Antarasa Reimagined: Ada Mie Aceh Kepiting yang Menarik Dicoba

Saat mendengar nama Antarasa, kuliner Nusantara dengan sentuhan modern mungkin menjadi hal yang langsung terlintas, bukan? Setelah hampir empat tahun hadir di industri kuliner retail, Antarasa kini memasuki babak baru di bawah manajemen PT Karya Lintas Rasa.
Memasuki fase tersebut, restoran spesialis kuliner Nusantara ini memperkenalkan konsep baru bertajuk ANTARASA, REIMAGINED.
Inspirasi menu baru Antarasa datang dari memori masa kecil serta pengalaman Chef-Owner Antarasa, Chef Arcad Fadillah, dalam mengeksplorasi beragam cita rasa Indonesia. Lewat konsep ini, ia ingin mengolah hidangan yang sudah familiar bagi masyarakat Indonesia menjadi sesuatu yang lebih menarik tanpa membuat rasanya terasa asing.
Chef Arcad sendiri memiliki pengalaman merancang menu untuk hotel mewah hingga sejumlah restoran lifestyle premium. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bekalnya dalam mengembangkan wajah baru Antarasa.
“Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk membawa ANTARASA ke level berikutnya. Tetap casual dan nyaman, tapi experience-nya dibuat lebih refined,” ujar Chef Arcad Fadillah dalam acara Media Luncheon and New Menu Showcase of ANTARASA, beberapa hari lalu.
Melalui ANTARASA, REIMAGINED, Chef Arcad ingin menghadirkan hidangan Indonesia yang tetap dekat dengan lidah masyarakat, tetapi tampil dengan pendekatan yang lebih modern.
Bahan-bahan berkualitas dipadukan dengan resep dan inspirasi kuliner Nusantara yang sudah dikenal sejak lama. Karakter rasanya dibuat tetap kuat, mulai dari pedas, smoky, gurih, hingga segar.
Salah satu menu yang menggambarkan pendekatan tersebut adalah salmon asam limau, yang menjadi salah satu hidangan yang kumparan coba. Potongan salmon yang lembut disajikan bersama kuah asam limau dengan rasa yang segar.
Menariknya, pemilihan salmon bukan tanpa alasan. Chef Arcad ingin menonjolkan karakter asam limau dengan bahan yang sudah familiar dan relatif nyaman disantap oleh masyarakat Indonesia.
“Ini tuh mau highlight asam limonya, cuma kan ikan-ikan Indonesia tuh enggak banyak yang bisa dimakan mentah. Jadi kenapa saya main aman pilihnya di salmon. Sebenarnya tuna juga, tapi saya ngelihat orang kita kalau makan tuna enggak terlalu berani makan yang mentah. Jadi saya tetap keep salmon karena apa? Salmon tuh udah top of mind, kita makan salmon aman gitu kan ya,” jelas Chef Arcad.
Selain salmon asam limau, ada berbagai menu lain yang membawa karakter masakan Indonesia dengan interpretasi berbeda. Menu klasik seperti bakwan jagung tetap dipertahankan. Ada pula kepiting soka saus padang yang terinspirasi dari gaya Singaporean, tetapi tetap mempertahankan cita rasa saus Padang yang lebih familiar di lidah Indonesia.
Kemudian ada ayam goreng Kalasan, berupa ayam dengan rasa manis dan gurih yang dimarinasi menggunakan bumbu serta air kelapa sebelum digoreng.
Pilihan lainnya antara lain ikan gulai Minang, rahang tuna, nasi goreng sumsum dengan lidah sate, hingga andaliman ribeye. Untuk andaliman ribeye, Chef Arcad mencoba memberikan interpretasi berbeda terhadap steak dengan pepper sauce. Ia menggunakan andaliman, salah satu rempah khas Sumatera Utara yang memiliki sensasi rasa yang sekilas mengingatkan pada Sichuan pepper.
“Saya bikin sausnya lebih seperti Andaliman curry sauce,” kata Chef Arcad.
Ada pula kangkung crispy dan rawon iga yang tak kalah menarik. Rawon ini menggunakan iga wagyu dengan daging yang lembut dan juicy. Kuahnya berwarna hitam pekat dari kluwek, menghadirkan aroma khas serta rasa gurih yang semakin memperkaya hidangan.
