Riwayat Putri Priangan, Tim Sepak Bola Wanita Pertama di Indonesia
·waktu baca 5 menit

Sepak bola boleh jadi cabang olahraga paling populer di Indonesia. Meski begitu, nasib yang sama tak bisa disematkan pada sepak bola wanita. Keadaannya jauh kalah populer dibandingkan olahraga lain yang juga dimainkan oleh wanita, misalnya, bulu tangkis, basket, voli, bahkan balapan.
Sepak bola wanita memang terlambat datang di Indonesia. Berbeda dari tim sepak bola pria tanah air yang sudah ada sejak masa kolonial, tim sepak bola wanita Indonesia baru terbentuk pada 1969. Tim manakah itu?
Awal kemunculan sepak bola wanita di Indonesia terjadi di Bandung pada 5 Februari 1969 lewat lahirnya kesebelasan Putri Priangan. Wiwi Hadhi Kusdarti merupakan sosok utama di balik berdirinya tim tersebut.
Wiwi, atau kerap disapa Mace, merupakan mantan pesepak bola wanita ulung. Nama Mace mungkin asing di benak masyarakat Indonesia, namun sosok wanita yang kini berusia 84 tahun tersebut memiliki peran penting dalam dimulainya eksistensi sepak bola wanita di Indonesia.
Cerita tersebut bermula saat Mace bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Namun karena sepak bola adalah permainan tim, ia bingung karena tidak ada teman yang memiliki kegemaran serupa. Setelah berbagai pertimbangan, Mace memberanikan diri untuk melayangkan surat ke salah satu media ternama Bandung, Pikiran Rakyat.
Tujuan dibuatnya surat yang dikirimkan oleh Mace kepada media adalah mengajak para wanita di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, untuk memainkan olahraga si kulit bundar. Ia juga meminta salah satu klub di kota tersebut, Persib, untuk mewadahi sepak bola para wanita.
Redaksi jth,
Setelah membatja "PR" tgl 17 1968 tentang kemungkinan dibentuknja Kesebelasan Wanita di Indonesia, saja berpendapat, ada baiknja kalau mulai dari sekarang diadakan suatu pendaftaran chusus bagi wanita2 jang berhasrat untuk mengikuti latihan2 sepakbola.
Saja kira, tidak adanja minat dari kaum wanita Indonesia untuk bermain sepakbola, hanja karena perasaan malu, sebab di Indonesia belum ada Kesebelasan Wanita seperti diluar negeri. Tapi saja jakin, bahwa wanita2 Indonesia pun tidak kalah dengan wanita2 dari negara2 lainnja dalam tjabang olahraga ini.
Oleh sebab itu saja mengadjak kaum wanita Indonesia, terutama jg ada di Bandung ini jg berminat dalam lapangan sepakbola, untuk bersama2 membentuk kesebelasan dan berlatih, misalnja dibawah pimpinan Persib sendiri. Apalagi sekarang sudah banjak kesebelasan2 wanita dari luar negeri jang mengundang kita.
Mudah2an adjakan ini mendapat sambutan dari kawan2 sesama wanita jang berminat untuk terdjun dalam tjabang olahraga ini.
Surat tersebut kemudian dimuat di halaman Pikiran Rakyat pada 16 Januari 1969. Mace mengkliping halaman koran itu, sebuah keping sejarah atas lahirnya tim sepak bola wanita pertama di Indonesia.
“Karena aku kepengin banget jadi pemain sepak bola, main sepak bola. Bukan mendirikan dulu, jadi main sepak bola, tapi siapa temannya? Makanya aku memberanikan diri menulis surat di salah satu media ternama Kota Bandung. ‘Coba Persib mendirikanlah sepak bola wanita’,” tutur Mace dalam wawancara program acara Kabar Arena Pagi, TVOne, 24 Oktober 2017.
Surat yang ditulis Mace kemudian mendapatkan respons positif dari Haji Mahdar, pendiri tim sepak bola Putra Priangan. Persib Bandung juga memberikan respons positif. Dikutip dari Kompas, Ia kemudian mengajak temannya, Nyonya Laila dan Ibu Smith, wanita Bandung berdarah Belanda untuk membuka pendaftaran di rumah masing-masing.
