kumparan
7 Mei 2018 11:57

Menengok Aceh Culinary Festival Suguhkan Ragam Makanan Khas Lokal

Aceh Culinary Festival 2018.
Aceh Culinary Festival 2018. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Sepanjang liburan akhir pekan awal Mei 2018, masyarakat provinsi Aceh disuguhkan dengan evet Aceh Culinary Festival (ACF) yang menghadirkan ragam makanan lokal. Pagelaran yang diadakan setiap tahun itu, berlangsung di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Aceh melalui Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Aceh, menghadirkan sebanyak 120 tenant makanan khas Aceh hingga nusantara dengan 300 varian makanan terbagi dalam Zona Aceh Tradisional Market dan Zona Nusantara Delight.
Plt Kepala Disbudpar Aceh, Amiruddin dalam keterangannya menjelaskan bahwa Zona Aceh Traditional Market menyuguhkan 30 tenant dan di Zona Nusantara Delight ada 12 tenant. Warga yang berkunjung ke sana juga dapat mengunjungi 12 tenant lainnya yang menghadirkan kopi, coklat dan minuman segar, 10 tenant jajanan kekinian, serta 12 tenant asosiasi komunitas hobi dan pemerhati kuliner.
Aceh Culinary Festival 2018.
Aceh Culinary Festival 2018. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
“Karena keterbatasan kapasitas, dari 138 tenant yang mendaftar, panitia menyeleksi dan meloloskan 120 tenant untuk mengisi Aceh Culinary Festival 2018,” ujar Amirruddin, dalam keterangannya pada kumparan (kumparan.com) Minggu (6/5).
ADVERTISEMENT
Dalam festival kali ini, panitia mengusung tema “New traditional: look good, taste good” yang merupakan salah satu program unggulan dalam 100 event wisata Wonderful Indonesia yang diluncurkan Kementerian Pariwisata. Selain itu, kata Amiruddin, lebih dari 100 pelaku usaha kuliner, pengamat, serta komunitas penikmat dan hobi, ikut berpartisipasi dalam even tahunan guna melestarikan budaya kuliner Aceh.
“Mereka akan menciptakan berbagai menu inovasi yang menggabungkan cita rasa Aceh dengan berbagai unsur kuliner dunia. Sederet chef ternama ikut unjuk kebolehan inovasi dan kreasinya dalam mengolah kuliner khas Aceh menjadi sajian yang memiliki tampilan yang lebih premium, dalam balutan konsep fine dining” ujarnya.
Aceh Culinary Festival 2018.
Aceh Culinary Festival 2018. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Selain menu-menu tradisional Aceh, ACF 2018 kali ini juga memberikan perhatian khusus pada fusion food atau perkawinan cita rasa Aceh dengan berbagai jenis kuliner dari seluruh belahan dunia. Tercatat 36 tenant yang akan menawarkan inovasi menu Aceh di zona Fusion Food Market, zona dengan daya tampung terbesar di Aceh Culinary Festival tahun ini.
ADVERTISEMENT
“Di zona ini, pengunjung bisa menikmati ragam inovasi rasa seperti leughok keju, pie asoe kaya, kimbap sunti, roti canai kuah pliek u, nasi goreng, kopi, smoothie bowl pisang thok, sushi engkot tumeh, klapertart boh nipah, tumeh keumamah, dan bermacam kelezatan lainnya,” ujarnya.
Kemeriahan ACF 2018 juga dibalut dengan ragam kegiatan lain dan aneka lomba. Di antaranya Workshop food stylist, food photography, dan food preneur yang menghadirkan pakar dan praktisi yang ahli di bidangnya. Workshop itu digelar secara gratis bagi pengunjung yang mendaftar. Juga tidak ketinggalan penampilan berbagai pertunjukan seni budaya Aceh.
Aceh Culinary Festival 2018.
Aceh Culinary Festival 2018. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf saat berkunjung ke lokasi festival mengatakan bahwa ajang festival kuliner tersebut tidak hanya dijadikan ajang untuk menampilkan ragam masakan khas namun juga sebagai upaya melestarikan budaya Aceh.
ADVERTISEMENT
"Kuliner tidak semata berkaitan dengan pangan, tapi juga bagian dari tradisi lokal yang perlu dilestarikan," kata Irwandi
Irwandi berharap kuliner Aceh bisa bertahan sebagai penganan khas tuan rumah yang bisa menandingi ragam kuliner asing yang banyak tersebar di Aceh. Katanya, kuliner merupakan salah satu usaha kreatif yang memberikan dampak perekonomian tinggi bagi masyarakat. Kuliner juga menjadi salah satu daya tarik mengundang wisatawan.
“Kekayaan kuliner lokal ikut memberi inspirasi bagi para pengusaha untuk mengembangkannya di berbagai daerah. Misal saja mie Aceh dan kopi Gayo. Keduanya banyak diperdagangkan hingga ke berbagai pelosok tanah air. Saya yakin kedua menu ini nantinya akan menjadi salah satu menu andalan di berbagai restoran mewah di tanah air."
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Irwandi juga menyebutkan bahwa khusus varian kopi Gayo menjadi top premium di Indonesia. Tingginya permintaan pasar bahkan membuat produsen kopi kesulitan memenuhi permintaan pembeli.
"Sambutannya luar biasa dari semua negara yang pernah kami singgahi. Cuma saya berharap bukan hanya kopi dan mie, kuliner lain pun bisa mendunia,” pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan