Kumparan Logo

Profil Ayu Lidya, eks-Persis Asal Bali yang Kini Dalami Ilmu Kepelatihan

kumparanBOLANITA

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Sepak bola mungkin bukan olahraga pertama yang digeluti oleh Ayu Lidya. Tapi, sekali berkenalan dengan Si Kulit Bundar, dara asli Bali ini langsung jatuh hati padanya.

Cerita Ayu Lidya dengan pujaan hatinya memang tak mulus. Manis-pahit ia jalani. Semua dilewati asal Ayu Lidya masih bersama sepak bola.

***

Bagi penggemar sepak bola wanita Indonesia, nama Ayu Lidya mungkin sudah tak asing di telinga. Pesepak bola wanita yang berasal dari Pulau Dewata itu telah membela beberapa tim wanita.

Namun, perjalanan Ayu Lidya menggapai impiannya di sepak bola tidaklah mudah. Ia menghadapi sederet rintangan, misalnya, soal minimnya tim wanita di tanah kelahirannya. Hal itu yang membuat Ayu Lidya harus hijrah ke tempat lain.

kumparanBOLANITA tertarik untuk mengorek kisah hidup serta alasan mengapa ia rela merantau jauh dari tempat tinggalnya demi sepak bola. Simak ceritanya di artikel ini.

Ayu Lidya Agustin Meok, pesepak bola wanita asal Bali. Foto: Antika Fahira/kumparan

Besar di Pulau Dewata, Gapai Impian di Surakarta

Nama lengkapnya adalah Ayu Lidya Agustin Meok. Ia lahir di Bali pada 19 Oktober 2002.

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, olahraga pertama yang ditekuninya bukanlah sepak bola, bahkan jauh dari itu. Pemain yang akrab disapa Lidya itu awalnya aktif berlatih karate. Alasannya sederhana, layaknya anak-anak pada umumnya: disuruh orang tua.

Perkenalan Ayu Lidya dengan sepak bola baru terjadi saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya, Lidya mengaku iseng nyoba main bola, tapi setelahnya ia justru jatuh cinta dengan sepak bola.

"Awalnya, sih, aku coba-coba. Mungkin karena (ikut) ekstrakurikuler, karena kumpul sama temen-temen. Tapi, semenjak 2017 aku masuk sepak bola, itu emang nggak ada alasannya, sih. Emang aku suka aja main sepak bola," tutur pemain asli Bali itu saat ditemui kumparanBOLANITA di The Forum Sports Hub, Bintaro, Jakarta Selatan (13/12/2023).

Kecintaan Lidya pada sepak bola sempat dihadang oleh kedua orang tuanya. Tapi, Ayu Lidya tak patah arang. Alih-alih berhenti bermain, ia justru semakin giat berlatih dengan Paradise Football Angels (tim wanita di Bali).

Keseriusannya dengan sepak bola membuat Bali United kepincut. Tim besar yang bermarkas di Pulau Dewata itu pun mengontrak Ayu Lidya untuk kompetisi Liga 1 Putri 2019. Capaian itu akhirnya membuat kedua orang tua Lidya merestui anaknya bermain sepak bola.

"Waktu 2019 karena aku ikut Liga 1 (Putri) dan gabung di Bali United, mulai dari sana orang tua support aku," kata Lidya.

Pasca gelaran Liga 1 Putri, kontrak Lidya tak diperpanjang. Ia sadar betul jika terus bertahan di Bali, kariernya tak akan berkembang. Lidya pun memutuskan hijrah ke kota lain, dan Surakarta menjadi pelabuhan selanjutnya.

Di awal Maret 2021, Lidya bergabung dengan tim Putri Surakarta. Di tahun tersebut juga ia mencicipi seleksi dengan Timnas Wanita senior untuk Piala Asia Wanita 2022. Sayang, upayanya belum menemui hasil.

Bak awan cerah yang hadir setelah hujan deras, ada kabar baik lain menghampirinya usai gagal membela timnas. Ayu Lidya direkrut oleh Persis Solo yang saat itu jadi satu-satunya tim sepak bola wanita senior profesional di Indonesia.

