Food Bite: Bakmi Jawa, Saksi Sejarah dan Simbol Gotong Royong di Jawa

26 September 2019 16:54 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
Mungkin bagi kita mi bukanlah hidangan yang istimewa. Sepiring mi, baik diolah dengan cara digoreng maupun direbus, sudah jadi semacam comfort food yang mudah ditemukan dalam berbagai kesempatan. Tak jarang ia dijuluki sebagai makanan anak indekos atau saat akhir bulan, saking terjangkau harganya.
ADVERTISEMENT
Tapi lain halnya Yogyakarta, sepiring mi dengan siraman kuah kaldu hangat justru jadi salah satu hidangan yang istimewa. Di sana, seporsi mi tersebut dikenal dengan sebutan bakmi jawa.
Bakmi godog Mas Wahyu Foto: Safira Maharani/ kumparan
"Bakmi jawa itu merajai makanan jalanan, khususnya di Yogyakarta pada malam hari," ujar Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Prof Dr. Ir Murdijati-Gardjito kepada kumparan.
Seakan jadi raja kuliner malam di Kota Budaya , bukan hal sulit untuk menemukan gerobak-gerobak penjaja bakmi jawa. Tak sedikit pula yang telah melegenda selama puluhan tahun dan jadi favorit warga lokal maupun pelancong.
Satu yang menarik dari bakmi jawa, hampir semua penjualnya menggunakan anglo, yaitu sejenis tungku dari tanah liat, sebagai alat masaknya. Aroma bawang putih pun akan menguar kuat saat mi dimasak. Memang sedap disantap sambil menikmati tenang dan syahdunya suasana Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Saksi bisu sejarah kuliner Nusantara
Bakmi Jawa Mas Wahyu Foto: Safira Maharani/ kumparan
Dilansir Journal of Ethnic Food Volume 3 yang diterbitkan 2016, jenis mi yang kini tersebar hampir di seluruh Asia sejatinya berasal dari China. Mi tertua yang pernah ditemukan berusia 4.000 tahun, tepatnya pada saat dinasti Han.
Lalu apa hubungannya mi dari China dengan bakmi jawa?
Menurut Prof. Murdijati, mi yang ada di Indonesia juga berasal dari daratan China. Awalnya mi jadi makanan pokok orang-orang di sana karena harganya yang amat terjangkau.
"Asal-usul makanan yang bentuknya sangat panjang ini sebetulnya dari China. China di utara itu mempunyai mi, dan di selatan itu makanannya adalah nasi ya beras," ungkapnya.
Saat orang Tiongkok mulai hijrah ke negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mereka pun tak lupa membawa serta mi dan menyebarkannya. Nah, di Indonesia, mi diolah dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Misalnya di Jawa, mi banyak diolah dengan bumbu-bumbu lokal meliputi bawang putih, kemiri, hingga aneka rempah aromatik.
ADVERTISEMENT
Masuk ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, mulailah dikenal istilah bakmi jawa. Pemberian nama tersebut menurut Prof. Murdijati untuk membedakannya dari sajian bakmi asli Tiongkok. "Memang beda dengan bakmi dari restoran china, restoran tionghoa. bumbunya juga berbeda, karena bakmi jawa itu menggunakan kemiri sebagai pemberi rasa gurih pada masakannya. Kemirinya bahkan digoreng terlebih dahulu,"
Mengikuti perkembangan zaman, jenis bakmi jawa pun mulai bervariasi. Ada bakmi goreng, bakmi rebus, dan bakmi nyemek. Varian terakhir ini terbilang istimewa dan khas, yaitu disajikan dengan kuah sedikit dan bertekstur kental.
Simbol budaya dan gotong royong masyarakat Jawa
Bakmi Jawa Mas Wahyu Foto: Safira Maharani/ kumparan
Mi terbilang makanan yang cukup tua di Indonesia, bahkan eksistensi mi telah menyebar sebelum Islam masuk ke tanah Jawa.
ADVERTISEMENT
"Di lingkungan masyarakat Jawa sejak agama Islam belum masuk, ini mihun sudah dikenal dan mi juga sudah dikenal. Bukti atas keadaan ini atau fakta ini adalah selamatan yang dimiliki masyarakat Jawa sebelum masuknya agama islam," ujarnya Prof. Murdijati.
Masuk ke Jawa, bakmi tak sekadar disajikan sebagai pengganjal perut. Tapi juga masuk sebagai salah satu budaya yang melekat dalam adat istiadat masyarakat Jawa.
Bakmi jadi salah satu suguhan wajib untuk acara selamatan atau upacara adat lainnya, salah satunya saat upacara kematian. Bakmi jawa biasanya disajikan sebagai bingkisan sebagai simbol ucapan terima kasih untuk orang-orang yang membantu mengurus jenazah.
Bakmi jawa juga disuguhkan bagi para tamu yang hadir setelah prosesi pemakaman. "Bukti lain bahwa mihun itu sudah menjadi budaya kita sejak lama yaitu hidangan pada saat ada orang meninggal. Itu pasti ada suguhannya yang bagi para orang yang membantu merawat jenazah, itu suguhannya ada mihun goreng," jelas Prof. Murdijati.
Bakmi godog Yogyakarta Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan
Tak sendirian, bakmi disajikan bersama tujuh jenis lauk-pauk, seperti telur, sambal goreng, hingga tahu, dan tempe. Biasanya bakmi jawa yang disajikan juga diolah kering dengan cara ditumis, atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan bakmi goreng. Proses masak yang cepat dan bisa disajikan dalam jumlah banyak jadi alasannya.
ADVERTISEMENT
Kini, bakmi jawa jadi teman makan malam yang begitu nikmat. Seporsi bakmi jawa begitu hangat dengan bumbu yang memikat. Siapa sangka kalau bakmi jawa bukan sekadar soal kelezatannya. Rupanya, ia juga menjadi saksi bisu perjalanan dan kemajuan kuliner Jawa yang penuh filosofi.