Benarkah Konsumsi Pemanis Buatan Bisa Picu Rasa Lapar Berlebih?
25 September 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Benarkah Konsumsi Pemanis Buatan Bisa Picu Rasa Lapar Berlebih?
Masih banyak perbedaan pendapat mengenai pemanis buatan, apakah benar bermanfaat atau justru berbahaya dalam upaya menurunkan berat badan.kumparanFOOD

ADVERTISEMENT
Saat menjalani diet, banyak orang mulai membatasi asupan gula. Ada yang memilih berhenti total, ada juga yang mencari alternatif dengan menggantinya menggunakan pemanis buatan.
ADVERTISEMENT
Cara ini dianggap lebih aman karena bisa membantu mengurangi kalori, mendukung penurunan berat badan, sekaligus menjaga kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Salah satu jenis pemanis buatan yang sering digunakan adalah sukralosa.
Namun, penelitian terbaru dari Keck School of Medicine, University of Southern California menemukan bahwa sukralosa justru dapat meningkatkan aktivitas di hipotalamus, bagian otak yang mengatur nafsu makan dan berat badan. Artinya, otak bisa “bingung” dan membuat seseorang merasa lebih lapar meskipun sebenarnya sudah cukup makan.
"Terutama pada individu dengan obesitas, sukralosa menyebabkan aktivasi signifikan pada area otak tersebut, dan hal itu berkaitan dengan meningkatnya rasa lapar," kata Dr. Katie Page, direktur USC Diabetes and Obesity Research Institute, dikutip dari Fox News Digital, Kamis (25/9).
ADVERTISEMENT
Page yang merupakan seorang ahli endokrinologi, menjelaskan bahwa masih banyak perbedaan pendapat mengenai pemanis nonkalori, apakah benar bermanfaat atau justru berbahaya dalam upaya menurunkan berat badan.
"Dari penelitian pada hewan, kami menemukan pemanis ini memengaruhi otak. Otak menangkap sinyal rasa manis tanpa adanya nutrisi, sehingga menjadi bingung dan membuat hewan lebih lapar. Itu sebabnya kami ingin tahu apakah mekanisme yang sama juga terjadi pada manusia," jelasnya.
Page pun melakukan uji coba terhadap 75 partisipan, penelitian ini membandingkan konsumsi air putih, minuman dengan gula biasa, dan minuman dengan sukralosa. Hasilnya, sukralosa meningkatkan rasa lapar dan aktivitas di otak lebih besar dibandingkan dengan gula. Selain itu, pemanis ini tidak meningkatkan hormon yang memicu rasa kenyang.
ADVERTISEMENT
Meski penelitian ini masih bersifat jangka pendek, Page menegaskan bahwa hasilnya cukup jelas: respons otak terhadap pemanis buatan berbeda dengan respons terhadap gula maupun air.
"Saya tidak menyarankan mengganti gula tambahan dengan pemanis nonkalori," karena menurutnya pemanis buatan justru bisa memicu rasa ingin makan lebih besar dalam jangka panjang.
Menanggapi hasil riset tersebut, pihak Splenda, merek pemanis berbahan sukralosa, menyebut penelitian itu berskala kecil dengan beberapa keterbatasan. Mereka menegaskan bahwa sukralosa sudah mendapat persetujuan dari badan kesehatan internasional, termasuk FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat).
Menurut Splenda, banyak penelitian yang menunjukkan sukralosa aman digunakan dan tidak memengaruhi kadar gula darah maupun insulin.
Sementara dikutip dari laman Universitas Airlangga, dalam diskusi tentang pemanis buatan yang diangkat oleh Airlangga Forum Sekolah Pascasarjana. Dua pakar, yakni Dr. Willy Sandhika dan Dr. Waode Fifin Ervina Muslihi, memberikan pandangan mengenai gula dan pemanis buatan.
ADVERTISEMENT
Willy menjelaskan bahwa gula dan pemanis buatan sama-sama memberikan rasa manis, tetapi efeknya berbeda. Gula berkaitan dengan diabetes, sementara pemanis buatan bisa memengaruhi sistem imun. Ia menekankan bahwa pemanis buatan tidak memiliki nilai gizi dan dalam beberapa kasus bisa memicu penyakit autoimun.
Pemanis buatan hanya memberikan rasa manis tanpa kalori. Namun, sering kali yang beredar justru produk yang tidak terdaftar di BPOM, dan itulah yang berbahaya.
Sementara itu, Fifin menyoroti sulitnya mengukur kadar pemanis yang sebenarnya masuk ke tubuh. Ia juga mengingatkan bahwa pemanis buatan bisa 200 kali lebih manis daripada gula biasa, dan kadar tinggi dapat mengganggu bakteri baik di usus sehingga menimbulkan peradangan.
"Gangguan pada usus bisa berakibat pada turunnya fungsi imun, yang kemudian memicu berbagai penyakit seperti autoimun, kanker, atau diabetes," tambahnya.
ADVERTISEMENT
