Liga Inggris Wanita akan Tetapkan Gaji Minimum untuk Pemain
·waktu baca 2 menit

Untuk pertama kalinya, gaji minimum resmi diberlakukan bagi para pemain di dua level teratas sepak bola wanita profesional Inggris mulai musim ini, yakni Women's Super League (WSL) dan WSL 2.
Kebijakan ini merupakan salah satu syarat baru dari WSL Football, perusahaan yang mengelola liga wanita profesional Inggris. Meski besaran pastinya belum diumumkan, gaji minimum itu digambarkan sebagai “upah penuh waktu”. Rinciannya akan dipublikasikan setelah regulasi terbaru WSL dan WSL 2 dirilis musim ini.
Besaran gaji nantinya akan menyesuaikan usia pemain, level liga, serta pengalaman bermain. Kebijakan ini juga telah melalui konsultasi bersama Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA).
“Kami melihat ini sebagai langkah positif. Selama ini banyak pemain harus membagi waktu dengan pekerjaan paruh waktu sambil tetap bermain sepak bola,” ujar COO WSL Football, Holly Murdoch, dikutip dari BBC Sport pada Rabu (3/9).
“Memberikan jaminan semua pemain bisa hidup dari sepak bola itu sangat penting. Ini baru awal, kerangka yang bisa terus kami kembangkan,” lanjutnya.
Selain gaji minimum, klub juga diwajibkan memenuhi standar baru terkait lingkungan berperforma tinggi. Hal ini sejalan dengan kerja sama jangka panjang WSL Football dengan Nike, yang akan menyediakan sepatu dan sarung tangan kiper untuk seluruh pemain yang belum memiliki sponsor perlengkapan.
Ada pula kolaborasi dengan Kyniska Advocacy, organisasi yang dipimpin atlet untuk memperkuat standar perlindungan pemain. Semua pemain akan mendapat akses ke layanan konseling rahasia sebagai jalur independen untuk menyampaikan keluhan.
Salah satu kewajiban baru adalah setiap klub harus memiliki posisi khusus “performance wellbeing” secara penuh waktu pada akhir musim ini. Peran itu fokus pada kesehatan fisik dan mental pemain, baik di dalam maupun luar lapangan.
Dampak ke Klub
Perubahan besar ini membuat beberapa klub kesulitan beradaptasi. Pada Mei lalu, Blackburn Rovers mundur dari WSL 2 karena enggan memenuhi tuntutan model profesional penuh. Sementara Wolves memilih tidak mendaftar meski berpeluang promosi.
“Kami sadar pertumbuhan pesat ini menimbulkan tantangan. Tapi kami harus menetapkan standar minimum profesionalisme di sepak bola wanita Inggris,” kata Murdoch.