"Kebetulan habis aku dari timnas, aku direkomendasikan sama pelatih aku untuk coba masuk ke Persis. Terus aku langsung sign kontrak pertama kali sama Persis. Aku kontrak sama persis itu dua tahun," ungkap Lidya dengan bahagia.

Ayu Lidya, pesepak bola wanita asal Bali. Foto: Karina Sari/kumparanBOLANITA

Persis Women: Rumah Kedua Ayu Lidya

Bahagia. Itu adalah kata yang diucapkan oleh Ayu Lidya selama membela Persis Women. Saat bercerita tentang Persis Women, ingatan Lidya selalu tentang hal manis.

Rasa-rasanya wajar jika Lidya merasa demikian. Pasalnya, ia bermain dengan belasan pemain berlabel timnas. Ya, bisa dibilang Persis Women adalah Real Madrid-nya sepak bola wanita Indonesia kala itu. Dream team.

Di samping itu, Lidya dan seluruh pemain mendapat fasilitas yang cukup baik. Mulai dari mess hingga staf medis yang selalu mendampingi.

"Mungkin aku kebersamaan sama temen-temen, ya. Ketika kita turnamen, walaupun sekarang belum ada liga, tapi turnamen-turnamen yang kita ikuti ketika meraih kemenangan, itu momen-momen yang paling berkesan, sih," cerita Lidya saat ditanya apa momen paling membekas dengan tim asal Solo tersebut.

Sayangnya, rumah kedua Lidya tak bertahan lama. Persis Women rubuh di paruh kedua 2023.

Ketidakjelasan kapan hadirnya Liga 1 Putri adalah penyebab utamanya. Rumah kedua Ayu Lidya hancur berkeping-keping di awal Oktober 2023. Ayu Lidya pun harus rela berpisah dengan sejumlah penghuni rumah keduanya.

"Cuma di satu sisi juga kita nggak bisa salahin tim karena liga aja kita nggak jalan. Jadi, walaupun kita dikumpulin, target kita juga nggak tau mau ke mana," ujar Lidya mencurahkan kesedihannya saat mengetahui Persis Women bubar.

Ayu Lidya Agustin Meok, pesepak bola wanita asal Bali. Foto: Antika Fahira/kumparan

Lebarkan Sayap, Dalami Ilmu Kepelatihan

Bubarnya Persis Women sempat membuat Ayu Lidya kalut. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bali.

Tapi, namanya juga sudah cinta, di rumah pun ia tak bisa lepas sepenuhnya dari sepak bola. Sesekali ia berlatih di markas Bali United untuk menjaga fisiknya agar tetap prima.

Hanya berjarak sekitar dua bulan dari dari bubarnya Persis Women, Ayu Lidya mendapat jodoh baru lainnya. Ia ditawari untuk menjadi pelatih sebuah akademi sepak bola di Jakarta.

Ayu Lidya tak menyia-nyiakan hal tersebut. Selama masih sepak bola, ia akan terus lanjut. Pemain 20 tahun itu diproyeksikan menjadi staf pelatih di tim junior Young Warrior Academy.

"Sekarang aku lagi coba buat jadi pelaith di Young Warrior. Kebetulan aku diajak sama Young Warrior untuk coba ngelatih tim (junior)," kata Lidya.

Awal Desember 2023 kemarin menjadi kali pertama ia menjadi staf pelatih sebuah tim. Rasa sulit tentu dihadapi Ayu Lidya. Ayu Lidya menyebut ada sejumlah perbedaan yang dirasakan dari pemain lalu switch jadi pelatih. Salah satunya soal cara komunikasi dengan pemain.

"Kita harus tahu cara komunikasi sama pemain. Apalagi aku coba ngelatih yang usia kecil-kecil, kan, usia 10. Jadi, mungkin harus lebih sabar, harus ngerti gimana maunya pemain gitu," ucap Ayu Lidya.

instagram embed