Mengenal Lily Yohannes, Pemain Termuda dalam Sejarah Liga Champions Wanita
·waktu baca 5 menit

Lily Yohannes, pesepak bola muda asal Amerika Serikat, baru saja melakoni debutnya di Liga Champions Wanita (UWCL). Ia membela tim papan atas Belanda, Ajax, dan tampil sebagai starter di fase grup UWCL kala usianya baru menginjak 16 tahun.
Di matchday terakhir fase grup Liga Champions Wanita, Rabu (31/1), Yohannes dinobatkan sebagai MVP usai menyumbang assist untuk gol pertama Ajax kontra AS Roma. Gol tersebut dilesakkan oleh rekan setimnya, Tiny Hoekstra, pada menit ke-10.
Yohannes menggiring bola bola dengan rapi, melewati lini belakang PSG, dan berakhir di kaki Hoekstra sebelum akhirnya dieksekusi dengan sempurna oleh pemain bernomor punggung 19 tersebut.
Menjadi MVP di turnamen elite Eropa macam Liga Champions Wanita merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Yohannes. Apalagi, ia kini memecahkan rekor sebagai pemain termuda dalam sejarah kompetisi itu.
“Saya sangat bersemangat. Bermain di Liga Champions (Wanita) adalah impian saya saat masih kecil,” kata Yohannes, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (31/1).
Yohannes lahir pada 12 Juni 2007 di Springfield, Virginia, Amerika Serikat. Menonton sepak bola di televisi selalu menjadi bagian dari kehidupannya di rumah. Tak heran jika Yohannes mulai mencintai dunia 'Si Kulit Bundar' sejak usianya masih empat tahun.
“Ayah saya biasa melatih kami di ruang bawah tanah rumah kami. Dia dan aku akan bekerja sama dan melawan kedua saudara laki-laki saya,” ujar Yohannes.
Berbeda dari anak-anak kebanyakan, Yohannes tidak mencicipi olahraga lain. Sejak awal, yang dicintainya hanyalah sepak bola.
Saat baru berusia sembilan tahun, Yohannes bermain dengan tim putri yang ada di tanah kelahirannya, AS. Di samping itu, ia juga bergabung dengan tim putra U-11 dan rutin mengikuti berbagai macam turnamen.
Setahun kemudian, tepatnya pada 2017, Yohannes dan keluarga pindah ke Belanda karena pekerjaan sang ayah. Rencananya awalnya adalah, mereka akan tinggal di sana hanya untuk beberapa tahun saja. Namun, hingga kini, Yohannes dan keluarga masih menetap di sana.
Kedua orang tua Yohannes akhirnya memutuskan untuk memasukkan anak-anak mereka ke pendidikan sepak bola di Eropa. Beruntung, meski berada di lingkungan yang jauh berbeda dari tempat asalnya, Yohannes cepat beradaptasi dan berkembang.
“Saat kami pindah ke Belanda, saya bergabung dengan tim putra. Saya dianggap sebagai pemain tingkat atas bagi perempuan, jadi saya ditempatkan bersama laki-laki. Itu cukup normal di sini,” ungkap Yohannes.
“Saat berada di AS, saya hanya bermain dengan perempuan sepanjang waktu. Itulah perbedaan utamanya (di AS dan Belanda). Namun, saya beradaptasi cukup cepat,” lanjutnya.
Yang mengejutkan bagi Yohannes adalah kuatnya budaya sepak bola di 'Negeri Kincir Angin', Belanda. “Sepak bola adalah segalanya di sini. Semua orang berbicara tentang sepak bola. Semuanya.”
Beberapa bulan setelah mendarat di Eropa, Yohannes bergabung dengan sebuah tim putra bernama WV-HEDW. Tim tersebut berbasis di Amsterdam, Belanda.
Bersama WV-HEDW, Yohannes sukses menampilkan performa terbaiknya. Ia terpilih sebagai MVP dan membawa timnya jadi finalis di turnamen putra U-11.
Tak lama setelah Yohannes meraih berbagai penghargaan di setiap kompetisi yang diikutinya, Ajax meneleponnya. Pihak mereka menawarkan Yohannes untuk ikut uji coba di klubnya. Rasa senang luar biasa langsung menjalar di sekujur tubuh Yohannes.
“Ajax adalah klub besar dan saya selalu menyaksikan mereka tumbuh dewasa. Saya sangat senang dan bersemangat ketika mereka menelepon,” ungkap Yohannes.
Sebelum bergabung ke skuad utama Ajax, Yohannes terlebih dahulu bergabung dengan Talent Academy. Akademi itu mencakup pemain dari jenjang usia 10 hingga 16 tahun.
“Saya berlatih dengan tim putra tiga kali seminggu, dan bertanding pada Sabtu. Sementara di tim putri, saya berlatih seminggu sekali. Empat hari latihan dan satu hari pertandingan dalam seminggu adalah hal yang normal bagi saya,” ujar Yohannes.
Pelatih klub Ajax memantau Talent Academy dan memilih pemain yang menjanjikan untuk bergabung dengan tim cadangan mereka. Dan di usianya yang masih 15 tahun, Yohannes menjadi bagian dari pemain pilihan itu.
“Kami berlatih empat kali seminggu dengan pertandingan di akhir pekan sehingga sibuk dengan sangat cepat,” kata Yohannes.
Pada Desember 2022, Ajax berencana untuk mempromosikan Yohannes ke tim utama Ajax di musim mendatang. Keputusan itu diambil tak lepas performa baik Yohannes selama berada di tim cadangan Ajax.
Pada 30 Juni 2023, Yohannes—yang berusia 15 tahun—akhirnya menandatangani kontrak profesional dengan Ajax. Perjanjian tersebut berlaku selama tiga tahun, yakni hingga 2026.
Beruntung, ketika dirinya resmi bergabung dengan tim senior Ajax, Yohannes tak perlu beradaptasi lagi. Ia mengaku bahwa gaya bermain mereka sama seperti saat Yohannes bergabung dengan Talent Academy.
“Yang menonjol adalah bagaimana gaya bermain Ajax mengikuti gaya bermain di tim muda. Begitu saya masuk ke tim utama, saya tidak perlu mengubah semua yang telah saya pelajari,” kata Yohannes.
Apakah sulit membuat keputusan besar di usia semuda itu?
“Tidak terlalu sulit. Sejak saya masih kecil, saya selalu ingin menjadi pemain profesional,” ungkap Yohannes.
“Senang rasanya bisa bergabung ke tim utama (Ajax). Karena saya telah berlatih cukup lama bersama mereka pada musim sebelumnya. Semua orang sangat ramah dan membantu saya beradaptasi dengan baik. Sejujurnya, itu adalah penyesuaian yang bagus,” pungkasnya
Saat ini, tim senior Ajax terdiri dari 34 pemain Belanda dan Yohannes satu-satunya pemain non-Eropa di sana. Meski begitu, kebanyakan dari mereka hampir sebaya dengan Yohannes. Sebab, rata-rata usia skuad senior Ajax adalah 23,6. Tak heran jika tim tersebut menjadi yang termuda di Liga Champions Wanita.
