Karier Pelatih Timnas Wanita Prancis: dari Tukang Bersih-Bersih ke Piala Dunia
·waktu baca 4 menit

Pelatih Timnas Wanita Prancis, Herve Renard, Juli ini memimpin Timnas Prancis ke Piala Dunia Wanita 2023. CV-nya mentereng, menjadi pelatih pertama yang membawa dua negara berbeda menjuarai Piala Afrika. Ia diharapkan membawa Les Bleues move on dari pelatih toksik Corinne Diacre, menuju trofi Piala Dunia Wanita yang pertama.
Renard sebenarnya bukan orang baru di dunia pelatihan sepak bola. Ia telah mulai aktif menjadi pelatih sejak 1999 silam. Namun, ternyata perjalanan gemilangnya itu sempat melewati tikungan yang tak terduga pada tempat yang tak terlalu berkilauan: menjadi tukang bersih-bersih.
Cerita bermula pada saat mantan bek Timnas Prancis itu memutuskan gantung sepatu di usianya yang ke-29. Kala itu, ia berangan-angan menjadi pelatih. Namun untuk memenuhi ambisinya itu, Renard harus mencari sumber pendapatan terlebih dahulu.
Ia kemudian ditawari untuk melatih di klub tempatnya bermain pada 1997-1998, SC Draguignan. Dirasa tak cukup jika hanya melatih saja, Renard pun mau tak mau mengambil pekerjaan bersih-bersih.
Saat melakukan tugasnya, ia pun bangun pada dini hari dan langsung pergi ke blok apartemen untuk membuang sampah dan mengerjakan tugas bersih-bersih lainnya sampai jam makan siang tiba. Di sore harinya, Renard kembali ke dunianya sebagai pelatih.
“Saya bangun jam setengah tiga pagi. Selesai sekitar tengah hari, lalu kemudian berangkat jam lima untuk berlatih di Draguignan,” ucap Renard seperti yang dilansir dari BBC, Senin (24/7).
“Kami berlatih dan saya akan kembali sekitar jam sembilan malam untuk makan, dan kemudian tidur jam 11 malam. Itu adalah ritme hidup saya selama delapan tahun,” lanjutnya.
Bisa dibilang, jenis pekerjaan itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah dilaluinya di lapangan hijau. Namun alih-alih merasa malu, Renard justru bangga telah melakoni pekerjaannya sebagai tukang bersih-bersih.
“Saya bangga telah melakukannya,” ungkap Renard. “Menjadi pesepak bola adalah kehidupan yang luar biasa. Kami memiliki kehidupan yang istimewa dan kami tidak boleh melupakan itu.”
Dari Tukang Bersih-Bersih ke Juara Afrika
Perjalanan karier Herve Renard di dunia kepelatihan baru mendapatkan titik yang lebih terang saat ia dipercaya untuk mengelola klub Cambridge United selama sembilan bulan.
Etos kerjanya yang keras dipuji. Kedisiplinannya yang sudah terlatih sejak ia masih menjadi petugas kebersihan itu diaplikasikannya ke pemain-pemain yang dilatihnya. Pada pramusim pertamanya, Renard menerapkan pola latihan kepada anak asuhannya dengan cara berlatih sejak pukul setengah enam pagi. Dalam waktu 24 jam, setidaknya ada tiga sesi latihan. Hal itu dilakukan agar kondisi tubuh para pemain segar, bugar, dan tidak mudah cedera.
Memang, perjalanan kariernya di Cambridge United itu tak berhasil. Begitu pula di klub Vietnam, Namh Dinh; begitu pula di AS Chergbourg, tim Divisi 3 Prancis; atau USM Alger di Aljazair. Takdir kemudian memperlihatkan Renard, bahwa ia punya peruntungan lebih bagus di tim nasional.
Total, sampai awal 2023 ini, Renard telah menukangi lima tim nasional berbeda: Zambia, Angola, Pantai Gading, Maroko, dan Arab Saudi. Prestasi tertingginya tentu saja ada di Zambia dan Pantai Gading, ketika ia membawa mereka menjuarai Piala Afrika pada 2012 dan 2015.
Tangani Timnas Wanita Prancis
The Journeyman kini pulang kampung. Misi Renard saat ini adalah menyelamatkan timnas wanita ibu pertiwinya sendiri.
Konflik tercipta antara Timnas Wanita Prancis dan pelatih mereka, Corinne Diacre. Hubungan keduanya tak harmonis. Situasi memanas ketika kapten Les Bleues, Wendie Renard, mengundurkan diri sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap Diacre. Begitu pula beberapa pemain lain yang memutuskan tak akan tampil dengan timnas apabila Diacre masih melatih.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) kemudian mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Diacre pada 9 Maret 2023. Berselang beberapa minggu kemudian, Herve Renard, yang sebenarnya tidak memiliki pengalaman melatih tim sepak bola wanita, dipilih untuk mengambil alih jabatan tersebut.
“Suasananya luar biasa sekarang. Saya tidak berusaha meyakinkan Anda, inilah kebenarannya,” tukas Renard.
“Di masa lalu, mungkin mereka tidak menyadari dengan tepat apa level mereka. Mereka harus mengerti bahwa tidak ada tim yang lebih baik dari mereka.”
“Anda harus percaya pada diri sendiri. Dan jika tim ini percaya pada dirinya sendiri, mereka pasti bisa melakukannya di Piala Dunia yang luar biasa ini,” tutupnya.
Sementara itu, Timnas Wanita Prancis baru saja melakoni matchday pertama Piala Dunia Wanita 2023 pada Minggu (23/7). Namun, mereka tidak bisa memetik kemenangan atas Jamaika usai bermain imbang 0-0 selama 90 menit.
