Liga Wanita Comeback usai 7 Tahun, Teddy Tjahjono Ingin IWL Berumur Panjang

Sepak bola wanita Indonesia mulai membangun diri lewat jalur yang lebih terstruktur dalam beberapa tahun terakhir. Djarum Foundation mengawali langkah tersebut lewat MilkLife Soccer Challenge (MLSC) yang menyasar pemain usia U-8, U-10, dan U-12 sejak tiga tahun lalu. Pembinaan kemudian berlanjut ke level U-15 dan U-18 melalui HYDROPLUS Soccer League (HPSL) yang bergulir sejak 2025.
Setelah menghadirkan kompetisi untuk pemain usia dini hingga remaja, jenjang yang dibutuhkan berikutnya adalah liga untuk pemain senior. Langkah itu diwujudkan oleh I.League dan PSSI melalui Indonesia Women’s League (IWL). Liga akan bergulir pada Minggu (18/10) mendatang, setelah tujuh tahun lalu kita menikmati Liga 1 Putri dan kemudian tak pernah muncul lagi.
CEO IWL, Teddy Tjahjono, mengatakan bahwa kehadiran liga ini menjadi bagian dari upaya melengkapi jalur pembinaan sepak bola wanita di Indonesia. Dengan adanya kompetisi untuk pemain senior, para pemain diharapkan memiliki kesempatan untuk melanjutkan karier hingga level profesional.
“Jenjang berikutnya adalah, ini harus kita buat supaya terus berkesinambungan. Tentu saja setelah U-18 adalah tim senior, sehingga akhirnya kemudian kita dengan dukungan dari Pak Erick Thohir, dari PSSI, kemudian dari PT Liga Indonesia Baru, akhirnya Indonesia Women's League digulirkan,” kata Teddy saat ditemui kumparanBOLANITA di kantor PT Liga Indonesia Baru (LIB), Jakarta, Kamis (15/10).
Menurut Teddy, kembalinya IWL bukan berarti pekerjaan membangun kompetisi sepak bola wanita telah selesai. Setelah tidak ada liga selama tujuh tahun, penyelenggara harus memastikan fondasi kuat agar kompetisi bisa berjalan secara konsisten.
“Kita mulai dari nol, karena setelah tujuh tahun yang lalu itu tidak ada kompetisi liga putri. Kita inginnya Indonesia Women's League, kita sebut IWL, bisa jalan dengan waktu yang sangat panjang, sehingga kita cukup berhati-hati untuk bisa membuat suatu fondasi yang kuat untuk supaya IWL ini bisa terus berkesinambungan,” ujarnya.
Enam Klub, Berkembang Selanjutnya
IWL musim perdana diikuti enam klub, yakni Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa United, Garudayaksa, Persikad Depok, dan FC Bekasi City. Seluruh peserta berasal dari wilayah Jabodetabek.
Teddy menjelaskan, pemilihan peserta dan wilayah kompetisi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi klub, terutama kebutuhan biaya perjalanan dan akomodasi. Ia ingin liga berkembang secara bertahap tanpa mengabaikan kemampuan klub untuk terus berpartisipasi.
“Pasti secara biaya operasional juga menjadi lebih murah, lebih efisien, karena dari sisi biaya perjalanan, biaya akomodasi, sehingga lebih murah. Sehingga kita mulai dari hal-hal seperti itu supaya IWL ini bisa terus berkesinambungan untuk ke depannya,” kata Teddy.
Meski baru diikuti enam klub, peluang penambahan peserta tetap terbuka. Teddy menyebut sudah ada beberapa klub yang tertarik bergabung sejak IWL diumumkan. Namun, ekspansi akan dilakukan dengan melihat perkembangan liga dan kesiapan klub peserta.
“Tahun-tahun ke depannya kita pasti ingin mengajak tim-tim yang lain, sehingga dari jumlah peserta juga akan semakin banyak. Tetapi kita juga harus mempertimbangkan mengenai kesinambungan, mengenai kondisi kesehatan klub-klub ini supaya tetap baik dan bisa seterusnya mengikuti IWL,” jelas Teddy.
Komitmen Jangka Panjang
Bagi Teddy, menjaga IWL agar tidak kembali vakum membutuhkan komitmen dari berbagai pihak, bukan hanya penyelenggara. PSSI dan klub peserta juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlangsungan liga.
“Kita punya komitmen jangka panjang dengan PSSI untuk menjalankan kompetisi IWL ini untuk jangka panjang. Kita juga punya komitmen dengan klub-klub peserta untuk bisa menjadi peserta untuk jangka panjang, dan otomatis semuanya kita akan bangun satu per satu di segala aspeknya supaya dari sisi sustainability-nya itu akan tetap sustain,” kata Teddy.
Ia menambahkan, pengembangan kompetisi perlu dilakukan bersamaan dengan pembangunan industri sepak bola wanita secara keseluruhan. Menurutnya, keberadaan liga yang berjalan dengan baik juga dapat mendukung perkembangan tim nasional.
“Jadi perlahan dari semua faktor-faktor pendukung, baik internal maupun eksternal, untuk membangun industri sepak bolanya bersama-sama dengan stakeholder sepak bola yang lain untuk membangun industri sepak bola putri ini supaya bisa terus maju, berkembang, dan pada akhirnya akan berkesinambungan. Di mana dengan platform pembinaan sepak bola putri yang baik termasuk kompetisi yang baik, itu akan mewujudkan timnas yang baik juga,” ujarnya.
Pada IWL musim perdana, setiap klub dijadwalkan menjalani minimal 15 pertandingan dengan format triple round robin. Ke depannya, IWL berharap jumlah peserta bertambah sehingga format kompetisi bisa berkembang.
“Tapi kita nanti lihat perkembangannya seperti apa, karena kita juga inginnya nanti juara dari IWL ini bisa bermain di AFC Women juga. Jadi semuanya bertahap, kita baru memulai step by step, berproses, dan mohon dukungannya dari semua pihak untuk supaya bisa mendukung dan memajukan sepak bola putri di Indonesia,” pungkas Teddy.
