Kembalinya Budaya Minum Teh Tradisional di Taiwan yang Hilang karena Bubble Tea

Budaya minum teh di sebagian negara Asia seperti Jepang, Taiwan, dan China memang kerap dianggap sebagai ritual tradisional yang tidak boleh ditinggalkan; baik dalam setiap acara adat maupun hari-hari besar. Wajib hukumnya untuk selalu menyajikan teh sebagai minuman utama.
Akan tetapi, adanya inovasi atas pengolahan teh yang lebih modern pada saat ini, tampaknya sulit untuk memperkenalkan minuman tersebut sebagai bagian dari kuliner tradisional kepada generasi muda.
Pasalnya, model penyajian teh yang diubah sedemikian rupa seperti mencampurkan dengan susu ataupun menambahkan beragam topping layaknya bubble tea, membuat kekhawatiran akan budaya minum teh tradisional itu sirna.
Mengutip South China Morning Post, salah satu pengusaha teh di Taiwan bernama Franco Chang, menemukan terobosan baru mengenai cara menikmati teh yang sesuai dengan gaya hidup generasi muda di Taiwan saat ini.
Pada tahun 2016, Chang mengolah daun teh terbaru yang dinamakan Shi Jian. Hasil karyanya ini bertujuan untuk menemukan inovasi dalam bentuk tradisi. Terlebih Taiwan memproduksi daun teh secara melimpah, maka menurut Chang ada baiknya untuk memanfaatkan sumber daya alam itu, dan mengolahnya secara modern tanpa menghilangkan simbol tradisi yang ada.
Laki-laki bergelar insinyur komputer ini, membangun usaha bar teh yang menyajikan beragam jenis; salah satunya Shi Jian dengan tiga teknik menyeduh yang berbeda. Di antaranya yakni teh dingin (cold brew), tetesan es teh (drip ice tea), dan juga teh seduh di atas es (brew over ice).
Hal menarik lainnya, yang membuat pelanggan tertarik adalah, untuk menyesap teh seduhannya itu, Chang menyajikannya dalam bentuk yang cukup mewah. Yakni, menggunakan gelas kaca yang serupa ketika menyajikan minuman alkohol seperti whiskey.
Inovasinya ini disebut lebih mudah untuk mengajak generasi muda Taiwan kembali meminum teh tradisional tapi dikemas secara modern. Walau awalnya ayah Chang sempat meragukan idenya ini, karena baginya teh dingin hasil karya Chang tidak bisa menyaingi teh modern seperti milk tea juga bubble tea.
Sama seperti Chang, pemilik usaha teh Wang De Chuan Chinese Tea yakni Wang Anshang, memodifikasi penyeduhan teh oolong menjadi sparkling tea oolong, agar lebih sesuai dengan lidah masyarakat modern. Minuman teh yang dicampurkan dengan soda itu merupakan menu andalan di bar teh milik Anshang.
Beragam eksperimen teh yang diciptakan oleh Chang dan Anshang, melahirkan kembali esensi pentingnya meminum teh dengan rasa tradisional. Kini, para pengusaha teh berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas teh Taiwan agar generasi muda dapat lebih menghargai budaya tradisional yang baik dari meminum segelas teh. Secara perlahan hal ini dapat mengubah pandangan masyarakat luar Taiwan bahwa teh di sana tak hanya sekadar bubble atau milk tea.
Tentunya, kisah para pemilik bar teh dalam rangka mengembalikan budaya teh tradisional tidak berhenti di situ saja. Menurut profesor Yu Shuenn-Der dari Institut Etnologi di Academia Sinica, sebuah lembaga akademia yang meneliti akan perkembangan teh; budaya minum teh memang selalu berubah setiap zamannya. Tidak menjanjikan bahwa teh harus selalu dihidangkan di dalam rumah khusus produksi teh saja.
Bahkan kini di Taiwan, kafe-kafe yang menyediakan teh sudah menjamur. Belum lagi desainnya yang cenderung sangat modern, membuat nilai tradisional pada teh jadi sedikit berkurang. Walau Yu sedikit menyayangkan adanya perubahan itu, tapi dia berpesan agar para pemilik usaha kafe atau bir teh bisa menyediakan teh asli yang masih diambil dari sumber alami.
Hal semacam ini tentunya menjadi satu tantangan bagi Chang, ia takut orang-orang hanya akan mampir ke bir teh miliknya tanpa melihat esensi dan makna kebudayaan yang penting di balik sajiannya itu.
"Awalnya saya takut jika banyak pelanggan datang dan meluangkan waktunya di sini hanya demi minum teh saja. Saya ingin mereka juga paham sejarah pentingnya minum teh dalam budaya kita," tuturnya.
Itulah hambatan terbesar bagi Chang, bagaimana ia tidak sekadar menjual teh saja, melainkan mampu membantu untuk mendidik masyarakat Taiwan, terlebih generasi muda akan pentingnya mewariskan seni dari minum teh ini.
Reporter: Balqis Tsabita Azkiya
