Barista Asal Indonesia Makin Banyak Dicari di Mancanegara

Kenikmatan dari secangkir kopi tentu tak lepas dari berbagai faktor, mulai dari kualitas biji kopi, proses roasting, dan tentunya, sang penyeduh minuman; barista. Dari hulu ke hilir, seluruh rantai elemen harus senantiasa selaras, demi menghasilkan cita rasa kopi yang luar biasa.
Kalau di bagian hulu ada petani yang berperan dalam menghasilkan beans bernilai tinggi di segi hilir, peran barista sangat menentukan apakah sajian kopi bisa memikat lidah penikmatnya.
Bukan cuma kemampuan yang mumpuni, namun seorang barista juga harus memiliki attitude dan kemampuan hospitality yang baik. Bagaimana ia bisa membuat pengunjung merasa nyaman saat berkunjung ke kedai kopi.
Pemerintah, dalam usahanya meningkatkan nilai yang dimiliki oleh barista, lantas mengeluarkan sebuah program sertifikasi.
Dalam program yang sudah dijalankan sejak tahun 2017, pemerintah mengeluarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bagi para barista, semacam guide book untuk menilai para penyeduh kopi.
Lembaga penilainya bisa dari swasta, bisa juga dari pemerintah. Nantinya, para barista yang sudah lulus sertifikasi akan disahkan oleh pemerintah.
Menurut Dr. Ir. Hj Delima Hasri Azahari Darmawan, MS selaku Ketua Dewan Pembina Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), hingga saat ini sudah ada dua sampai tiga lembaga sertifikasi. Dari satu lembaga saja, setidaknya ada sekitar 1400 barista yang sudah mendapat sertifikasi.
"Presiden Jokowi juga sempat mengungkapkan, kalau ke depannya kita diharapkan tidak hanya mengekspor kopi, tapi juga jasa (barista)," terangnya dalam acara Konferensi Pers Indonesia Coffee Event (ICE) 2020 di Ottoman's Coffee, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis (8/2).
Pentingnya kualitas barista dalam memengaruhi cita rasa kopi juga diungkapkan oleh Fannie Jong, General Manager Fine Food and Beverage PT. Sukanda Jaya. Mau sebagus apa pun kualitas biji kopinya, kalau dibuat asal-asalan, cita rasanya tak akan enak.
Sang penyeduh kopi harus mampu membuatnya dari hati.
"Kopi akan terasa nikmat, kalau dibuat dengan passion, enggak asal-asalan. Kalau enggak dibuat dari hati, semuanya akan sia-sia," imbuh Fannie.
Permintaan jasa barista asal Indonesia di mancanegara meningkat
Barista-barista andal di Indonesia kini makin menunjukkan taringnya. Jebolan-jebolan kompetisi barista bergengsi kian bertambah.
Paling baru, adalah prestasi membanggakan yang ditorehkan oleh Mikael Jasin, barista Indonesia yang menempati peringkat ke-4 dalam World Barista Championship 2019.
Hal ini membuat permintaan terkait pelatihan barista di Indonesia meningkat, dan sebagian besar datang dari mancanegara. Ada yang dari Dubai, Korea, Australia, dan negara-negara di ASEAN.
Mereka sudah melihat pelatihan yang dilakukan oleh SCAI di kompetisi tersebut, dan tertarik untuk mengikutinya. Para peserta pelatihan tersebut akan di-training oleh barista-barista Indonesia yang sudah tersertifikasi.
"Ada peningkatan demand yang cukup baik untuk kita memberikan pelatihan pada mereka. Seperti kemarin, kami baru mengadakan training di Bogor, untuk pelatihan barista dan pelatihan roasting," jelas Delima kepada kumparan.
Barista asal Indonesia pun tak cuma berkibar di negeri sendiri, tapi juga banyak dicari di mancanegara. Makin berprestasi, makin banyak yang ingin merekrutnya.
Berdasarkan keterangan dari Delima, permintaan barista Indonesia paling banyak berasal dari Timur Tengah dan Dubai. Namun, negara-negara di Asia Tenggara seperti Filipina dan Thailand, juga mulai melirik kepiawaian yang dimiliki barista Indonesia.
Semakin membuktikan, kalau barista-barista kita juga punya kemampuan dan kualitas yang tak kalah tinggi, mampu bersaing hingga ke tingkat dunia.
