Kumparan Logo

Makanan Cepat Saji Mengganggu Produksi Hormon? Begini Hasil Studi Terbaru

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock

Makanan cepat saji mungkin begitu lezat dan menggugah selera. Namun nyatanya, nilai gizi yang terkandung di dalamnya sangat rendah. Baru-baru ini sebuah studi menemukan bahwa makanan cepat saji atau fast food mengandung ftalat yang bisa menyebabkan masalah kesehatan hingga mengganggu proses hormonal alami.

Mengutip Ny Post, menurut The Centers for Disease Control and Prevention, ftalat atau yang disebut senyawa atau bahan kimia yang biasa ditambahkan ke plastik ditemukan begitu banyak pada makanan cepat saji. Biasanya kelompok kimia pemlastis ini dapat ditemukan pada hampir semua produk di rak-rak toko; mulai dari sabun, makanan, hingga plastik.

Sementara itu, bahan kimia tersebut berguna untuk melenturkan bahan. Ya, sebut saja plastik. Hal ini diketahui akan mengganggu aktivitas hormonal pada manusia dan hewan ketika terkena senyawa itu dalam dosis tinggi.

Ilustrasi menyimpan daging dalam plastik Foto: dok.shutterstock

Baru-baru ini seorang peneliti studi pada Journal of Exposure Science and Environmental mengatakan bahan kimia plasticizing telah tersebar luas dalam makanan cepat saji di Amerika Serikat.

"Sebuah temuan yang berarti banyak konsumen mendapatkan bahan kimia yang berpotensi tidak sehat bersama dengan makanan mereka, peraturan yang lebih kuat diperlukan untuk membantu menjaga bahan kimia berbahaya ini keluar dari pasokan makanan,” ujar Lariah Edwards, seorang peneliti postdoctoral di George Washington University dan penulis utama studi baru tersebut.

Terkandung dalam makanan cepat saji layaknya burger hingga burrito

Ilustrasi makanan cepat saji Foto: Pixabay

Selanjutnya, para peneliti yang dipimpin oleh Edwards pun melakukan pengamatan lebih lanjut pada makanan cepat saji. Mereka mengamati sebanyak 64 jenis makanan cepat saji; seperti burger keju, kentang goreng, dan burrito. Diketahui studi yang mereka lakukan kali ini melanjutkan pada studi sebelum yang diterbitkan pada tahun 2018.

Studi tersebut menemukan bahwa orang Amerika yang mengonsumsi makanan cepat saji dengan jumlah yang relatif banyak, telah ditemukan tingkat ftalat yang lebih tinggi juga pada sampel urine; dibandingkan dengan mereka yang lebih banyak mengonsumsi makanan rumahan. Selain melakukan penelitian terhadap makanan, penelitian terbaru ini juga mengumpulkan sepasang sarung tangan yang digunakan untuk menangani sajian di beberapa restoran.

Mungkin jika tingkat paparan dari bahan kimia tersebut tergolong rendah, dan tampak tidak terlalu bahaya, namun sejatinya bahan kimia itu dapat mengganggu proses hormonal alami; yang mana telah dikaitkan dengan masalah perkembangan pada anak-anak.

Lebih lanjut dalam penelitian tersebut bahkan telah membuktikan adanya peningkatan risiko asma, obesitas, dan masalah kesuburan. Namun, para peneliti belum menentukan berapa jumlah zat ini yang dikenal sebagai bahan kimia pengganggu endokrin (EDC), yang dianggap aman dalam jangka panjang.

Ilustrasi pria alami gangguan kesuburan. Foto: Shutter Stock

Dari makanan yang diuji para peneliti telah menemukan ftalat sebanyak 81 persen. dan sebanyak 89 persen plasticizer yang digunakan baru-baru ini untuk menggantikan ftalat konvensional. Para ilmuwan memperingatkan bahwa plasticizer generasi baru ini juga belum diuji dengan benar, dan hanya berfungsi untuk mengubah citra ftalat yang sekarang dicap buruk.

Selain itu, mereka juga menemukan kandungan bahan kimia plastisitas paling tinggi pada produk daging. Para peneliti mengatakan efek samping berbahaya dari ftalat dan bahan kimia serupa akan memberikan beban yang tidak semestinya pada komunitas yang lebih miskin, terutama pada restoran cepat saji.

"Penelitian tambahan perlu dilakukan untuk mengetahui, apakah orang yang tinggal di gurun makanan seperti itu, mereka beresiko lebih tinggi terkena bahan kimia berbahaya ini," penulis Ami Zota, penulis studi kedua, profesor di GWU.

Sebelumnya sebuah studi pada jurnal Environmental Pollution menemukan bahwa orang dengan kadar ftalat tertinggi dalam tubuh mereka berada pada risiko kematian yang lebih besar dari sebab apa pun. Terdapat 91.000 sampai 107.000 orang mengalami kematian dini setiap tahun pada rentang usia 55-64 tahun di AS.

Reporter: Destihara Suci Milenia