Kumparan Logo

Tidak Ada Atlet yang Ingin Kalah, Apalagi Nol Lawan Dua Belas

kumparanBOLANITA

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ekspresi sejumlah pesepak bola Timnas Indonesia Putri U-17 usai pertandingan Grup A Piala Asia Putri U-17 2024 melawan Timnas Korea Selatan Putri U-17 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali, Kamis (9/5/2024). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ekspresi sejumlah pesepak bola Timnas Indonesia Putri U-17 usai pertandingan Grup A Piala Asia Putri U-17 2024 melawan Timnas Korea Selatan Putri U-17 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali, Kamis (9/5/2024). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Tak ada atlet yang ingin kalah. Mereka berlatih setiap hari, menghindarkan diri dari godaan-godaan yang menyenangkan, memilih berkeringat ketimbang lelap di kamar yang sejuk dan bantal yang empuk. Semuanya untuk satu tujuan: tampil baik dan menang.

Maka, menghadapi kekalahan tidaklah semudah yang orang-orang biasa macam kita bayangkan. Buat kita yang berolahraga secara kasual, menang-kalah mungkin boleh terasa biasa saja. Menang bonus, kalah buat pengalaman.

Tapi bagi mereka yang tiap hari melakukan segalanya untuk menang? Kata-kata penghiburan kadang terasa dingin dan hambar.

Maka bisa dibayangkan betapa sulitnya buat pemain-pemain muda Timnas Wanita Indonesia usai mereka diluluhlantakkan Korea Selatan 0-12. Betapa skor tersebut begitu jauh, sementara upaya terasa sudah mati-matian. Pada akhirnya, diri sendiri punya batas. Pemain tak bisa berjuang sendirian, tanpa dukungan, investasi, dan perhatian yang memadai.

Yang kemudian perlu dipertanyakan adalah supporting system mereka. Apa yang PSSI sudah lakukan untuk mereka? Cukupkah persiapan yang dilakukan? Apa yang PSSI upayakan untuk menjamin pesepak bola wanita punya peluang yang setara dengan pesepak bola pria di Indonesia?

Pesepak bola Timnas Indonesia Putri U-17 Nabila Saputri (kiri) berebut bola dengan Timnas Korea Selatan Putri U-17 Beom Yeju (kanan) saat pertandingan Grup A Piala Asia Putri U-17 2024 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali (9/5/2024). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Tak ayal anak-anak kelahiran 2007-2009 itu menangis. Mungkin di titik itu cuma itu yang bisa mereka lakukan untuk menenangkan diri. Kalah 0-12, apa pun alasannya, jelas sulit diterima. Berat dan menyakitkan. Siapalah kita merasa berhak menghujat mereka?

“Tadi di ruang ganti ada beberapa pemain yang menangis, dengan mereka memiliki rasa kecewa, rasa sedih. Saya rasa itu baik,” ujar Mochi kepada wartawan, Kamis (9/5).

Pelatih mereka, Satoru Mochizuki, memilih melihatnya sebagai pertanda baik. Sedih, marah, dan kecewa adalah hal baik. Bahwa di balik karut-marutnya pengembangan sepak bola wanita yang ada, para pemain yang masih belia itu masih punya semangat yang tak mudah padam.

Padahal, mudah saja buat mereka untuk acuh tak acuh, bodo amat, dan buang peduli dengan apa yang didapat. Toh, memang mereka tak disiapkan dengan serius? Toh, PSSI juga tampaknya tak peduli-peduli amat?

“Tapi sekali lagi kita tidak ada waktu untuk meratapi kekalahan. Jadi kalah itu bukan berarti selesai. Tapi kalau menyerah, (itu) baru selesai. Jadi kita tatap ke depan pertandingan selanjutnya harus jauh lebih baik lagi,” katanya.

Tahu kenapa manusia lebih senang mengingat masa lalu ketimbang menatap masa depan? Sebab segala yang lewat memang terasa lebih mudah. Kita cuma mengingat-ingat apa yang terjadi, memberi arti kepada hal-hal yang banal, mencoba menerima segala dan melemparkan tanggung jawab ke tangan-tangan tak terlihat.

Tapi masa depan butuh upaya. Masa depan yang tak pernah pasti itu tak menerima orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Tapi siapa lagi seorang atlet, kecuali orang-orang yang berteman dengan sakit dan sulit, demi janji secuil gemerlapan di masa depan?

instagram embed