Tak disangka-sangka, minat publik Bandung membludak menanggapi ajakan Mace. Maklum, tak ada syarat yang berat. Syaratnya cuma izin orang tua dan sehat jasmani-rohani. Tak ada batasan umur maupun status sudah berkeluarga atau belum.
Karena pendaftar terlalu banyak, diadakanlah seleksi. Wiwi, bersama tim pelatih Uan Hermawan dan Witarsa, menggelar seleksi terhadap puluhan perempuan. Dalam tes yang dilakukan di Stadion Siliwangi tersebut, dipilihlah 15 orang wanita.
Kompetisi Pertama Putri Priangan, Satu Orang Tewas
Kelahiran Putri Priangan memancing kemunculan tim-tim sepak bola wanita lain di Indonesia, misalnya saja Buana Putri dari Jakarta, Putri Pagilaran dari Pekalongan, hingga Sasana Bhakti dari Surabaya. Ini membuat Indonesia dilirik oleh tim-tim sepak bola wanita lain di Asia. Terbukti, di tahun yang sama, tim sepak bola wanita asal Malaysia, Penang Malaysia, berkunjung untuk bertanding melawan tim-tim Indonesia.
Pertandingan internasional sekaligus persahabatan antara Putri Priangan dan Penang Malaysia itu kemudian diselenggarakan di Stadion Danalaga, Sukabumi, pada 17 April 1969. Sayang, pertandingan yang menarik banyak minat masyarakat itu justru melahirkan sebuah tragedi.
Dikutip dari Pikiran Rakyat, saking banyaknya orang yang menyaksikan pertandingan tersebut, tembok stadion jadi roboh. Akibatnya, satu orang meninggal dunia dan 54 lainnya terluka parah.
Piala Kartini, Kompetisi Nasional Pertama Putri Priangan
Munculnya beberapa tim sepak bola wanita ini membuat federasi sepak bola Indonesia (PSSI) mengadakan kompetisi Piala Kartini. Piala Kartini digelar pertama kali pada 23-27 Mei 1981 dan diikuti Putri Priangan, Buana Putri, Putri Pagilaran, dan Sasana Bhakti.
Seluruh laga dihelat di Stadion Pluit, Jakarta Utara. Tak kalah dengan pertandingan internasional 12 tahun sebelumnya, Piala Kartini juga ternyata mengundang animo besar dari masyarakat karena merupakan kompetisi antar klub pertama Indonesia.
Pada partai final, tim sepak bola wanita pertama di Indonesia itu harus gigit jari. Putri Priangan kalah oleh tim asal Jakarta, Buana Putri, dengan satu gol tanpa balas.
Kemerosotan Tim Putri Priangan
Seperti kata pepatah, tak ada yang abadi. Begitu pula dengan tim sepak bola Putri Priangan yang kemudian mengalami kemunduran karena berbagai hal.
Mengutip berbagai sumber, tim Putri Priangan kebanyakan diisi oleh orang-orang yang sekadar ingin menyalurkan hobinya aja. Sepak bola wanita dianggap tidak bisa dijadikan profesi atau sumber mata pencaharian.
Terlebih lagi persoalan uang saku yang diperoleh para pemain. Rata-rata uang saku yang didapat adalah sekitar Rp30 ribu sekali main. Jumlah tersebut tentu kecil ketika dibandingkan dengan biaya hidup, apalagi saat kompetisi yang digelar tidak menentu.
Lain halnya jika sudah bergabung di tim nasional. Karena levelnya lebih tinggi, jumlah uang saku yang didapat pun berbeda. Jumlahnya bisa mencapai Rp900 ribu.
Uang saku kecil, kompetisi yang nyala-redup, ditambah lagi dengan stigma negatif wanita bermain sepak bola membuat eksistensi sepak bola wanita di Indonesia, termasuk Putri Priangan, pelan-pelan pudar.
