Mengapa Pelatih Sepak Bola Wanita Masih Sangat Sedikit?
ยทwaktu baca 3 menit

Ingar bingar Piala Dunia Wanita 2023 kini tengah dijumpai di berbagai penjuru dunia. Sepak bola wanita tengah berpesta merayakan turnamen terbesarnya di Australia & Selandia Baru.
Sejumlah rekor juga tercipta. Ini adalah kali pertama Piala Dunia Wanita digelar di dua negara. Lalu, edisi ke-9 ini juga untuk pertama kalinya diikuti oleh 32 negara.
Namun, ada satu fakta ganjil di balik ingar bingar tersebut. Ternyata, hanya 12 dari 32 negara yang diarsiteki oleh pelatih wanita. Sisanya, 20 tim lain dikomandoi oleh pelatih pria.
Minimnya pelatih wanita tak hanya dijumpai di Piala Dunia. Di Liga Wanita Jerman misalnya, bahkan hanya ada satu pelatih wanita dari 12 tim yang turut serta.
Pertanyaannya adalah, mengapa pelatih wanita masih sangat sedikit hingga saat ini?
Pelatih Pria Masih Mendominasi
Mengutip tulisan Pete Holmes di The Conversation, salah satu penyebab minimnya pelatih sepak bola wanita adalah karena minimnya sosok yang bisa mereka jadikan inspirasi untuk berkarier sebagai juru taktik. Di lain sisi, banyak juga wanita yang mengurungkan niatnya untuk menjadi pelatih karena pelatih pria masih mendominasi di sepak bola wanita.
Jyoti Gosai, salah satu peneliti di Nanyang Technology University (NTU) mengungkap setidaknya ada tiga hal yang membuat pelatih wanita masih minim menurut penelitian terbaru yang dilakukannya.
Pertama, stereotip gender. Pelatih wanita kerap dipandang sebagai pelatih yang kurang kompeten. Namun, ketika pelatih wanita bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan stereotip gender -asertif dan tegas- pelatih wanita acap kali dianggap tidak feminin.
Kedua, ambang batas kompetensi yang tinggi. Pelatih wanita di berbagai olahraga elite menghadapi standar yang lebih tinggi. Akan tetapi, upah yang mereka dapat biasanya lebih rendah daripada pelatih pria.
Ketiga, kerap tak disukai. Menjadi pelatih wanita memang berat, ada kemungkinan seseorang memiliki kemampuan baik tapi tidak disenangi, atau disenangi tapi tidak memiliki kompetensi yang baik. Dua hal tersebut: kompeten dan disenangi, jarang terjadi bersamaan.
Hadapi Tantangan yang Tak Mudah
Menjadi pelatih sepak bola wanita butuh kerja ekstra keras, itu disampaikan oleh Intan Nuraini, pelatih FFF Academy. Intan mengakui jika menjadi pelatih wanita bukanlah hal yang mudah, faktor eksternal di luar lapangan kerap jadi tantangan.
"(Kesulitan) pasti ada sih, ada banget. Apalagi kalo perempuan kan sama sih, saya juga suka mengalami moody, terus ada kayak haid kan. Ya, ada naik turunlah emosionalnya, kita sebagai pelatih mungkin memahami ini, karena juga saya pernah mengalami ini saat menjadi pemain," ucap Intan saat disambangi kumparanBOLANITA, Sabtu (12/6) lalu.
Eks-pemain Timnas Wanita Indonesia periode 2013-2015 itu menyebut harus menyiapkan treatment khusus untuk melatih wanita. Sebab, menurutnya melatih wanita tak semudah pria dalam sepak bola.
"Kalo cowok kan ya bebas aja mereka mau gimana bebas aja, cuma kalo putri kadang dia kita kasih tahu, dia yang malah makin emosi, atau mood nya lagi apa gimana, apalagi kalau (cuaca) panas kaya gini kan beda-beda perempuan itu," tutupnya.
