Konsumsi Makanan Organik di Indonesia Kian Meningkat

23 Agustus 2019 19:07
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi sayuran organik. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sayuran organik. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, konsumsi makanan organik juga makin diminati.
ADVERTISEMENT
Survei Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2015 mencatat jumlah produsen pangan organik di Indonesia meningkat sekitar 56 persen dibanding tahun sebelumnya. Tentu saja, gaya hidup yang semakin sehat jadi dorongan utama pangan organik kian dicari.
Dalam diskusi bertajuk Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Organik di Indonesia yang digelar PT Arla Indofood dan Aliansi Organis Indonesia (AOI), 21/8, DR. David Wahyudi, Guru Besar Food Science and Technology, Universitas Bakrie, Indonesia dan Managing Editor Asia Pacific Journal of Sustainable Agriculture, Food & Energy, menjelaskan bahwa sejarah gerakan organik di dunia sebenarnya sudah lama.
Dalam diskusi ini, sejumlah panelis dan peserta diskusi yang terdiri dari pakar di berbagai bidang dan lini industri produk organik, yaitu pihak pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
ADVERTISEMENT
Turut hadir Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perwakilan pemerintah Denmark, pakar nutrisi masyarakat dan klinis, lembaga sertifikasi organik, organisasi konsumen, produsen produk organik, dan koperasi peternak yang akan mengembangkan peternakan organik pertama di Indonesia.
Ekonomi Indonesia kian berkembang
Diskusi bertajuk Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Organik di Indonesia yang digelar PT Arla Indofood dan Aliansi Organis Indonesia (AOI), 21/8. Foto: Dok. Arla
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi bertajuk Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Organik di Indonesia yang digelar PT Arla Indofood dan Aliansi Organis Indonesia (AOI), 21/8. Foto: Dok. Arla
Sadarkah kamu kalau ekonomi penduduk Indonesia kian meningkat. Dilansir rilis yang diterima kumparan, diperkirakan akan ada 90 juta konsumen baru yang lebih makmur di tahun 2030.
Peningkatan daya beli masyarakat dan alasan untuk hidup lebih sehat jadi pemicu makanan organik kian dinikmati. Di seluruh dunia pertumbuhan organik selalu meningkat dari tahun ke tahun; sekitar 15-20 persen. Peningkatan ini terjadi tak hanya pada generasi usia 50-an tetapi anak muda atau milenial.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2016, jumlah konsumsi makanan organik meningkat sebanyak 54 persen. Data pun menunjukan 18 persen masyarakat di Asia Tenggara bersedia membayar lebih untuk membeli produk organik.
“Golongan menengah meningkat hingga 254 juta jiwa. Tentu di taraf ekonomi ini, yang mereka cari adalah pangan organik yang berkualitas,” ungkap Apriyanto Dwi Nugroho, S.T.P., M.Sc, Kepala Bidang Keamanan Pangan Segar, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Meningkatnya peminat makanan organik juga karena kecenderungan konsumen yang semakin kritis dengan makanan yang mereka konsumsi.
“Sekarang kita berada di generasi organik 3.0 di mana konsumen menjadi lebih kritis. Organik bukan lagi kebutuhan petani saja, tetapi lebih ke konsumen. Dari motif awal farmer oriented menjadi consumer oriented. Generasi ini membuka lebar pasar organik,” jelas DR. David Wahyudi.
ADVERTISEMENT
Menurut riset yang dipaparkan dalam diskusi tersebut, alasan konsumen memilih produk organik adalah ingin hidup lebih sehat. Salah satu kelebihan produk organik dibandingkan produk non-organik, yaitu bebas pestisida dan bebas GMO.
Selain itu alasan yang mendorong konsumen beralih ke produk organik adalah isu lingkungan dan kesejahteraan hewan.
Nah, apakah kamu sudah mulai beralih ke makanan organik?
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020