7 Prediksi Perubahan 'New Normal' Pada Restoran untuk Cegah Penyebaran Corona

Pandemi virus corona telah memberikan dampak besar pada berbagai lini, termasuk industri restoran. Bahkan, setelah pandemi ini berakhir, akan ada sebuah tren baru yang disebut sebagai 'New Normal'. Kondisi ketika aktivitas mulai pulih kembali, namun virus corona masih belum musnah.
Tentu saja, di tengah situasi yang masih rentan, berbagai restoran dan tempat makan harus mampu beradaptasi. Bukan hanya untuk mengembalikan kepercayaan para pengunjung agar berkunjung lagi ke restorannya, tapi juga memastikan supaya tak terjadi penyebaran virus yang lebih luas.
Diprediksi, akan ada beberapa hal yang berubah dalam hal pelayanan restoran saat new normal ini diterapkan. Apa saja? Berikut telah kumparan rangkum ulasan selengkapnya:
1. Kapasitas pengunjung berkurang
Restoran, kafe, dan tempat makan yang buka kembali tak bisa lagi menampung pengunjung dengan kapasitas seperti biasanya. Untuk mencegah penyebaran virus corona yang masih belum ditemukan vaksinnya, jumlah orang yang berkumpul dalam satu ruangan pun harus dibatasi.
Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Italia, atau Australia, restoran hanya diperbolehkan untuk menampung 50 persen pengunjung saja. Di Alaska, restoran bahkan hanya diperbolehkan untuk menerima pengunjung dengan kapasitas 25 persen saja.
2. Tempat duduk yang berjauhan
Selain jumlah pengunjung yang dibatasi, pengaturan tempat duduk di restoran juga tak akan sama seperti sebelumnya. Tiap-tiap meja diberi jarak, minimal sejauh satu meter.
Banyak restoran yang mengadaptasi konsep social distancing ini dan mengakalinya dengan cara menarik. Ada yang memasang plastik pembatas antara meja bar dan pelayan, atau meletakkan pembatas kaca di tiap-tiap meja.
Di Amsterdam, sebuah restoran bahkan mendesain ruangan berupa rumah kaca yang hanya diisi dengan satu buah meja saja. Lain lagi di Jerman, sebuah kafe mewajibkan para pengunjungnya untuk memakai semacam topi pool noodle supaya bisa menjaga jarak aman dengan pengunjung lainnya.
3. Kebersihan diperketat
Pelayan menggunakan masker bakal jadi pemandangan yang umum. Prosedur kebersihan akan lebih ketat, seperti pemeriksaan suhu pengunjung sebelum masuk ke dalam restoran, bahkan mungkin beberapa tempat mewajibkan para tamu untuk memakai masker.
Hand sanitizer harus selalu tersedia di tiap-tiap meja, tempat cuci tangan pun harus dilengkapi dengan sabun. Sanitasi menggunakan disinfektan akan lebih sering dilakukan, bahkan melibatkan lebih banyak pegawai untuk melakukannya.
"Bila biasanya restoran hanya menugaskan satu pelayan untuk membersihkan satu meja, mereka mungkin akan butuh dua atau tiga orang sekarang. Selain itu, akan lebih banyak pegawai yang terlibat dalam menjelaskan proses sanitasi kepada konsumen," jelas Tony Siwicki, ketua sementara untuk Manitoba Restaurant and Foods Association, seperti dikutip dari CBC News.
4. Tak ada buku menu
Buku menu menjadi salah satu benda yang paling banyak disentuh di sebuah restoran. Tim peneliti dari University of Arizona menemukan, setidaknya terdapat 185 ribu organisme bakteri dalam buku menu.
Untuk memastikan keamanan para pengunjung, bisa jadi beberapa restoran akan mengganti buku menu tersebut dengan kertas menu sekali pakai, atau memakai menu digital (e-menu).
5. Pembayaran secara cashless
Beberapa lini bisnis, termasuk restoran, sudah mulai menerapkan sistem cashless payment sejak awal merebaknya pandemi. Hal ini dilakukan untuk membatasi pertukaran virus dan bakteri melalui uang kertas selama transaksi.
Bukan tak mungkin, kalau kebijakan pembayaran secara non-tunai ini akan berlanjut sampai diberlakukannya new normal.
6. Hanya menerima reservasi
Untuk mencegah membludaknya jumlah pengunjung, bisa saja restoran-restoran mewajibkan reservasi terlebih dahulu. Reservasi ini tak hanya dapat membatasi jumlah pengunjung dan menyesuaikan dengan jam operasional saja, namun juga memotong waktu tunggu mereka.
Dengan melakukan reservasi, pengunjung tak perlu antre terlalu lama, dan bisa memastikan makanan yang mereka pesan sudah siap saat mereka tiba di restoran. Bisa jadi, ketentuan untuk makan di restoran juga akan lebih ketat.
Misalnya, hanya memperbolehkan beberapa orang yang tinggal satu rumah bersantap dalam satu meja. Kalaupun dua orang tersebut tak tinggal satu rumah, mereka masih bisa bersantap bersama --tapi tentunya, dengan diberi jarak.
Mengutip dari The Guardian, pemerintah Berlin bahkan menyarankan pihak restoran untuk mencatat kontak tiap pengunjungnya dan memantau mereka selama empat hari. Hal ini akan memudahkan pelacakan bila terjadi kasus infeksi.
7. Tak akan ada lagi appetizer gratis
Beberapa restoran biasanya menyajikan semangkuk kecil camilan untuk kita santap sembari menunggu makanan datang. Setelah new normal, mungkin kita tak akan lagi menemukan hal tersebut.
Menurut Kenyon College seperti dikutip dari First Coast News, camilan tersebut (bahkan permen sekalipun) rentan terpapar bakteri dan mikroba yang ditransmisikan melalui tangan, dan menempel pada permukaannya.
Hmm, kira-kira, apakah restoran di Indonesia nantinya akan menerapkan konsep new normal seperti prediksi di atas, ya?
