Hati-hati, Ini 5 Kebiasaan yang Menimbulkan Risiko Diabetes

Di tengah inovasi makanan yang gencar dilakukan, masalah kesehatan pun mengintip. Sederhananya, makin banyak proses yang dilakukan terhadap satu makanan, nutrisi dan manfaatnya juga kian berkurang. Lihat saja istilah junk food. Makanan ini diasosiasikan dengan ‘sampah’ karena tingginya proses pembuatan sehingga nutrisinya sudah benar-benar hilang.
Oleh karenanya sangat penting untuk mengimbanginya dengan makanan sehat dan olahraga yang cukup. Selain itu, ternyata ada pula kebiasaan yang tanpa kita sadari menimbulkan risiko diabetes.
Apa saja kebiasaan tersebut? Berikut kumparan rangkum dari berbagai jurnal dan penelitian:
1. Salah waktu makan buah
Suka makan buah? Usahakan untuk tak mengkonsumsi buah-buahan saat hendak tidur, karena dapat membuat tidur kurang nyenyak. Kandungan gula di dalamnya akan membuat energi kita meningkat dan sulit memejamkan mata.
Selain itu, tidak dianjurkan pula untuk mengkombinasikan buah-buahan dengan jenis makanan lain yang tinggi protein, karena dapat meningkatkan gula darah dan risiko penyakit diabetes.
2. Mengonsumsi karbohidrat dalam keadaan panas
Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Diabetic Association tahun 2005 membuktikan, bahwa makanan panas memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi. Ini terjadi pada kentang --sumber karbohidrat lain yang juga mirip nasi.
Ketika itu, para peneliti menemukan, kentang yang baru direbus mengandung indeks glikemik 89. Sedangkan kentang yang sudah dingin, indeks glikemiknya lebih rendah; yakni 56.
Tentu hal tersebut bisa menjadi pertimbangan bagi para penderita diabetes. Enggak heran, kalau banyak penelitian yang menyarankan, mereka untuk sebaiknya mengonsumsi nasi atau makanan lain yang sudah bersuhu ruang.
Bahkan, para peneliti di Sri Lanka menemukan, nasi yang sudah dingin lebih sedikit kandungan kalorinya. Mendinginkan nasi bisa mengurangi hingga 60 persen jumlah kalori.
3. Tidak membatasi waktu makan
Sebuah studi oleh Salk Institute dan University of California menemukan, membatasi waktu makan ternyata jadi salah satu cara efektif untuk menstabilkan gula darah bagi penderita atau mereka yang berisiko terkena diabetes. Sebaliknya, mereka yang tidak membatasi waktu makan berpotensi terpapar risiko diabetes.
Pembatasan waktu makan akan mendorong orang untuk makan lebih teratur, yang mendukung kelancaran ritme sirkadian (jam biologis tubuh) dan kesehatan mereka. Sementara itu. pola makan yang berantakan bisa mengganggu sistem tersebut, dan menyebabkan sindrom metabolik. Termasuk, peningkatan lemak perut dan kadar kolesterol di atas normal, khususnya pada penderita diabetes.
4. Kurang minum susu
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open Diabetes Research & Care menunjukkan, mengonsumsi 2 porsi susu tiap hari bisa menurunkan risiko diabetes.
Tim peneliti mempelajari mengenai asupan makanan para responden selama satu tahun dengan menggunakan kuesioner. Dalam kuisioner tersebut, tercantum beberapa produk olahan susu seperti yoghurt, keju, dan susu.
Hasilnya, ditemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi setidaknya 2 porsi olahan susu whole fat atau berkadar lemak utuh berhubungan dengan penurunan risiko sindrom metabolik sebesar 24 persen, bila dibandingkan dengan tidak mengonsumsinya sama sekali.
Sindrom metabolik ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami lima gangguan kesehatan sekaligus: tekanan darah tinggi, obesitas, tinggi kolesterol, rendahnya kolesterol baik, dan gula darah tinggi. Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena penyakit jantung dan diabetes tipe-2.
Menariknya, dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa mengonsumsi olahan susu yang rendah lemak justru tak menurunkan risiko sindrom metabolik.
5. Kurang tidur
Rata-rata, tiap orang di seluruh dunia hanya bisa tidur selama 7-9 jam per hari, bahkan kurang. Ketika kita kekurangan waktu tidur, fungsi tubuh pun ikut menurun. Mulai dari penurunan fokus dan memori, sampai koordinasi tubuh.
Bahkan, kurang tidur juga bisa memicu permasalahan kesehatan yang lebih buruk, salah satunya adalah diabetes tipe-2. Dilansir The Sleep Doctor, tidur berhubungan dengan proses metabolisme, hormon yang mengatur nafsu makan serta pola makan, serta bagaimana tubuh menggunakan gula darah dan insulin.
Sebab, tidur merupakan waktu yang penting untuk menyimpan dan memperbaiki sel tubuh, termasuk dalam menjaga sistem imun serta fungsi metabolik tubuh. Bahkan, tidur yang lelap sangat penting untuk menjaga peran tubuh dalam mengatur gula darah.
Kurangnya waktu tidur juga bisa meningkatkan risiko terkena diabetes, dengan cara mengubah hormon, menyebabkan peningkatan berat badan dan obesitas, serta perubahan dalam gaya hidup.
Jadi, apakah kamu suka melakukan kebiasaan di atas? Cobalah untuk mengubahnya supaya mengurangi paparan risiko diabetes. Yuk, sehat terus sampai menua!
