Kumparan Logo

Suporter Wanita Akhirnya Bisa Menonton Liga Iran di Stadion

kumparanBOLANITA

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana suporter perempuan Iran saat mendukung tim sepak bola nasionalnya. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana suporter perempuan Iran saat mendukung tim sepak bola nasionalnya. Foto: AFP

Para wanita penggemar sepak bola di Iran akhirnya bisa bernapas lega. Pasalnya, suporter wanita kini diizinkan untuk menonton pertandingan liga sepak bola putra di stadion secara langsung.

Berdasar laporan DW, untuk pertama kalinya penggemar wanita diizinkan hadir di Tehran Football Derby yang mempertemukan Esteghlal vs. Perspolis. Momen itu tercipta di Stadion Azadi pada Kamis (14/12) pekan lalu.

"Untuk pertama kalinya sejak revolusi Iran 44 tahun lalu, perempuan diizinkan menghadiri Derbi Teheran," tulis laporan DW.

Menurut laporan yang sama, dialokasikan sebanyak tiga ribu kursi untuk perempuan dan anak-anak dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 1-1 tersebut. Sedangkan, kapasitas keseluruhan stadionnya di kisaran 87 ribu penonton.

Diizinkannya wanita Iran menonton sepak bola secara langsung di stadion mulai diterapkan pada musim baru Liga Iran 2023/24. Pemerintah Iran menginstruksikan kepada setiap tim agar bisa mengalokasikan sejumlah kursi bagi perempuan.

Momen ini tentu jadi satu kemajuan bagi sepak bola di Iran. Sebab, selama empat dekade terakhir pemerintah melarang anak dan perempuan untuk menonton sepak bola dan olahraga lainnya di stadion.

Meski larangan tersebut bukan berbentuk undang-undang, tapi pihak berwenang secara teratur menegakkannya. Mereka beralasan belum bisa menyediakan infrastruktur yang memadai untuk memisahkan penonton wanita dan pria.

Suasana suporter perempuan Iran saat mendukung tim sepak bola nasionalnya. Foto: Reuters

Lika-liku Perjuangan Wanita Iran Untuk Menonton Bola di Stadion

Iran mengizinkan wanita kembali ke stadion usai mendapat tekanan publik dan internasional yang sangat besar. Pada 2019 lalu, Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan menyebut bahwa situasi pelarangan tersebut tidak dapat diterima.

Desakan agar Iran kembali mengizinkan wanita kembali ke stadion muncul usai kematian Sahar Khodayari. Ia meninggal usai membakar diri di tahanan pada 2019 silam.

Khodayari dikenal dunia internasional sebagai Blue Girl karena dia mengecat rambutnya dengan warna biru seperti warna kebanggaan klub kesayangannya, Esteghlal. Itu dilakukan Khodayari sebagai bagian dari penyamaran untuk bisa masuk ke stadion.

Karena adanya larangan terhadap perempuan untuk masuk stadion, Khodayari terpaksa menyamar jadi laki-laki untuk bisa menonton sepak bola. Akan tetapi, pada akhirnya penyamaran ini diketahui aparat berwenang dan Khodayari pun dijebloskan ke tahanan. Ini yang memicunya untuk bunuh diri.

Kematian Khodayari itu membuat Iran mendapat sorotan dunia. Sejak saat itu, Iran perlahan mulai mengizinkan perempuan untuk menonton sepak bola di stadion secara langsung.

Suasana suporter perempuan Iran saat mendukung tim sepak bola nasionalnya. Foto: Reuters

Usai kecaman tersebut, akhirnya Iran mengizinkan wanita untuk pertama kalinya hadir ke stadion pada 10 Oktober 2019 saat Timnas Iran menghadapi Kamboja di Stadion Azadi. Kala itu, Iran menang dengan skor 14-0.

Saat itu, sekitar tiga ribu wanita hadir ke stadion guna menyaksikan pertandingan tersebut. Namun, mereka ditempatkan dalam sebuah sektor khusus. Sektor tersebut dibatasi oleh pagar metal yang sengaja dipasang hanya beberapa hari sebelum pertandingan melawan Kamboja digelar.

Adapun pelarangan perempuan datang ke stadion telah ditetapkan sejak lama oleh Iran. Para wanita tak bisa lagi ke stadion usai revolusi Iran pada 1979 dengan alasan resmi "melindungi perempuan dari perilaku tak senonoh laki-laki".

instagram embed