kumparan
26 September 2019 15:14

Jenis-jenis Vegetarian dan Pilihan Makanan yang Bisa Dikonsumsi

Ilustrasi vegetarian
Ilustrasi vegetarian Foto: dok.shutterstock
Menjadi seorang vegetarian memang susah-gampang. Godaan makanan nikmat mulai dari ayam, daging, hingga ikan memang sulit ditolak. Tapi sebenarnya, agar tubuh tidak kaget saat hendak menjalani vegetarian, kamu bisa memulai dari tingkatan yang terendah.
ADVERTISEMENT
Pasalnya, vegetarian terdiri dari berbagai jenis yang bergantung pada makanan apa yang bisa dikonsumsi. Mulai dari yang masih toleran terhadap daging putih; seperti ayam dan ikan, sampai yang tidak makan produk hewani sama sekali.
Lalu, apa saja jenis vegetarian dan pilihan makanan yang bisa dikonsumsi? Yuk, simak penjelasannya dari ahli nutrisi dr Sylvia Irawati,M.Gizi yang kumparan hubungi Rabu (25/9) melalui sambungan telepon.
1. Flexitarian
Warung Korea Pop
Menu Samgyeob di Warung Korea Pop Foto: Mela Nurhidayati Syamsiyah/kumparan
Tingkatan paling rendah ada flexitarian atau yang juga disebut semi vegetarian. Menurut penjelasan dokter bergelar Certified Plant Based Nutrition itu, jenis ini belum bisa disebut vegetarian, namun ada saja yang menjalankannya sebagai langkah awal.
"Flexitarian itu bukan vegetarian sih. Cuma yang mengurangi makan hewani saja. Jadi, ya masih makan segala tapi makan hewaninya jarang-jarang gitu," terang dokter Sylvia.
ADVERTISEMENT
Biasanya orang yang flexitarian mengurangi makan daging merah, dan mengganti asupan protein hewaninya dengan mengonsumsi ayam atau seafood. Dengan kata lain, bukan berarti mereka yang flexitarian tak memakan daging merah sama sekali, hanya mulai membatasi untuk alasan kesehatan.
2. Pescatarian
Ilustrasi sajian salmon
Ilustrasi sajian salmon Foto: toshiko potoboda/kumparan
Selanjutnya ada pescatarian, yang dalam praktiknya hampir sama dengan flexitarian. Jenis vegetarian ini masih tergolong fleksibel karena masih boleh mengonsumsi ikan.
Mengutip dari thespruceeats.com, kata 'pescatarian' atau 'pescetarian' digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tak lagi menikmati daging hewan kecuali ikan; dengan alasan kesehatan atau sebagai batu loncatan menuju pola makan vegetarian sepenuhnya.
3. Lacto-ovo vegetarian
Ilustrasi vegetarian
Ilustrasi vegetarian Foto: dok.shutterstock
Ada lagi lacto-ovo vegetarian yang tidak memakan bahan hewani; seperti daging merah dan putih, tapi masih mengonsumsi susu serta telur.
ADVERTISEMENT
Jenis ini merupakan yang paling umum dilakukan. Dengan begitu selain masih bisa menikmati susu dan telur, makanan lain yang boleh dikonsumsi oleh lacto-ovo vegetarian; adalah buah, sayuran, serta kacang-kacangan.
4. Lacto vegetarian
Ilustrasi susu almond
Ilustrasi susu almond. Foto: Shutterstock
Tingkatan selanjutnya ada lacto vegetarian yang dalam hal ini kamu boleh makan; buah, sayuran, kacang-kacangan, dan produk susu termasuk keju serta yoghurt.
Namun, kamu dilarang untuk mengonsumsi daging merah, putih, ikan, unggas, termasuk telur.
5. Ovo vegetarian
telur mata sapi
telur mata sapi Foto: Shutterstock
Berbalik dengan lacto yang melarang telur masuk ke dalam menu dietnya, seorang ovo vegetarian malah mengonsumsi telur yang bisa didampingi buah, sayuran, dan kacang-kacangan. Akan tetapi, ia sudah tak menikmati produk susu termasuk keju dan yoghurt.
ADVERTISEMENT
Tingkatan vegetarian ini juga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang alergi terhadap susu sapi atau lactose intolerance; yang mana tubuhnya tidak mampu untuk sepenuhnya mencerna gula (laktosa) dalam produk susu.
6. Vegan
Ilustrasi Vegan
Ilustrasi Vegan Foto: Shutter Stock
Vegan tidak mengonsumsi bahan hewani, termasuk tidak menggunakan produk dan barang yang berasal dari hewan. Tingkatan ini bisa dikatakan yang expert soal vegetarian. Seorang vegan hanya memakan buah, sayuran, serta kacang-kacangan saja.
Bahkan vegan juga ada yang hanya mengonsumsi makanan mentah saja (raw vegan). Pola makan vegan mentah terdiri dari makanan vegan yang belum diolah atau dipanaskan di atas 46 derajat Celcius.
Seseorang yang mengikuti diet vegan mentah juga disebut "raw foodist." Tren makanan ini didasarkan pada keyakinan, bahwa makanan yang dimasak dengan suhu panas akan kehilangan sejumlah nutrisinya dan menjadi berbahaya bagi tubuh.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan