaan lain karena gaji dari bersepak bola tak cukup menghidupinya.
Hal tersebut jadi temuan dari penelitian yang dilakukan oleh FIFPro, FIFA, dan Edith Cowen University dari Australia kepada total 736 pesepak bola wanita dari 12 negara di 6 benua. Negara tersebut termasuk Australia, Botswana, Brasil, Chile, Fiji, Korea Selatan, Meksico, Belanda, Selandia Baru, Nigeria, Amerika Serikat, dan Swedia.
Dalam laporannya berjudul Multiple Job-Holding In Elite Women’s Football, ditemukan beberapa fakta, seperti:
71,9% pemain memiliki kontrak kerja profesional dan berbayar.
67% pemain mendapatkan sebagian besar penghasilan dari bermain sepak bola.
27% pemain memiliki pekerjaan sampingan.
36% pemain sedang menempuh pendidikan formal.
Lebih dari setengah (52,8%) menghasilkan kurang dari Rp81.612.000 per tahun dari bermain sepak bola.
60% saat ini memiliki pekerjaan sampingan dengan kontrak non-permanen.
20% pemain memiliki pekerjaan sampingan penuh waktu dan 23% harus cuti tanpa bayar untuk memenuhi komitmen sepak bola mereka.
Hanya 18% pemain yang memiliki kontrak tertulis ketika menjadi anggota tim nasional.
Cuma 26,1% yang menghasilkan pendapatan lebih dari Rp309.700.000 per tahun dari bermain sepak bola (Rate 1 USD = Rp16.300).
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dalam level tertinggi pun, tak semua pesepak bola wanita bisa fokus bermain bola dan mendapatkan penghidupan yang layak dari bermain sepak bola.
Bayaran sebagian besar pemain juga masih sangat kecil apabila dibandingkan dengan umur karier dan risiko yang mereka hadapi. Dus angka pemain yang meneruskan sekolah cukup tinggi (36%).
Akibatnya, pemain aktif masih harus bekerja sampingan baik paruh maupun penuh waktu. Tentu ini tidak ideal. Seorang atlet papan atas seharusnya punya seluruh waktu yang ada untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya. Namun, karena kebutuhan finansial tak terpenuhi, mereka harus kehilangan waktu dan kesempatan ini.
Belum lagi tekanan yang muncul dari juggling dua pekerjaan atau bahkan lebih. Risiko yang diterima pemain dengan beberapa pekerjaan otomatis lebih tinggi, baik secara fisik maupun psikis.
“Sepak bola wanita elite mengalami peningkatan profesionalisasi yang eksponensial, tapi tidak merata, dalam dua dekade terakhir. Akses menjadi pesepak bola profesional masih belum merata di dunia, yang artinya banyak pemain harus mendukung karier sepak bola mereka dengan pekerjaan kedua,” ujar Dr. Alex Culvin, Kepala Riset dan Strategi Sepak Bola Wanita di FIFPro.
“Masalahnya, hal ini mengganggu kemampuan pemain untuk mendedikasikan waktunya untuk berkembang dalam dunia sepak bola profesional, juga mempengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka,” tuturnya dalam riset tersebut.
