Kumparan Logo

Man United Desak Pengetatan Batas Gaji & Aturan Finansial di Sepak Bola Wanita

kumparanBOLANITA

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Manchester United Women. Foto: Instagram/@manutdwomen
zoom-in-whitePerbesar
Manchester United Women. Foto: Instagram/@manutdwomen

Kepala Perencanaan Grup Manchester United, Francesca Whitfield, menyerukan aturan batas gaji pemain dan finansial yang lebih ketat di sepak bola wanita. Hal tersebut dimaksudkan untuk memangkas kesenjangan antara klub besar dan klub kecil agar tak semakin lebar, sehingga meningkatkan kompetisi antartim.

Whitfield mengungkap jika hingga saat ini belum ada peraturan finansial yang holistik di Women Super League. Aturan finansial yang cukup lengkap baru diterapkan di kompetisi pria saja. Sementara, kemampuan finansial tim wanita biasanya tergabung dengan tim prianya. Ini menimbulkan celah yang, menurut Whitfield, bisa dimanfaatkan oleh beberapa kalangan.

Dengan ketiadaan peraturan finansial yang jelas, Whitfield khawatir bahwa klub besar bisa menggelembungkan harga transfer pemain karena mendapat asupan dana dari tim pria. Hal itu tentunya akan menciptakan kesenjangan yang cukup lebar antara tim besar dan tim kecil yang tak memiliki sumber daya keuangan kuat.

"Saya pikir kita harus mengadopsi peraturan keuangan jauh lebih awal dalam sepak bola wanita daripada yang kita lakukan dalam sepak bola pria untuk menghentikan pelebaran kesenjangan itu," tutur Whitfield dalam konferensi sepak bola wanita pertama yang diadakan oleh Asosiasi Klub Eropa (ECA), dikutip dari The Guardian.

"Saat ini di WSL kami memiliki sistem batas gaji yang merupakan 40% dari pendapatan. Tetapi itu termasuk pendapatan klub induk, yang berarti klub yang lebih besar secara alami mendapat keuntungan yang lebih besar dari tim pria dan itu akan menciptakan kesenjangan yang lebar," sambungnya.

Adapun aturan mengenai financial fair play (FFP) UEFA diperkenalkan pada tahun 2009 silam ketika Badan Pengelola Keuangan menemukan bahwa separuh klub di Eropa mengalami kerugian finansial dan 20% di antaranya berada dalam bahaya finansial.

Aturan tersebut memberi batas bagi tim pria di Eropa mengalami kerugian maksimal 60 juta euro selama periode tiga tahun. Tim juga berkomitmen untuk membatasi pengeluaran gaji, transfer, dan biaya agen hingga 70% dari total pendapatan pada tahun 2025-2026.

Akan tetapi, belakangan diakui bahwa akan sulit bagi klub untuk mencapai target tersebut. Akhirnya, disepakatilah implementasi bertahap, dengan persentase ditetapkan sebesar 90% pendapatan pada 2023/24, 80% pada 2024/25, dan 70% pada 2025/26. Sementara itu, aturan terpisah di Liga Inggris mengizinkan total kerugian sebesar 105 juta pounds selama periode tiga tahun.

"Masalah ini bukan hanya harus diselesaikan di dalam negeri, ini juga harus ditangani di tingkat Eropa untuk memastikan bahwa turnamen Eropa adalah yang terbaik dan berada di garis depan," ucap Whitfield.

“Kami memang tidak bisa begitu saja meniru atau mereplikasi apa yang kami lakukan di sepak bola pria. Permainan berada di ruang yang berbeda. Kami memang perlu memastikan bahwa kami dapat berinvestasi, tetapi kami juga sama perlunya menarik investor. Klub yang lebih kecil tidak dapat berinvestasi pada level yang sama," lanjutnya.

Pemain Manchester United Alessia Russo saat pertandingan sepak bola final Piala FA Wanita Inggris antara Chelsea dan Manchester United di Stadion Wembley di London pada 14 Mei 2023. Foto: Ben Stansall/AFP

Lebih lanjut, Whitfield mengungkap jika dirinya kerap frustrasi karena Manchester United harus menghabiskan cukup banyak uang agar tak tertinggal dari tim-tim rivalnya di Liga Inggris.

"Bagi kami, kami tahu mengapa kami perlu berinvestasi. Itulah tingkat investasi yang tepat dan kami mencerminkannya dengan ambisi kinerja kami. Sekarang kami berada dalam posisi di mana kami perlu membelanjakan cukup uang untuk mengimbangi rival kami," kata Whitfield.

"Sebentar lagi salah satu dari mereka (tim rival) akan menghabiskan lebih banyak uang bahkan siap memecahkan rekor transfer. Mau tidak mau kita harus mengikutinya. Dan di situlah pertanyaannya, apakah itu tepat? Karena pada saat itu biaya untuk menggaji pemain dan biaya transfer akan melebihi pendapatan tim," pungkasnya.

Pernyataan itu muncul usai Man United ditinggal oleh striker andalannya, Alessia Russo. Penggawa Timnas Wanita Inggris itu dikabarkan mendapatkan tawaran gaji yang cukup tinggi dari Arsenal. Hal itulah yang membuat United frustrasi sehingga gagal menemui kata sepakat saat hendak memperpanjang kontrak Russo.

instagram embed