Padamnya Turbine Potsdam: Peraih 6 Gelar Liga Jerman Wanita Itu Terdegradasi
·waktu baca 3 menit

Secara historis, FFC Turbine Potsdam adalah salah satu tim sepak bola wanita tersukses di Jerman. Mereka punya enam gelar juara Frauen-Bundesliga atau Liga Jerman Wanita. Catatan tersebut tergolong fantastis, sebab hanya selisih satu gelar saja dengan para tim unggulan seperti VfL Wolfsburg (7) dan FFC Frankfurt (7).
Potsdam juga tak hanya sukses di Jerman. Di Eropa, mereka pernah menjuarai Liga Champions Wanita sebanyak dua kali, sama dengan catatan Barcelona dan Wolfsburg.
Namun, catatan impresif tersebut tak banyak membantu performa FFC Turbine Potsdam musim ini. Mereka terdegradasi ke divisi dua, setelah hanya berhasil memperoleh delapan poin saja dalam Liga Jerman Wanita 2022/23.
Tragis? Boleh jadi. Tapi situasi ini bukan berarti tak bisa diprediksi sama sekali.
FFC Turbine Potsdam yang Gilang-gemilang
FFC Turbine Potsdam bermarkas di Stadion Karl-Liebknecht. Stadion tersebut berlokasi di distrik Babelsberg, Potsdam. Ia didirikan pada 1971 silam dengan Bernd Schroeder sebagai pelatih pertamanya.
Masa keemasan mereka baru hadir puluhan tahun setelahnya, yaitu sejak awal 2000 hingga 2012 silam. Pada 2005 dan 2010, mereka berhasil menjadi juara di Liga Champions Wanita.
Pada periode yang sama pulalah enam gelar Liga Jerman Wanita Potsdam berhasil diraih, yaitu musim 2003/04, 2005/06, 2008/09, 2009/10, 2010/11, dan 2011/12. Prestasi tersebut membuat Potsdam menjadi tim eks Jerman Timur paling sukses sepanjang masa.
FFC Turbine Potsdam yang Pelan-Pelan Padam
Liga Jerman Wanita resmi berakhir pada 28 Mei 2023 dengan melahirkan juara baru, Bayern Muenchen. Sementara pesaing terberatnya, VfL Wolfsburg, berada di posisi kedua dengan 57 poin, hanya selisih dua poin saja dengan si pemuncak klasemen akhir.
Tragisnya, keberhasilan Muenchen itu berhasil mereka raih dengan Potsdam sebagai korbannya. Pada pertandingan terakhir liga, Muenchen mencukur habis FFC Turbine Potsdam 11-1. Saat Muenchen terbang, Potsdam tenggelam.
Akhir era Turbine Potsdam ini tentu mengecewakan bagi publik dan sepak bola Jerman. Sebab, sejak awal Liga Jerman Wanita digelar, Potsdam merupakan satu dari empat tim yang selalu bersaing di papan atas, selain VfL Wolfsburg, Eintracht Frankfurt, Bayern Munchen.
Dari daftar empat tim tadi, apakah kamu melihat perbedaan mencolok?
Tepat, beda dengan tiga tim lain, FFC Turbine Potsdam merupakan tim wanita dengan lisensi independen. Ia tidak terkait—atau berstatus tim wanita—dari sebuah tim laki-laki yang sudah punya tempat di sepak bola Jerman. Dilansir dari Her Football Hub, Potsdam memang memiliki kerja sama dengan Hertha BSC, namun kerja sama tersebut sudah diputus tahun lalu ketika Hertha ingin memiliki tim sepak bola mereka sendiri.
Indie dan Kekurangan Uang
Status independen mereka membuat Potsdam tak bisa mengandalkan siapa-siapa untuk menjadi sumber pemasukan mereka. Mereka perlu mencari sponsor sendiri. Putusnya kerja sama dengan Hertha makin menyurutkan aliran dana yang mereka terima.
Ketikdakadaan uang ini membuat Potsdam gagal berkembang. Pemain dan struktur klub mereka sudah lama tak mendapatkan investasi untuk lebih berkembang lagi. Apalagi, manajemen klub juga gagal beradaptasi dengan perkembangan sepak bola wanita yang begitu cepat. Alhasil, sponsor pun berhenti dan yang baru susah untuk diambil hati.
Selain itu, cara klub dijalankan juga terlihat ketinggalan zaman. Mereka tak punya direktur olahraga, tidak ada penasihat tim, serta memiliki fasilitas latihan yang kondisinya buruk.
Terakhir, Potsdam juga tidak bisa berkembang karena mereka tidak sepenuhnya profesional. Pemain-pemain Potsdam semuanya semi-profesional, alias mereka tetap harus bekerja di luar pekerjaannya sebagai pemain sepak bola wanita.
Gabungan semua faktor ini, disukai atau tidak, hanya akan membawa Potsdam ke jurang yang lebih dalam.
