Kumparan Logo

Sederet Rahasia di Balik Dominasi Olympique Lyonnais di Sepak Bola Wanita

kumparanBOLANITA

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Olympique Lyonnais Feminine. Foto: Dok. UEFA
zoom-in-whitePerbesar
Olympique Lyonnais Feminine. Foto: Dok. UEFA

“The World’s Most Dominant Team Isn’t Who You Think”, begitu tulis Rory Smith, kepala koresponden sepak bola The New York Times 2019 lalu. Judulnya mengajak kita menebak-nebak, siapa sih yang dimaksud dengan tim sepak bola paling dominan itu?

Apakah Real Madrid yang empat kali juara Liga Champions dalam lima musim (2013-2018)? Apakah Barcelona yang menjuarai enam kompetisi dalam 365 hari? Ataukah, Manchester United, Inter Milan, atau Bayern Muenchen yang meraih treble dan menguasai Eropa?

Bukan, bukan itu. Yang Smith maksud adalah Olympique Lyonnais Feminin, tim sepak bola wanita asal Prancis. Pertanyaannya, kok bisa mereka disebut yang paling dominan?

***

Mungkin pembaca yang awam masih akan bertanya seperti itu. Namun, buat mereka yang mengikuti kabar dan perkembangan sepak bola wanita, dominasi Lyon tersebut tidak mengagetkan—meski tetap menakjubkan.

Bayangkan saja, tim ini juara liga 14 kali berturut-turut, dari 2007 sampai 2020, terhenti sekali oleh PSG pada 2021, kemudian juara lagi dua kali berturut-turut pada 2022 dan 2023. Dalam 12 musim terakhir, mereka cuma kalah empat laga liga. Dalam periode 12 tahun itu, jumlah selisih golnya mencapai 1.223 gol!

Meski baru terbentuk kurang dari dua dekade silam, tim ini sudah bisa mengumpulkan 16 titel juara Liga Prancis. Lalu, 10 trofi Copa Prancis Feminine juga mampu mereka bawa pulang dalam kurun waktu tersebut.

Ada Hegerberg dan kolega juga tak hanya berjaya di dalam negeri. Di kancah Eropa, bisa dibilang mereka adalah "Ratu"-nya. Klub berjuluk Les Fenottes itu berhasil mendaratkan 8 trofi UEFA Womens Champions League atau Liga Champions Wanita dalam satu dekade terakhir. Lantas, apa rahasia dibalik kesuksesan tersebut?

Investasi Besar-besaran

Melansir laman resmi klub, tim ini sebenarnya telah didirikan pada tahun 1970 silam dengan nama FC Lyon. Namun, pada tahun 2004 mereka berganti nama menjadi Olympique Lyonnais Feminin. Sejak saat itulah dominasi tim ini di kancah sepak bola wanita makin kentara.

Di ranah sepak bola pria, kita mungkin kerap melihat para investor yang berani jor-joran menggelontorkan pundi uang bagi tim yang dipimpinnya. Namun, Jean-Michael Aulas, Presiden Olympique Lyonnais, memilih cara yang berbeda. Pengusaha asal Prancis itu memilih berinvestasi ke tim sepak bola wanita Lyon.

Tim sepak bola wanita Olympique Lyonnais. Foto: Frederic Chambert/Panoramic via Reuters

Sejak mengambil alih Lyon Feminine pada tahun 2004, Aulas memulai langkahnya dengan memboyong sederet pemain berkelas seperti Aly Wagner, Hope Solo dan lainnya. Di samping itu, ia juga berinvestasi pada talenta muda Prancis Louisa Necib-Cadamuro.

Hasil dari investasi Aulas bisa kita lihat langsung saat ini. Selama memimpin Lyon, dirinya sudah mempersembahkan 50 gelar lebih bagi tim selama menduduki jabatan presiden klub.

Utamakan Kesetaraan Gender

Kesuksesan Lyon Feminine di kancah Eropa tak bisa dilepaskan dari prinsip kesetaraan gender yang mereka terapkan. Mengutip New York Times, tim yang bermarkas di Kota Lyon itu disebut tak pernah membedakan fasilitas tim pria dan wanita.

Lyon Feminine dilaporkan mendapatkan fasilitas yang sama persis seperti yang didapatkan oleh tim pria Lyon. Klub juga menyamakan tim pria dan wanita dalam beberapa hal, seperti menggunakan stadion yang sama, fasilitas latihan dan medis yang sama. Bahkan, transportasi yang digunakan untuk melakoni laga tandang juga disamakan dengan tim pria.

Sederet kesamaan fasilitas itulah yang membuat tim Lyon wanita berjaya saat ini. Bisa jadi, hal itulah yang tidak membuat mereka minder dari tim pria, bahkan justru lebih berprestasi.

Gaji Pemain di Atas Rata-Rata

Gaji pesepak bola wanita mungkin belum sebesar yang didapat oleh pemain pria. Akan tetapi, Lyon Feminine menetapkan standar gaji yang cukup tinggi bagi para pemainnya.

Berdasar data France 24, para pemain Olympique Lyonnais mendapatkan gaji di kisaran 5.000 hingga 10.000 euro per bulan. Artinya, pertahun mereka bisa mengantongi 60.000 sampai 120.000 euro.

Namun, di antara para pemain Lyon lainnya, Hegerberg kabarnya mendapat gaji tertinggi. Pemain asal Norwegia itu diganjar sekitar 400.000 euro per tahun atau 33.000 euro per bulan yang menjadikannya sebagai pemain perempuan dengan gaji tertinggi di Prancis menurut laporan France 24.

Beberapa penggawa lainnya seperti Amandine Henry dan Wendie Renard yang juga masuk dalam daftar pemain dengan gaji tertinggi di Lyon, masing-masing mengantongi 29.000 euro per bulan. Di lain sisi, Lyon juga disebut berani menaikkan gaji pemain hingga empat kali lipat jika punya dampak positif terhadap tim.

Fanatisme Suporter

Hingar bingar sepak bola tak bisa dilepaskan dari suporter. Mereka adalah salah satu elemen terpenting yang bisa membangkitkan semangat tim saat berlaga. Bahkan, suporter kerap kali dijuluki sebagai 'Pemain ke-12' karena punya dampak yang cukup besar atas performa tim dilapangan.

Jika kita membahas suporter, Lyon Feminine bisa dibilang punya basis pendukung terbesar di sepak bola wanita. Mereka juga membangun tradisi untuk selalu menonton Lyon saat berlaga di kandang.

Banyaknya suporter yang hadir mendukung tim wanita sama banyaknya dengan jumlah pendukung tim pria. Bahkan, pendukung yang hadir bisa lebih dari 25.000 orang dan memenuhi bangku stadion. Terlebih jika Lyon berlaga di partai penting seperti semifinal dan final Liga Champions Wanita, France 24 menyebut tiket biasanya terjual habis di laga-laga krusial itu.

Sederet rahasia itulah yang membuat Olympique Lyonnais bisa berjaya saat ini. Investasi finansial & ideologi, menaikkan gaji pemain dan menanamkan kesetaraan gender nyatanya mampu menciptakan budaya positif bagi para pemain. Tim lain tentu butuh waktu jika ingin menyamai apa yang Lyon bangun hingga saat ini.