Jangan Tunggu Haus, Dokter Ungkap Tubuh Bisa Alami Dehidrasi Tanpa Disadari
·waktu baca 3 menit

Rasa haus ternyata bukan tanda awal tubuh membutuhkan cairan. Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Diana Felicia Suganda, ketika seseorang mulai merasa haus, tubuh sebenarnya sudah memasuki fase dehidrasi.
“Jangan nunggu haus baru minum, karena kalau sudah haus berarti sinyal dehidrasinya sudah penuh,” ujar dokter Diana dalam acara peluncuran produk hidrasi terbaru dari The Coca-Cola Company Indonesia yang digelar di Jakarta pada Selasa (19/5).
Ia menjelaskan, tubuh manusia terus kehilangan cairan dan elektrolit sepanjang hari, bahkan saat tidak berolahraga. Cairan dapat keluar lewat keringat, urine, hingga pernapasan. Karena itu, seseorang bisa mengalami dehidrasi ringan tanpa menyadarinya.
“Kadang kita merasa di ruangan AC, tidak berkeringat, jadi merasa aman. Padahal, tubuh tetap mengeluarkan cairan saat bernapas dan saat otak bekerja untuk konsentrasi,” katanya.
Menurutnya, aktivitas sehari-hari seperti bekerja, commuting menggunakan transportasi umum, hingga scrolling media sosial juga membuat tubuh bekerja lebih keras dan membutuhkan cairan tambahan.
Beberapa tanda tubuh mulai kekurangan cairan antara lain tubuh terasa lemas, sulit fokus, mudah blank, hingga mengalami kram otot. Kondisi itu kerap dianggap sepele karena banyak orang mengira dehidrasi hanya terjadi setelah olahraga berat.
“Kalau sudah muncul gejala seperti tidak konsentrasi, lemas, atau kram, itu sebenarnya tubuh sudah mengalami dehidrasi,” ujar dia.
Dalam cuaca panas seperti di Indonesia, kehilangan cairan disebut bisa terjadi lebih cepat. Diana menyebut seseorang yang berada di luar ruangan saat suhu mencapai 36 derajat celsius dapat mulai kehilangan cairan hanya dalam waktu sekitar 30 menit.
“Kalau outdoor saat panas terik, setengah jam saja sudah mulai drop. Jadi jangan tunggu haus,” katanya.
Selain cairan, tubuh juga membutuhkan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium, dan kalsium untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, fungsi otot, hingga konsentrasi.
Di sisi lain, tren gaya hidup aktif di Indonesia disebut semakin meningkat.
Menurut Powerade Brand & Marketing Representative, Chintamy Ruliana Dewi, masyarakat kini semakin sadar pentingnya aktivitas fisik, mulai dari olahraga intensitas tinggi hingga aktivitas ringan sehari-hari seperti berjalan kaki dan commuting.
"Di situ memang ada beberapa riset yang kita dapatkan, di mana itu menjelaskan bahwa seberapa sering sih frekuensi orang di Indonesia untuk melakukan intensitas olahraga. Ada yang dua kali seminggu, dan itu semakin sering. That's why makanya pelajaran yang kita dapatkan adalah begitu banyak masyarakat Indonesia yang benar-benar ingin meningkatkan kualitas hidupnya, yaitu dengan melakukan olahraga dan juga social active lifestyle tadi," ujarnya.
Sementara itu, aktris sekaligus sport enthusiast Fanny Ghasani, juga mengaku tantangan terbesar dalam menjalani aktivitas padat adalah menjaga energi dan fokus sepanjang hari.
“Kadang kita hadir di setiap aktivitas, tapi sebenarnya badan sudah capek banget dan nggak fokus,” ujarnya.