Menu lainnya yang mencuri perhatian adalah mi aceh kepiting. Hidangan ini membawa karakter mie aceh yang kaya rempah, lengkap dengan kepiting sebagai protein utamanya.
Bagi Chef Arcad, pemilihan mi menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan tekstur yang pas. Ia menyarankan penggunaan mi kuning berukuran tebal yang tingkat kelembutannya bisa disesuaikan melalui proses perebusan.
“Mi yang tebal. Mi kuning tebal juga boleh,” jelas Chef Arcad saat menjelaskan karakter mi yang cocok digunakan untuk hidangan tersebut.
Menurutnya, mi yang digunakan tidak perlu terlalu lembut, tetapi juga tidak sekenyal pasta yang masih al dente. Tekstur yang dicari justru berada di antara keduanya, sehingga mi tetap terasa lembut saat disantap tetapi tidak kehilangan teksturnya.
Sementara untuk kepitingnya, Chef Arcad memilih menggunakan kepiting Papua. Pilihan tersebut bukan semata-mata karena ukuran atau tampilannya, melainkan karena kualitas dagingnya dinilai lebih konsisten sepanjang tahun.
“Kenapa kepiting Papua? Kualitasnya paling bagus. Sebenarnya kepiting ini adalah kepiting dari bakau, hidupnya di bakau,” ujar Chef Arcad.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kepiting cukup dipengaruhi oleh musim, termasuk perubahan air dan siklus hidupnya. Pada periode tertentu, daging kepiting bisa menjadi lebih kosong sehingga kualitasnya tidak selalu konsisten.
“Karena mereka all season ada terus. Walaupun dibawa ke sini jadi lebih mahal,” katanya.
Pilihan menu di Antarasa juga bisa disesuaikan dengan momen dan jumlah orang yang datang. Buat kamu yang datang sendiri, nasi goreng Antarasa bisa menjadi salah satu pilihan. Hidangan ini disajikan bersama sumsum sapi bakar dan sate lidah sapi sambal hijau, menciptakan perpaduan rasa gurih dan pedas. Untuk melengkapi santapan, pengunjung juga bisa mencoba sejumlah small bite seperti tahu isi kecombrang atau cendawan goreng daun kari.
Sementara itu, jika datang bersama keluarga atau dalam kelompok, menu dengan porsi sharing bisa menjadi pilihan untuk diletakkan di tengah meja dan dinikmati bersama.
Beberapa pilihannya adalah bone-in rib eye andaliman, yang memadukan daging sapi premium dengan sambal andaliman bercita rasa citrus. Ada juga lidah bakar gulai hijau, buntut maranggi bakar, hingga barramundi gulai Minang bagi pencinta hidangan laut.
“Kami ingin Antarasa memberikan kesan yang hangat dan mengundang, suasananya nyaman dan tidak terlalu formal, dengan plating makanan yang lebih berwarna dan apik,” jelas Chef Arcad Fadillah.
Bukan Sekadar Cantik, Rasa Tetap Jadi Prioritas
Dalam menyusun rangkaian menu baru ini, Chef Arcad mengaku mengikuti perkembangan kuliner Indonesia yang semakin banyak menghadirkan interpretasi modern.
Meski begitu, tampilan bukan menjadi satu-satunya fokus. Menurutnya, makanan Indonesia boleh saja dikemas dengan lebih modern dan memiliki plating yang lebih rapi, tetapi rasa tetap menjadi bagian utama yang membuat pengunjung merasa familiar.
“Saya enggak mau fokus cuma sama looks-nya saja. Kita mau balik lagi ke lidahnya,” ujar Chef Arcad.
Pendekatan tersebut juga terlihat dari suasana baru restoran. Antarasa menghadirkan interior dengan elemen kayu dan pencahayaan hangat, yang dipadukan dengan plating makanan yang lebih vibrant dan menarik.
Suasananya tetap dibuat nyaman dan tidak terlalu formal sehingga bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari makan siang bersama rekan kerja, bertemu klien bisnis, hingga makan bersama keluarga di akhir pekan. Adapun konsep baru ini akan mulai hadir untuk pengunjung pada 14 Oktober 2026
“Sebagai restoran yang dikenal dengan kuliner Nusantara, kami menyadari satu hal penting: industri F&B terus bergerak dinamis, sehingga ekspektasi tamu pun ikut berkembang,” ujar Ratna Dewi Purnamasari, Direktur Utama PT Karya Lintas Rasa.
