Kampus di Bali Ini Terima Bayaran Kuliah dengan Buah Kelapa hingga Daun Kelor

Akademi pariwisata di Bali, Venus One Tourism Academy yang berlokasi di Desa Penusuan Tegallalang, Gianyar, memberikan keringanan biaya kuliah dengan menerima pembayaran berupa buah kelapa hingga daun kelor. Program ini mulai berlaku pada Maret 2020, tepatnya semenjak pandemi COVID-19 melanda Indonesia.
Keberlangsungan hidup masyarakat Bali memang sangat bergantung terhadap sektor pariwisata. Semenjak pandemi, pariwisata Pulau Dewata turut mengalami penurunan. Hal ini membawa dampak kesulitan ekonomi bagi masyarakatnya, termasuk mereka yang masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah.
Maka itu, I Wayan Pasek Adi Putra, S. S, selaku pemilik akademi tersebut membuat program keringanan membayar biaya kuliah yang terbilang unik. Program yang muncul pada angkatan keempat tersebut memanfaatkan hasil bahan pangan, sebagai sebuah nilai tukar berharga bagi mahasiswanya.
"Setelah kita terkena pandemi COVID-19 ada anjuran pemerintah untuk work from home, stay at home, stay safe jadi kami di lembaga juga sempat mengalami kondisi vakum, tidak ada kegiatan pembelajaran. Nah, sehingga untuk mengisi kevakuman tersebut akhirnya ada ide kreatif muncul, hanya berbasis ilmu dari Google," tuturnya, saat dihubungi kumparan melalui sambungan telepon, Selasa (3/11).
Pasek melanjutkan, buah kelapa memiliki filosofi mendalam bagi kehidupan tradisional masyarakat Bali. Mulai dari ujung akar hingga daunnya, pohon kelapa mampu memberikan nilai kehidupan dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Terlebih buah kelapa sudah sejak lama diketahui menyimpan manfaat kesehatan.
Dengan begitu, mahasiswa yang mengalami kesulitan dapat membayar biaya paket kuliah dengan menjual buah kelapa kepihak kampus. Harga jual tergantung pasaran, kadang Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per butir.
Sebelumnya, mahasiswa hanya boleh mencicil biaya kuliah sebanyak tiga kali; yakni 40 persen cicilan pertama, 30 persen cicilan kedua, dan 30 persen cicilan terakhir. Kini, lantaran banyak mahasiswanya yang mengalami kesulitan ekonomi karena orang tua yang kehilangan pekerjaan di tengah pandemi, Pasek menawarkan sistem pembayaran dengan membeli buah kelapa yang dijual mahasiswa.
"Jadi mereka ada yang bawa kelapa 50 butir, kalau lebih daripada 50 butir saya jemput ke tempat mereka sambil silaturahmi. Akhirnya program ini disambut antusias oleh para mahasiswa dan keluarganya," tambah laki-laki berusia 42 tahun itu.
Pasek memanfaatkan buah kelapa yang terkumpul dari mahasiswa, dan mengolahnya menjadi virgin coconut oil (VCO); dengan nama produk Venus Coconut Oil. Rupanya, minyak kelapa tersebut memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Pasek mengatakan, di Bali VCO dapat dijual dengan harga Rp 200 ribu per satu liter. Untuk menghasilkan satu liter VCO membutuhkan sekitar 10-12 butir kelapa.
Bersama pengajar lain, pihak kampus juga memberikan edukasi tentang cara memproduksi VCO rumahan. Cukup hanya menggunakan teknologi sederhana, Pasek ingin anak muda Bali bisa kreatif, terutama saat kondisi serba sulit seperti sekarang ini.
Selain kelapa, juga menerima pembayaran berupa daun kelor dan pegagan
Seiring berjalannya program tersebut, sekitar dua bulan lalu pihak kampus juga menerima pembayaran uang kuliah dengan daun kelor dan don piduh (daun pegagan).
Daun kelor dan pegagan yang diterima adalah yang masih segar atau baru petik. Beberapa mahasiswa memang memiliki kebun moringa. Sementara daun pegagan dapat dikoleksi secara liar, karena memang merupakan tanaman gulma, namun penuh khasiat.
Bila buah kelapa dijadikan VCO, maka bersama executive Chef Venus One Tourism Academy, Pasek mencoba membuat bahan herbal tersebut menjadi bahan makanan siap olah. Untuk hasil kumpulan daun kelor yang dibeli dari mahasiswa dengan harga Rp 25 ribu per kilogram, akan diolah menjadi mi dan teh. Sedangkan daun pegagan seharga Rp 35 ribu per kilogram, menjadi obat tradisional. Harga jual tersebut juga tergantung pasar.
Dari dana menjual buah kelapa, daun kelor, dan pegagan, mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk mencicil biaya kuliah. Pasek juga tak mematok minimal jumlah barang, sehingga berapa pun bahan pangan yang dibawa mahasiswa akan dibeli pihak kampus.
Hingga saat ini, dari angkatan empat yang berjumlah 185 mahasiswa, 30 persen di antaranya tertarik membawa kelapa. Sementara sisanya, Pasek mengungkapkan ada yang membawa daun kelor atau pegagan; yang kebanyakan dibawa oleh mahasiswi.
Cara membayar biaya kuliah ini membuat Pasek memutuskan untuk menetapkan sebagai program unggulan kampus yang sudah berdiri sejak 2017 itu. Bahkan, ia dan timnya turut mengembangkan program baru berbasis rempah-rempah tradisional Bali yang memiliki fungsi pengobatan.
"Ke depannya karena kami yakin pandemi ini akan berakhir, sehingga Bali akan kembali dikunjungi oleh jutaan wisatawan asing, sehingga di kondisi seperti itu kami bisa menyediakan sebuah pilihan Bali gift yang benar-benar truly Balinese herbal medicine bersifat natural dan organik," pungkasnya.
