Kumparan Logo

Kenapa Tiap Orang Punya Tingkat Toleransi Kepedasan yang Berbeda-beda?

kumparanFOODverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi makan makanan pedas.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makan makanan pedas. Foto: Shutterstock

Tingkat toleransi tiap orang untuk menikmati makanan pedas berbeda-beda. Ada yang gemar mencampurkan beberapa sendok sambal sampai hidangannya berubah kemerahan, ada yang cuma berani menambahkan sambal seujung kuku saja.

Bahkan, beberapa orang ada yang tak kuat makan makanan pedas sama sekali. Kira-kira, kenapa bisa begitu, ya?

Sebuah penelitian di tahun 2003 yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of California menemukan, molekul lipid --sekelompok senyawa yang berkaitan dengan asam lemak-- memainkan peran penting dalam mengendalikan sensasi terbakar.

Sensasi terbakar pada lidah diciptakan oleh senyawa capcaisin. Nah, ketika berada di dalam mulut, reseptor capcaisin (TRPV1) mengatur tingkat rasa sakit yang mengiringi makanan pedas.

Sambal, ilustrasi makanan pedas. Foto: Shutterstock

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science tersebut, menemukan bahwa molekul lipid cenderung terikat oleh reseptor. Namun, ketika capcaisin muncul, molekul lipid ini justru akan dilepaskan, menciptakan sensasi menyakitkan.

Nah, tingkat kekuatan molekul lipid terikat pada reseptor TRPV1, sehingga menentukan seberapa sensitif sel saraf terhadap rasa pedas. Bisa jadi, beberapa orang yang bisa mentolerir rasa pedas terlahir dengan reseptor TRPV1 yang lebih sedikit.

Dengan demikian, mereka akan kurang sensitif terhadap rasa pedas, atau reseptornya yang kurang sensitif dalam mencecap makanan pedas.

Dipengaruhi juga oleh kebiasaan

Ternyata, kekebalan dalam menyantap makanan pedas bukan hanya perkara gen saja. Beberapa peneliti menggaris bawahi, kalau kemampuan seseorang dalam menyantap makanan pedas juga ditentukan oleh seberapa banyak ia memakai reseptornya.

Ketika mereka makan lebih banyak makanan pedas, maka toleransi mereka terhadap sensasi terbakar itu makin tinggi.

Menurut Nadia Byrnes, post-doctoral di University of California seperti dilansir The Atlantic, ketika kita tetap berusaha menyantap lebih banyak makanan pedas, meski tingkat toleransi terhadap rasa pedas rendah, sensitivitas saraf kita dalam merasakan sakit akan berkurang.

Salah satu makanan, bakso pedas di Local Taste 'Picnic Over Tribeca', Central Park Mall, Jumat (28/9/2018). Foto: Eny Immanuella Gloria

Bila hal itu sudah terjadi, kita akan membutuhkan tingkat capcaisin yang lebih tinggi untuk bisa merasakan sensasi terbakar setelahnya. Bukan itu saja, kultur kuliner juga sedikit banyak berperan dalam menentukan kekebalan kita mencecap rasa pedas.

Orang-orang Meksiko atau India, misalnya, secara alami memiliki toleransi yang tinggi terhadap rasa pedas. Sebab, mereka telah mengonsumsi makanan pedas sejak masih kecil.

Bagaimana denganmu, 'kebal' dengan makanan pedas atau justru tak kuat merasakan sensasi terbakarnya sama sekali?

embed from external kumparan