Food & Travel
·
5 September 2019 11:32

Mengapa Makanan Pedas Menyiksa Tapi Bikin Ketagihan?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mengapa Makanan Pedas Menyiksa Tapi Bikin Ketagihan? (56731)
Ilustrasi Cabai Foto: Shutterstock/MaraZe
Kepopuleran makanan pedas di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Bahkan masyarakat Tanah Air merasa kurang lengkap, jika bersantapnya tak ditemani sambal yang pedasnya bikin keringat bercucuran.
ADVERTISEMENT
Lalu, mengapa sih, makanan pedas menyiksa, tapi malah bikin kita semakin ketagihan? Melansir dari businessinsider.sg, cabai mengandung senyawa kimia yang disebut capsaicin. Senyawa ini yang merangsang reseptor rasa sakit, atau yang disebut TRPV1 untuk mengirim sinyal ke otak.
Kemudian, sinyal tersebut diterima dengan terasanya lidah yang mulai memanas. Saat itu pula, reaksi lain; seperti berkeringat, wajah memerah, atau mata berair pun muncul. Semakin pedas dan panas, sensasi seperti rasa sakit pun semakin kuat.
Pada akhirnya memicu pelepasan endorfin yang dikenal sebagai zat kimia yang menyebabkan timbulnya rasa senang. Bahkan mengutip everydayhealth.com, para peneliti menggambarkan ini mirip dengan ketika seseorang kecanduan narkoba. Para ahli pun mengatakan, tidak ada salahnya menikmati rasa sakit seperti kepedasan tersebut.
Mengapa Makanan Pedas Menyiksa Tapi Bikin Ketagihan? (56732)
ilustrasi makan cabai. Foto: pixabay
Selain endorfin, dopamin juga ikut terangsang sehingga membuat kita merasa nikmat dan puas. Inilah yang akhirnya, membuat sebagian orang justru semakin ketagihan dengan makanan pedas, meski menyiksa serta bikin keringat mengalir deras.
ADVERTISEMENT
Meskipun makanan pedas bagi sebagian orang dianggap bikin ketagihan, namun ada juga yang justru sangat menghindari makanan jenis ini. Ini dikarenakan menurut penelitian dalam jurnal Food quality and preference tahun 2012, seseorang menyukai atau tidak menyukai makanan pedas bukan hanya karena sensitivitas individu terhadap senyawa capsaicin saja. Melainkan karena ada faktor kepribadian yang juga mempengaruhi respon terhadap sensasi yang ditimbulkan capsaicin.
Jika saat ini orang bisa memilih untuk menyukai atau tidak terhadap makanan pedas, masyarakat zaman dahulu justru tak punya pilihan. Berdasarkan jurnal berjudul Antimicrobial Functions of Spices: Why Some Like it Hot tahun 1998, masyarakat dahulu memanfaatkan cabai sebagai obat alami antibakteri dan jamur.
Dengan kata lain, masyarakat di zaman dahulu memakan cabai dan menikmati rasa pedasnya karena hendak memproteksi kesehatan dari bakteri serta jamur. Memang meski menyiksa, cabai juga bermanfaat baik bagi kesehatan tubuh, lho, asal jangan dimakan berlebihan, ya.
ADVERTISEMENT